Hidup Seimbang

0
116

Hidup seimbang.  Itulah motto pasutri Antonius Basuki Lukman dan Irene Arrini Murti.

PASUTRI Anton dan Arrini menjadi Katolik setelah mereka lulus dari SMA Bunda Hati Kudus Jakarta. Mereka menjalin kisah cinta sejak di SMA.  Bukan waktu yang singkat untuk mengenal satu sama lain hingga akhirnya mereka menikah pada tahun 1987. Perjalanan iman mereka tidak mulus.  Turun naik tetapi pada akhirnya selalu kembali kepada Yesus.

 

Pertumbuhan Iman

Sejak dibaptis pada tahun 1976, Anton menjalankan kewajiban agamanya cukup dengan Misa pada hari Minggu saja. Keluarganya yang beragama Konghucu kurang mendukung imannya.

Ia tertarik menjadi Katolik setelah mengikuti retret sekolah di Civita. Saat itu, Anton berkesempatan berbincang-bincang  dengan pastor pembimbing.  Ia mengatakan bahwa ia tidak percaya kepada Tuhan Yesus tetapi percaya kepada Tuhan Allah.  

Pastor pembimbing mengatakan bahwa ia tidak perlu memaksakan diri. Namun, ia menasihati Anton untuk tetap berdoa agar Tuhan yang menjawab.

Sejak itu, Anton rajin ke gereja. Walaupun masuk gereja tanpa bisa berdoa dan tanpa mengerti apa pun. Tergerak untuk menjadi Katolik, Anton mendaftarkan diri kepada guru agamanya, Romo Frans Doi.

Arrini menyusul dibaptis pada tahun 1977. Berbeda dengan Anton, latar belakang keluarga Arrini adalah GKI. Ia terlibat aktif dalam kehidupan menggereja dengan menjadi guru Sekolah Minggu di GKI.  Ketika ia menjadi Katolik, ia tetap melayani dengan menjadi guru Bina Iman di Gereja Kristoforus sejak tahun 1978 hingga 1988.

 

Babak Perkawinan

Masa pacaran selama 12 tahun berujung pada pernikahan secara Katolik, tahun 1987. Pada awal pernikahan pasutri Anton dan Arrini tinggal bersama orang tua Anton. Mereka menjadi warga Paroki Salvator Pertamburan.

Tahun 1991, mereka  pindah rumah dan menjadi warga Paroki Maria Bunda Karmel (MBK).  Sejak tahun 1998 hingga saat ini, mereka tinggal di bilangan Puri Indah dan menjadi warga Paroki Sathora.

Suatu hari, tahun 1997, Anton melihat spanduk Seminar Hidup Baru Dalam Roh (SHDR) yang diadakan di MBK. Bersama Arrini, ia mendaftarkan diri dan mengikuti seminar itu.  Waktu itu menjadi “titik balik” bagi keduanya.  

Dalam seminar SHDR, Anton mendengar sebuah lagu syukur. Sejak itu, doanya berubah menjadi doa ucapan penuh syukur. Seminar tersebut menggerakkan Anton dan Arrini untuk lebih berusaha mendekatkan diri kepada Allah.

Pada tahun yang sama, Anton dan Arrini mengikuti Retret St. Theresia Lisieux di Lembah Karmel. Setelah retret, mereka tergugah untuk bergabung dalam Komunitas Tritunggal Mahakudus (KTM).

Di KTM, Anton mendapat suatu pengalaman pribadi bersama Kristus melalui Doa Batin (Lectio Devina).  

“Dengan doa batin, saya dapat merasakan kehadiran Yesus. Saya juga mendapatkan manfaat dari Lectio Devina. Dengan membaca Kitab Suci, mencari kata yang menggugah, merenungkannya, dan diakhiri dengan meditasi dan kontemplasi,” ujar ayah Anastasia Genna Talita (23 tahun) ini.

Pasca kerusuhan 1998, pasutri Anton dan Arrini mengikuti Kursus Evangelisasi Pribadi (KEP) angkatan ketiga di Paroki Sathora. Karena merasa masih kurang mendapat pengetahuan tentang Firman ketika ikut KEP, pada tahun 2001 Anton mengikuti  Kursus Pendidikan Kitab Suci St. Paulus selama tiga tahun di daerah Tebet. Kemudian ia membagikan apa yang sudah dipelajarinya di KPKS, melalui Pendalaman Alkitab (PA) di lingkungannya.

 

Pendalaman Alkitab

Tahun 2005,  timbul keinginan umat Lingkungan Klara 3 dan 4 untuk belajar Kitab Suci.  Maka,  Seksi Liturgi Lingkungan membentuk PA setiap Rabu pukul 19.30 di kediaman Anton.  Namun, PA tersebut hanya berjalan kurang lebih enam bulan, karena metodenya kurang tepat.

Pada tahun 2007 PA yang sempat terhenti, dimulai lagi dengan metode pengajaran yang berbeda. Pertama, membaca KS sesuai dengan bacaan liturgi. Kedua, hasil pembacaan  yang ditangkap oleh masing-masing peserta disharingkan. Terakhir, baru dijelaskan maksud bacaan yang sesuai dengan ajaran Gereja Katolik. Tujuannya agar tidak terjadi penyimpangan arti –baik yang tersirat maupun yang tersurat– dalam bacaan.  Dengan metode pengajaran yang baru, PA dapat bertahan hingga sekarang.

 

Hidup Seimbang

Tergerak untuk dapat melayani lebih lagi, pasutri Anton dan Arrini menjadi prodiakon pada tahun 2014.  Sekarang merupakan periode kedua pelayanan mereka. Di samping itu, Arrini juga rajin mengikuti kegiatan lainnya, seperti Kelompok Meditasi Sathora, Kerahiman Ilahi, dan Doa Taize.

Sebagai jebolan Jurusan Arsitektur Universitas Tarumanagara,  Anton bekerja di bagian keuangan sebuah perusahaan kontraktor pabrik dan gedung.  Sedangkan Arrini adalah lulusan Jurusan Teknologi Pangan IPB. Ia sudah bekerja selama 35 tahun di Bagian Research and lnnovation Perusahaan Orang Tua (OT).  Anak semata wayang mereka masih kuliah dan diperkirakan akan lulus tahun depan.

Selain bekerja dan menggereja, Arrini mempunyai hobi yang sangat menarik.  Karya-karyanya sangat cantik berupa papertool yang sudah dibingkai dan dipaku pada dinding di lantai dua rumahnya. Yang tak kalah menarik, Arrini juga mahir melukis telur. Banyak telur hias berjajar di dalam lemari hiasnya. Merajut juga dilakukan Arrini untuk mengisi waktu senggang.  

“Bila ada ibu-ibu yang tertarik untuk belajar papertool, boleh saja.  Saya punya banyak bahannya yang masih baru. Tinggal kumpulkan ibu-ibu, saya akan ajarkan,” kata Arrini bersemangat.  

Di rumah pasutri ini, ada tumpukan bahan papertool yang diberikan oleh seorang kawan Arrini yang belum dikerjakan.

 

Berusaha Menjaga

Pasutri Anton dan Arrini selalu berusaha menjaga kehidupan yang seimbang.  “Saya selalu menjaga keseimbangan hidup saya;  baik ke atas, hubungan dengan Tuhan maupun ke samping, hubungan dengan sesama umat Allah dan keluarga,” tutur pria kelahiran Jakarta ini seraya meneguk teh.

 ”Saya berharap tetap setia kepada Tuhan Yesus, tetap rendah hati, dan tetap dapat melakukan hal-hal kecil untuk membawa orang datang kepada Tuhan Yesus,”  ujar ibu kelahiran Blora ini menutup perbincangan pada Senin siang, 24 April 2017.

Lily Pratikno

SHARE
Previous articleRaja yang Bijaksana
Next articleSang Pujangga Gereja

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY