Cincin Kawin Hilang

0
432

KETIKA usia perkawinan kami sudah sepuluh tahun, jari manis suami makin gemuk sehingga cincin kawinnya sesak, tidak muat lagi di jari manisnya. Lantas cincin itu disimpan di dalam lemari. Suatu hari, rumah kami dirampok dan cincin kawin suami juga diambil. Peristiwa itu membuat kami merasa kehilangan dan terpikir tentang ikatan perkawinan kami. Apakah ada saran perihal kehilangan cincin kawin tersebut? Sejauh ini hubungan perkawinan kami baik-baik saja.

Salam,

Diana

 

Pernikahan adalah sebuah sakramen yang saling diberikan oleh pasangan yang menikah. Istri memberikan Sakramen Perkawinan kepada suami. Demikian pula sebaliknya, suami memberikan Sakramen Perkawinan kepada istri. Dasar dari sakramen itu adalah komitmen untuk mengarungi kehidupan berkeluarga bersama dalam suka dan duka, dalam untung dan malang. 

Cincin kawin adalah simbol dari ikatan/komitmen pernikahan, untuk mengingatkan pada komitmen yang dipersembahkan kepada pasangan. Akankah komitmen itu pudar saat cincin kawin sudah sesak di jari manis? Selama cincin itu tidak digunakan, pikiran tidak terganggu. Jadi, menjalani hidup pernikahan sesuai dengan komitmen awal ketika pasangan suami-istri berjanji di depan altar suci. 

Lalu, ketika cincin kawin itu hilang diambil perampok; mengapa pikiran pasangan yang sudah berkomitmen  terganggu?  Apakah komitmen itu hanya ada di pikiran? 

Manusia terdiri dari tubuh, jiwa, dan roh. Jadi, komitmen itu melekat pada ketiganya, yaitu melekat di tubuh, jiwa, dan roh; pada keseluruhan keberadaan manusia. Pikiran manusia melekat pada keberadaan dirinya tersebut.

Cincin bisa melekat di tubuh. Kenangan indah saat menerima atau memberi cincin melekat di dalam ingatan. Ingatan positif itu baik untuk diingat. Namun, manusia juga diberi akal budi untuk tidak melekat pada hal yang negatif.

Manusia diberi pilihan untuk mampu melepas hal negatif dan menggantinya dengan memperkuat hal positif. Lepaskan pikiran negatif yang dikaitkan dengan kehilangan cincin kawin itu. Relakan cincin itu menjadi bagian dari upaya orang lain menghidupi ciptaan Tuhan kita yang sama. Cincin kawin itu sudah menjadi kepanjangan tangan Ibu dan Bapak untuk berbagi kepada yang membutuhkan. Tidak ada sesuatu hal terjadi di luar kehendak-Nya. 

Justru pasangan merasakan kehilangan, padahal itu baru cincin kawin. Maka, perkuatlah relasi kalian berdua sebagai pasangan yang harmonis dan saling melengkapi di tengah kekosongan akibat rasa kehilangan cincin itu. Isilah rasa itu dengan cinta kasih Ilahi yang tidak pernah habis kita timba; juga tidak pernah akan habis kalaupun kita bagikan. Bahkan dibagikan kepada musuh kita. 

Bila perlu, menabunglah atau sisihkan uang bersama untuk membuat cincin kawin baru. Setiap tahun di gereja kita, ada Misa peringatan janji perkawinan. Sematkan cincin kawin baru yang ukurannya pas dengan kondisi jari tangan sekarang dalam Misa itu. Bisa juga pada setiap Misa, sekalipun bukan Misa pembaruan janji perkawinan. 

Rasakan manisnya komitmen pernikahan yang terus-menerus diperbarui dalam setiap Sakramen Ekaristi. Ingatlah selalu bahwa pernikahan itu sakramen yang dipersembahkan bagi pasangan kita.

Salam,

Herlani

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY