Tamar dalam Silsilah Yesus

0
126

oleh Daniel Julianto

… ”Bukan aku, tetapi perempuan itulah yang benar, karena aku tidak memberikan dia kepada Syela, anakku.” Baca keseluruhan Kej 38:1-30.

DALAM Kitab Suci, silsilah Tuhan Yesus (Mat 1:1-17), ada beberapa perempuan yang ditulis namanya. Tentu dalam kebudayaan bangsa Yahudi yang bersifat patriarkal, perempuan sering kali tidak dianggap penting dalam suatu silsilah. Dengan demikian, ada alasan yang penting nama Tamar disebutkan dalam silsilah Tuhan Yesus. Ia berjuang tanpa menyerah dalam melawan ketidakadilan budaya patriarkal, untuk mendapatkan hak keturunan” dari anak-anak Yehuda (Kej 38:1-30).

Dikisahkan Yehuda, setelah menjual Yusuf, meninggalkan saudara-saudaranya. Di daerah itu, Yehuda menikah dengan Syua dan melahirkan tiga anak laki-laki; Er, Onan, dan Syela. Sebagai kepala keluarga, ia menentukan calon istri bagi anaknya. Ia mengambil Tamar sebagai istri putra sulungnya, Er. Tamar sungguh bangga dan bahagia mempunyai mertua Yehuda, anak Yakub. Di samping kekayaan, Yakub adalah pemimpin yang dihormati dan menyembah Tuhan yang kekal. Tetapi, segalanya berbeda dengan yang ia harapkan; suaminya Er tidak membuktikan sebagai laki-laki yang baik. Er jahat di mata Tuhan. Matilah dia tanpa mempunyai anak. Sebagai janda yang tidak memiliki anak, ia terikat hukum levirat. Di bawah otoritas ayah mertuanya ia harus menikah dengan Onan, adik Er, untuk meneruskan “keturunan” (Ul 25:5-6). Daripada menanggung malu jika tidak menikahi Tamar (Ul 25:7-10), Onan yang tidak mencintai berbuat jahat. Tamar hanya dijadikan objek seksual kebejatannya. Setiap kali bersetubuh, ia sengaja membuang benihnya keluar agar Tamar tidak bisa hamil. Bisa gila hidup Tamar! Dia harus memperoleh “keturunan”, tetapi Onan mencegahnya. Karena kejahatannya, mati juga dia tanpa anak. Tamar menjadi seorang janda untuk kedua kalinya.      

Satu-satunya orang yang masih ia percaya adalah ayah mertuanya. Tetapi, Yehuda berbuat hal yang tidak benar. Karena takut Syela mati, ia mencari alasan dengan janji nanti setelah Syela dewasa baru akan dinikahkan. Sekarang, ia menyuruh Tamar pulang ke rumah orang tuanya untuk menunggu. Inilah titik terendah hidup Tamar sebagai perempuan. Tanpa masa depan yang jelas. Dia tidak bisa menikah dengan laki-laki lain, tidak juga dengan Syela. Sementara posisi janda di masyarakat sungguh malang, tanpa perlindungan, tanpa nafkah, tidak punya apa-apa. Apalagi nanti jika ayahnya meninggal. Hari menjadi minggu, minggu menjadi bulan, dan bulan menjadi tahun. Ia menunggu janji “keturunan” dari Syela. Meskipun itu hanya janji kosong sang ayah mertua, Yehuda.

Beberapa lama kemudian, Syua meninggal. Yehuda pun menjadi duda. Setelah lewat waktu berkabung, ia  pergi ke kota Timna untuk acara pengguntingan bulu domba (ada pesta-pora). Ia mau bersenang-senang. Mendengar ayah mertuanya akan datang, Tamar ingin mencari tahu dan menyelidiki mengapa Syela yang sudah dewasa, belum dinikahkan dengannya. Tujuannya murni untuk memperjuangkan perannya sebagai istri yang harus melanjutkan garis keturunan suaminya dari suku Yehuda. Maka, ia melepaskan pakaian kejandaannya dan memakai selubung/kain penutup muka. Namun, begitu sudah dekat dengannya, Yehuda malah tidak berempati kepada dirinya, tetapi malah mengira dia sebagai pelacur dan mau bersetubuh dengannya. Hancur sudah hidupnya. Ia berusaha melawan ketidakadilan. Dengan cerdiknya Tamar bilang, ”Apa yang kamu bisa beri kalau aku bersetubuh denganmu?”

Yehuda menjawab, “Nanti akan diberikan anak kambing”. Tamar tahu persis mertuanya ingkar janji. Tamar bilang, “Apa jaminannya?” Yehuda pun memberikan tanda identitas dirinya, yaitu tongkat dan kalungnya.

 Ia mengambil risiko, meski tindakannya ini terlarang dan mengakibatkan kematian bagi Yehuda dan dirinya sendiri (Im 18:15, 20:12). Baginya yang penting adalah “keturunan”. Tiga bulan kemudian, Yehuda mendengar Tamar hamil. Ia marah besar, karena Tamar telah menodai sukunya dan janda dari kedua anaknya. Yehuda pun memberikan hukuman mati “bawa dia keluar dan bakar dia”. Sebelum hukuman mati dijalankan, Tamar hanya mengatakan, ”Pemilik tongkat dan kalung inilah yang bersetubuh dengan aku.Tamar tidak menyebut nama laki-laki yang bersetubuh dengannya. Dia tidak mau merusak nama mertuanya. Tamar pun menjadi pemulih kehidupan Yehuda pada kebenaran (Kej 49:8-12). Yehuda menyadari dan mengakui kesalahannya, bahkan memuji Tamar atas tindakannya; ”Bukan aku, tetapi perempuan itulah yang benar, karena memang aku tidak memberikan dia kepada Syela, anakku.Ibraninya: Sadekah Mimmenni=perempuan ini lebih benar daripada aku atau perempuan ini benar. Kisah ini ditutup dengan kelahiran” dua anak kembar, Peres dan Zerah. Suka atau tidak, selipan kisah ini mewarnai Kitab Suci dengan aib dan dosa manusia yang tidak pernah ditutupi.

Kebenaran diungkapkan dengan jelas dan gamblang, sebab kebenaran adalah kebenaran yang tidak perlu ditutupi. Tuhan memberikan KEBENARAN di hati kita semua.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY