Pemahaman Dasar Pujian dan Penyembahan Katolik

0
1065

APA yang terlintas dalam pikiran Saudara, saat mendengar atau membaca istilah Pujian dan Penyembahan? Sebagian orang mungkin tidak peduli terhadap istilah ini. Sebagian yang lain, mungkin akan langsung mengatakan, “Itu acara Karismatik ‘kan?”

Istilah Pujian dan Penyembahan memang bukan berasal dari khazanah perbendaharaan kata Gereja Katolik, sekalipun bila dilihat dari esensinya sebenarnya Pujian dan Penyembahan bukan “barang baru” dalam Gereja Katolik. Tidak mengherankan, bila istilah ini tidak atau kurang dikenal umat Katolik pada umumnya. Persepsi umat Katolik cenderung akan seperti apa yang dikatakan di atas, bahwa Pujian dan Penyembahan merupakan acara Kelompok Karismatik.

Sekarang ini, jumlah umat yang memandang negatif terhadap Kelompok Karismatik memang sudah jauh berkurang. Penyebab timbulnya pandangan atau persepsi negatif terhadap Kelompok Karismatik adalah adanya aktivis tertentu dari Kelompok Karismatik yang “lebay” atau terlalu berlebihan dalam praksis penghayatannya.

Penyebab lainnya adalah kurangnya pemahaman  umat mengenai Kelompok Karismatik, sehingga dapat berakibat pada kesalahpahaman atau salah menilai.

Ada tiga hal yang menonjol dalam Kelompok Karismatik yang sering dianggap bukan berasal dari Katolik dan sering pula dipermasalahkan, yaitu:

Pertama, Penyembuhan

Kedua, Bahasa Roh

Ketiga, corak ibadatnya yang ekspresif.

Ada istilah “tak kenal, maka tak sayang”. Bagaimana orang dapat menyayangi, menyukai hingga merasakan dan mengalami sesuatu yang berkesan dari apa yang dilakukan oleh Kelompok Karismatik, bila kita belum mengetahui dan mengenalnya dengan baik.

Tulisan ini tidak akan membahas mengenai dua hal pertama yang sering menjadi perdebatan, yakni Penyembuhan dan Bahasa Roh. Tulisan ini akan lebih membahas mengenai corak ibadat Kelompok Karismatik yang menonjolkan aspek Pujian dan Penyembahan. Tujuan utama tulisan ini adalah supaya umat Katolik memahami tentang Pujian dan Penyembahan yang “Katolik” dan menyadari pentingnya peran Pujian dan Penyembahan dalam kehidupannya sehari-hari. Dengan demikian, umat semakin mengenal, menghayati, mencintai, dan bahkan merindukan Pujian dan Penyembahan yang “Katolik” tersebut.

Pujian dan Penyembahan yang “Katolik” tidak hanya berarti sebuah Pujian dan Penyembahan menurut pemahaman dan penghayatan Gereja Katolik. Pujian dan Penyembahan yang “Katolik” memiliki arti dan pengertian yang lebih luas.

Banyak orang tahu dan pernah membaca kisah perjumpaan Yesus Kristus dengan wanita Samaria di sumur Yakub dalam Yoh. 4:1-24. Kisah di sumur Yakub tersebut memang berfokus pada sikap Yesus terhadap orang-orang Samaria, terutama melalui pribadi si wanita Samaria, yang menerima Yesus dan akhirnya menjadi percaya pada-Nya (Yoh. 4:39-41).

Dalam percakapan Yesus dengan wanita Samaria tersebut, ada pembicaraan mengenai praksis beribadat (Yoh. 4:20-24). Yesus menegaskan bahwa sejak saat itu, ibadat yang benar bukan lagi soal tempat dan tidak bersandar pada kebenaran yang dibuat oleh berbagai aturan manusia (Yoh. 4:21-23). Kelompok Karismatik, baik yang Katolik maupun non-Katolik, sering menggunakan istilah menyembah dalam roh dan kebenaran, yang dikutip dari perikop Yoh. 4:23-24. Tidak jarang terjadi, istilah menyembah dalam roh dan kebenaran ini dipahami secara berlebihan dan keluar dari konten yang dimaksud oleh perikop tersebut.

Kata roh di dalam istilah menyembah  dalam roh dan kebenaran, bukan Roh Kudus dan bukan pula berbicara mengenai Bahasa Roh. Mungkin saja, menyembah dalam roh dan kebenaran terkait erat dengan Roh Kudus atau dengan Bahasa Roh. Namun, tafsiran yang menghubungkan kedua hal tersebut harus dilihat dalam konteks pembicaraan Yesus dengan wanita Samaria pada waktu itu.

Berdasarkan percakapan-Nya dengan wanita Samaria tersebut, cara beribadat yang dikehendaki oleh Yesus adalah beribadat tidak lagi tergantung pada tempat tertentu, sekalipun ada tempat-tempat tertentu yang dianggap suci oleh sebagian orang (Yoh. 4:21). Beribadat yang dikehendaki Yesus adalah beribadat dengan mengenal apa atau siapa yang disembah (Yoh. 4:22).

Kisah perjumpaan Yesus dengan wanita Samaria di sumur Yakub tersebut hendak menegaskan bahwa kehadiran Yesus adalah masa yang baru. Sesuatu yang baru berbeda dengan yang lama. Suatu masa di mana umat Allah menyembah dengan cara yang baru.

Di satu sisi, menyembah dalam kebenaran berarti menyembah atau beribadat berdasarkan kebenaran yang dinyatakan oleh Yesus Kristus sendiri. Di sisi lain, menyembah dalam roh dan kebenaran memiliki arti yang sama dengan menyembah secara “Katolik”.

Kata “Katolik” yang berarti umum, memiliki pula arti yang menyeluruh. Menyeluruh searti dengan lengkap, mendalam, utuh, dan penuh. Menyembah dalam roh dan kebenaran berarti menyembah dalam keutuhan dan keselarasan. Dengan demikian, menyembah dalam roh dan kebenaran sama dengan menyembah secara “Katolik”.

Dalam Konvensi Nasional ke-37 Pembaruan dalam Roh di Italia, Paus Fransiskus menegaskan di hadapan sekitar 53.000 orang yang hadir di Stadion Olimpiade di kota Roma pada 1 Juni 2014, bahwa memuja dan memuliakan Tuhan adalah hal yang mendasar[1]. Demikian pula, dalam pertemuan dengan para anggota Persaudaraan Katolik dari Komunitas Perjanjian dan Persaudaraan Karismatik di Ruang Audiensi Paulus VI pada 31 Oktober 2014, Paus Fransiskus kembali menegaskan bahwa Pujian dan Adorasi adalah napas kekristenan[2].

Doa Pujian bukan doanya Kelompok Karismatik saja. Doa Pujian adalah doa seluruh Gereja. Seluruh Gereja dipanggil untuk memuji dan menyembah Allah. Merujuk pernyataan Paus Fransiskus, Pujian dan Penyembahan merupakan hal yang mendasar. Artinya, Pujian dan Penyembahan merupakan sesuatu yang amat penting dan paling utama.

Pujian dan Penyembahan tidak hanya menjadi jantung kehidupan bagi Pembaruan Karismatik Katolik, sebagaimana diungkapkan oleh Ron Ryan dalam bukunya Mengembangkan Kepemimpinan Persekutuan Doa Parokial, terjemahan BPK PKK KAJ, 1993,Sesi IV, no.1C, yang menjadi panduan resmi Pembaruan Karismatik Katolik di Indonesia dalam pengembangan sebuah Persekutuan Doa Karismatik Katolik. Sesungguhnya, Pujian dan Penyembahan merupakan jantung kehidupan Gereja itu sendiri.

Konstitusi tentang Liturgi, Sacrosanctum Concilium (SC), mengatakan bahwa “Gereja tidak pernah lalai mengadakan pertemuan untuk merayakan misteri Paskah, di situ mereka membaca apa yang tercantum tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci; mereka merayakan Ekaristi, yang menghadirkan kemenangan dan kejayaan-Nya atas maut dan sekaligus mengucap syukur kepada Allah atas kurnia-Nya yang tidak terkatakan dalam Kristus Yesus, untuk memuji keagungan-Nya dengan kekuatan Roh Kudus (SC no. 6)”.

Dengan demikian, SC menyatakan dengan jelas tentang pentingnya syukur dan pujian, terutama dalam Ekaristi. Sebab, ciri dasar Ekaristi adalah syukur, pujian, pengagungan, dan penyembahan.

Hendra Sumakud

[1] http://www.catholic.org/news/international/europe/story.php?id=55674

[2] https://w2.vatican.va/content/francesco/en/speeches/2014/october/documents/papa-francesco_20141031_catholic-fraternity.html

SHARE
Previous articleKonsistensi
Next articleJADWAL TRI HARI SUCI 2017

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY