Seksi Katekese Goes to Semarang dan Yogya

0
558
Taman Doa Gua Maria Kerep, Ambarawa [Foto : Matheus Hp.]

SEKSI Katekese Paroki Sathora menyelenggarakan ziarek bertema “Kerahiman Allah Memampukan Kita Melayani dengan Sukacita”. Ziarek dimulai pada Jumat, 9 Desember 2016. Bus berkapasitas 50 orang sudah terparkir di area Permata Buana sejak sore hari.

Sekitar pukul 19.30, rombongan berangkat menuju Semarang. Emi, Seksi Liturgi Ziarek, mengawali dengan doa memohon keselamatan, dilanjutkan dengan ibadat malam.

 

Gua Maria Weleri

Berdoa pribadi di depan Gua Maria Ratu, Besokor – [Foto : Matheus Hp.]
Menjelang pukul 06.00, bus tiba di Weleri. Selesai berdoa Angelus di dalam bus, peserta memasuki kawasan gua Maria yang diresmikan pada 29 Juni 2003 oleh Uskup Agung Semarang, Mgr. Ign. Suharyo Pr dan Bupati Kendal, Hendy Boedoro.

Di depan gua tersedia deretan tempat duduk bagi para peziarah. Ada pula jalur Jalan Salib, meja altar untuk Misa di sisi kanan dan kiri gua dengan kapasitas yang berbeda-beda.

Ada peserta ziarek yang memulai dengan doa pribadi, mencuci muka di air pancuran atau melakukan renungan pribadi di sekitar gua. Beberapa saung yang tersedia di area gua dapat digunakan untuk istirahat maupun merenung. Pohon-pohon yang tumbuh dengan baik membuat udara pagi makin terasa sejuk.

Selesai berdoa pribadi, seluruh peserta berdoa rosario bersama, dipimpin oleh Sabinus Suardi.

 

Gereja St. Yusup Gedangan

Gereja St Yusuf tampak luar – [Foto : Matheus Hp.]
Perjalanan dilanjutkan menuju Gereja St. Yusup Gedangan yang terletak di Jl. Ronggowarsito No. 11 Semarang. Gereja ini merupakan gereja Katolik pertama di kota Semarang, sekaligus stasi pertama di Nusantara. Di sini para peserta berdoa secara pribadi, baik di dalam gereja maupun di gua Maria yang terletak di sisi belakang.

Arsitektur gereja, yang diberkati oleh Mgr. J. Lijnen pada 12 Desember 1875 ini, khas Eropa. Setiap sudut mengundang kekaguman, termasuk bagian altar. Di halaman, pohon Tenggrulun (Protium Javanicum) dibiarkan hidup hingga kini.

 

Gua Maria Talang Ing Sih

Gua Maria Talanging Sih – [Foto : Matheus Hp]
Gua Maria ini terletak persis di samping Kapel Kristus Raja, dalam wilayah Paroki Atmodirono. Untuk mencapainya, peserta harus berjalan kaki sekitar 10-15 menit setelah turun dari bus.

Yohanes Sarjono yang setia bertugas di Gua Maria Talang Ing Sih menjelaskan bahwa tanah tempat gua Maria berdiri saat ini, dulunya milik orang Cina terkaya di daerah itu.

Selain jalur Jalan Salib, terdapat pula mata air yang disalurkan ke beberapa kran dan juga dibuat kolam, tepat di depan patung Bunda Maria. Para pengunjung dapat berdoa sambil merendam kakinya. Konon, banyak doa yang dikabulkan di tempat ini.

 

Katedral Randusari

Katedral Randusari – [Foto : Matheus Hp.]
Tujuan berikutnya adalah kawasan sekitar Kelenteng Sam Poo Kong. Di depan bangunan bekas persinggahan dan pendaratan pertama seorang Laksamana Tiongkok beragama Islam ini, para peserta berfoto bersama.

Selanjutnya, sebagian peserta menikmatinya dengan duduk santai, menonton barongsai. Ada pula yang berkeliling sambil berfoto. Selesai makan siang, peserta memasuki hotel diiringi hujan yang cukup deras. Mereka membersihkan diri dan beristirahat sejenak. Tepat pada pukul 16.30, rombongan menuju gereja Katedral.

Berbaju nuansa merah, seluruh peserta mengikuti Misa pada pukul 17.30 di gereja yang gedungnya diberkati oleh Mgr. Antonius van Vetsen, Vikaris Apostolik Batavia, pada 9 Oktober 1927.

 

Gua Maria Kerep

Foto bersama di depan patung Bunda Maria Assumpta – [Foto : Erwina]
Keesokan harinya, seusai sarapan pagi, seluruh peserta menuju Gua Maria Kerep yang terletak di Jl. Tentara Pelajar Ambarawa. Cuaca pada Minggu, 11 Desember 2016, cukup cerah. Jalanan pun relatif lancar.

Rombongan tiba di gua Maria yang sudah dipenuhi pengunjung karena bertepatan dengan jadwal Misa dan novena keempat. Akhirnya, tempat yang dipilih untuk berdoa di bawah patung Bunda Maria Assumpta, setinggi 23 meter dengan penyangga 19 meter. Sabinus Suardi kembali memimpin doa rosario.

Selesai berdoa, peserta berkeliling di area gua yang dikunjungi oleh umat dari berbagai agama. Di gua Maria yang diberkati pada 15 Agustus 1954 oleh Mgr. A. Soegijapranata SJ ini juga terdapat Taman Doa, jalur Jalan Salib, dan Ruang Adorasi.

 

Gua Maria Sendang Sono

Dinamakan demikian karena pada tahun 1945 Pemuda Katolik Indonesia berkesempatan ziarah ke Lourdes. Mereka membawa batu tempat Bunda Maria menampakkan diri. Batu tersebut kemudian ditanam di bawah kaki Bunda Maria Sendang Sono sebagai relikwi.

Di tempat peziarahan yang diresmikan oleh Romo J.B. Prennthaler SJ pada 8 Desember 1929 ini, peserta melakukan doa Jalan Salib singkat. Selanjutnya, mereka berdoa pribadi di depan gua Maria dan mengambil air yang sumbernya mengalir di antara kedua pohon sono.

Dari sumber air yang sama, Romo Van Lith membaptis 171 warga setempat, termasuk Barnabas Sarikromo, katekis pertama di Kalibawang, pada 14 Desember 1904.

 

Gereja Ganjuran

Berdoa di depan patung Hati Kudus Yesus di dalam candi – [Foto : Erwina]

Di gereja tertua di Bantul yang bergaya Jawa ini, Meitty SK memimpin doa Koronka. Setelah itu, secara pribadi ada peserta yang berdoa di Ruang Adorasi, di depan patung Hati Kudus Yesus di dalam candi atau menyiram tubuh di Kolam Siloam.

Di kompleks gereja yang didirikan oleh keluarga Schmutzer pada 16 April 1924 ini juga terdapat toko buku rohani, air yang disalurkan ke dalam beberapa kran, dan patung Bunda Maria.

Pada hari terakhir ziarek, peserta melakukan ibadat pagi di hotel, dilanjutkan dengan Fellowship. Beberapa permainan seperti tebak wajah dan mannequin challenge menambah keakraban di antara para katekis.

Selama ziarek, seluruh makanan dan snack yang dihidangkan khas daerah setempat. “Tujuannya agar peserta dapat menikmati makanan khas di daerah asalnya,” kata Agus Siswanto, Ketua Panitia Ziarek.

Tak hanya makanan, oleh-oleh pun disiapkan oleh bapak satu anak ini. Tak heran, beberapa kali beredar list pesanan oleh-oleh di dalam bus. Uniknya, hampir di sepanjang jalan, bus yang dipakai para katekis ini menarik perhatian banyak orang, terutama remaja pria. Beberapa diantaranya, rela berlari-lari untuk sekadar berfoto dengan latar belakang bus panjang yang didominasi warna gelap itu.

Anas, dari berbagai sumber

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY