Konsistensi

0
256

BELAKANGAN ini, dengan isu pilkada yang demikian gencar, rasanya hampir semua orang sibuk memberikan komentar baik yang positif maupun negatif terhadap masing-masing pasangan calon gubernur dan wakil gubernur.  Mulai dari komentar yang sangat kritis meliputi program-program yang ditawarkan oleh para paslon, sampai pada komentar tidak penting terkait gaya minum mereka.

Tiba-tiba saja semuanya menjadi ahli mengenai manusia yang merasa sah untuk menilai manusia lainnya. Pertanyaannya kemudian, apakah kita sendiri juga siap untuk dinilai oleh orang lain?

Dalam kesenian Sunda dikenal sebuah tari yang sangat terkenal yaitu Tari Topeng, di mana ekspresi tubuh sang penari dapat sangat berubah manakala ia mengenakan topeng yang berbeda. Demikian juga kita dalam kehidupan sehari-hari, kerap kita mengenakan topeng yang berbeda dalam situasi yang berbeda.  Mengenakan topeng seperti itu bukanlah hal yang buruk, ketika kita lakukan dengan penuh kesadaran dan memiliki tujuan yang jelas serta positif.  Misalnya, bila di rumah kita bisa bermanja-manja dengan pasangan  atau orang tua kita, tentunya sikap seperti ini tidak pantas untuk dibawa dalam situasi di tempat kerja.  Namun, mungkin banyak dari kita yang mengenakan topeng tanpa memahami konsekuensi di baliknya, sementara orang lain akan menuntut kita untuk bersikap dan berperilaku sesuai dengan topeng yang kita kenakan, topeng yang dikenal oleh mereka.

Bilamana kita ingin menampilkan diri sebagai pemimpin yang sederhana yang bisa membaur dengan segala kalangan, tentunya kita tidak akan segan turun tangan untuk mengerjakan hal-hal sederhana, meskipun tidak berarti kita harus turun menceburkan diri di tengah mereka yang kebanjiran hanya untuk sekadar melihat-lihat, sementara ada metode akses lain yang bisa digunakan.

 

Walk The Talk

Mengingat manusia adalah makhluk sosial yang kerap lebih tertarik kepada sekelilingnya daripada melihat ke dalam dirinya sendiri, sebagaimana kata pepatah semut di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tak tampak, maka setiap dari kita tentunya sudah harus sadar bahwa apa yang kita ucapkan dan tampilkan akan senantiasa dinilai oleh orang lain.

Konsistensi antara apa yang kita ucapkan dan apa yang kita lakukan, itulah yang sebenarnya akan meningkatkan kualitas hubungan dan rasa percaya orang lain pada diri kita. Kemampuan untuk melakukan apa yang kita katakan, pada akhirnya akan membentuk persepsi yang harmonis tentang diri kita dalam benak para observer. Dan kita harus ingat bahwa persepsi orang lain tentang diri kita itu sah adanya karena itulah yang mereka tangkap.

 

Talk The Walk

Ada kalanya memang sulit untuk menjalankan apa yang telah kita ucapkan, bilamana apa yang kita ucapkan dan tampilkan tersebut tidak benar-benar datang dari lubuk hati yang dalam, melainkan hanya sekadar untuk memenuhi tuntutan peran yang kita tampilkan melalui topeng yang dikenakan.  Untuk itu sebenarnya akan jauh lebih mudah bilamana kita hanya mengenakan topeng yang sebenarnya memang merupakan bagian dari diri kita. Akan jauh lebih mudah bagi kita untuk memenuhi komitmen, bilamana kita memang hanya berjanji dan mengatakan hal-hal yang memang akan kita jalani.

Untuk menjadi seorang pemimpin yang disegani, kita tidak harus tampil sebagai pribadi yang keras bilamana sebenarnya bukan itu karakter diri kita. Pemimpin tetap bisa tampil lemah lembut meskipun kita tetap memiliki niat yang keras untuk memastikan target yang telah kita tetapkan bisa tercapai. Kita bisa bicara dengan manis dalam mengajukan permintaan kepada anak buah kita. Anak buah pun dapat memaklumi bilamana sesekali kita juga menampilkan sisi lemah ketidakberdayaan kita. Namun, kemampuan untuk bangkit kembalilah yang akan membangkitkan rasa percaya mereka pada kapabilitas sang pemimpin.

Emilia Jakob (EXPERD)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY