Berani Maju Terus

0
49

SAAT pertama melihat dan memperhatikan sang mama belajar private piano di rumah, Daryl tergerak ingin main piano sendiri. Program latihan mamanya hanya berlangsung  enam bulan. Melihat anaknya lebih interested, program les berpindah dari sang mama ke dirinya.

“Kamu belum pernah baca not ya, kok talentamu tinggi banget,” ujar sang guru les. Karena semakin serius belajar, akhirnya sejak kelas 4 SD, ia pindah les ke Yamaha, untuk mendapatkan kurikulum belajar piano yang lebih bagus.

 

Saat menginjak bangku SMP, remaja bernama lengkap Henry E.P. Sutjipto ini mengikuti koor mudika. Daryl menyebut nama PS Swadikathora. Kelompok koor ini, menurutnya, merupakan cikal-bakal lahirnya PS Keluarga Kudus Nasaret (KKN).

Daryl yang pada saat itu bersekolah di Sekolah Lamaholot, diminta untuk main organ. Ajakan tersebut diterimanya. Ia menjadi anggota beneran  dalam koor mudika ini. Daryl yang sekaligus belajar bersama Monik dan Anna, diminta oleh Rodi pelatih saat itu, untuk berlatih sebagai organis. Sesekali Daryl mencoba menjadi dirigen.

Sewaktu ikut koor SMA, ia tidak merasakan kemajuan dipimpin dirigen saat itu. Ia berani mengajukan diri sebagai dirigen, setelah mendapatkan dorongan dari teman-temannya. Ia merasa kariernya sebagai dirigen berawal dari sini. Ia mengakui bahwa PS KKN merupakan tempatnya belajar dan di SMA sebagai tempatnya berkarya.

 

Setelah lulus SMA Bunda Hati Kudus, tahun 1991, ia masuk Universitas Trisaksi. Ia sempat mendaftar menjadi anggota PS Trisakti. Dengan alasan, background-nya dari paduan suara Katolik, ia merasa tidak nyaman, nggak dapat feel. Cuma bertahan satu tahun, ia keluar dari PS Trisaksi.

 

Saat di Yamaha, pencapaian yang sudah ia dapatkan sampai pada level grade 4 (grade 13 adalah level terendah ). Ia berhenti karena sudah tidak interest  lagi. Saat itu, di Indonesia jarang ada yang di atas grade 4. Daryl juga mengajar di Yamaha. Ia mengikuti pelatihan guru bersertifikat. Dari mengajar, ia bisa membiayai kuliahnya sendiri.

 

PS KKN menjadi pilihannya untuk tetap aktif. Ia juga terlibat dalam kegiatan UKK Trisakti. Kekurangan organis, membuatnya bergabung dengan unit ini. Sesekali ia menjadi volunteer  dirigen. Ia semakin serius, hingga lahir PS di unit yang ia ikuti. Latihan rutin dilakukannya setiap minggu, PS pun semakin solid. Anggotanya pernah sampai 60 orang.

Berbagai event dan lomba paduan suara diikutinya, di antaranya Fesparawi antarunit kegiatan Katolik se-KAJ. Prestasi PS semakin besar dan pernah menjadi juara se-KAJ. Setelah menjadi alumni pun, ia masih tetap kumpul dan melatih pada tahun 1995.

 

Tahun 1997, Daryl dikontak oleh salah satu anggota PS Mudika Gereja Maria Bunda Karmel (PS MBK) yang menawarinya untuk melatih. Ia langsung sepakat joint dengan PS ini. Dalam kurun waktu dua sampai tiga tahun, anggota PS ini sangat bersemangat. Kelompok ini kemudian menjadi PS Vox Angelorum.

Tahun 2000, ada undangan Fesparawi di Gereja St. Leo Agung, sebuah event yang cukup besar. Dengan modal nekat,  lomba ini diikutinya. Dengan hanya memiliki anggota  23 atau 24 orang untuk lomba saat itu. “Kalau satu orang saja sakit, bisa didiskualifikasi,”  kata Daryl sambil tertawa.

 

Babak penyisihan dilaluinya. Nyali anggotanya sempat ciut karena saat lomba berlangsung ada salah satu kelompok PS membagi flyer konser. Yang dilombakan tiga katagori plus dua: musik klasik, gregorian, pop, ditambah pemilihan dirigen terbaik dan organis terbaik. Nyatanya, dari lima katagori tersebut, empat dimenangkannya, hanya satu katagori pop yang lepas. Tim juri saat itu terdiri dari Tommy Prabowo, Ibu Hana, dan Romo Soetanto. Wooow, Daryl merasakan ada something di PS ini.

 

Daryl adalah warga Lingkungan St. Lucia 1 Paroki Bojong Indah Gereja St. Thomas Rasul. Ia adalah pelatih — bukan umat–  Gereja Maria Bunda Karmel. Namun, sentuhan karyanya melambungkan PS Vox Angelorum Paroki Tomang Gereja MBK.  Ia masih memiliki waktu dan perhatian untuk parokinya sendiri. Semacam sudah ada perjanjian tidak tertulis, bahwa saat bertugas atau ikut lomba, sebisa mungkin tidak bertemu dengan PS KKN. Ia mencoba memastikan bahwa PS KKN dan PS Vox tidak akan bertemu di ajang apa pun.  Hal ini kadang membuatnya bingung.

 

Bekalnya sebagai dirigen bertambah, saat ia mengikuti pelatihan dirigen di California State Univesity, Los Angeles, Amerika Serikat, pada tahun 2002; semacam summer choir festival selama dua minggu. Pelatihan ini menempanya untuk menjadi dirigen handal. Ia bisa ikut pelatihan ini, lantaran adiknya kuliah di universitas tersebut.  Begitu mendapat tawaran, ia tertarik untuk mendaftar.

Saat ditanyakan kepadanya, siapa orang yang berpengaruh sebagai dirigen, sosok Tommy Prabowo dan Jonathan Velasco menjadi pilihannya.

 

Tahun 2001, ia dan PS Vox mengikuti Kompetisi Paduan Suara 100 Tahun Gereja Katedral. Pesertanya umum dan diikuti banyak universitas yang PS-nya sudah dikenal. Ternyata, pada saat technical meeting banyak tim PS gereja yang mundur. Sebaliknya, Daryl  panas dan terpacu untuk mengikutinya. “Nyali paduan suara gereja kok kecil banget,” ujar Daryl geregetan.

Semua juri pada kompetisi ini Muslim yang hebat di bidang seni paduan suara.  PS Vox Angelorum, PS gereja yang tetap ia pegang, berhasil menjadi Juara I. Ia membuktikannya.

 

Ia semakin percaya diri. Kompetisi demi kompetisi diikutinya sampai tingkat nasional. Di Festival ITB Bandung 2002, PS Vox Angelorum memperoleh juara harapan dan favorit. Pada tahun 2003, di Festival Unpar Bandung, untuk pertama kalinya ia bertemu dengan PS KKN. PS Vox menduduki Juara III di katagori Mix Choir. Saat itu, Daryl terpaksa membela PS Vox yang dilatihnya.

 

Ajang internasional pertama, di mana Daryl menjadi pelatih dan dirigen, adalah The 4th World Choir Games 2006 

 

di Xiamen, China. Ada 26 katagori yang dilombakan.  Lomba ini diikuti oleh ratusan paduan suara yang berasal dari 47 negara di dunia. Indonesia mengirimkan 32 kelompok PS. Di ajang ini, Daryl harus memilih; memimpin tim PS Vox Angelorum. PS KKN pun ikut berkompetisi, Rodyanta sebagai dirigennya. Namun, keduanya tidak dipertemukan pada katagori yang sama.

Daryl dengan PS Vox-nya berhasil mendapatkan Gold Medal untuk katagori musica sacra dan berhak ikut final dan diploma silver untuk mix choir. Kebanggaan Daryl adalah bahwa PS Vox Angelorum adalah satu-satunya PS Gereja yang mendapatkan Gold Medal, yang lainnya universitas.

 

Tahun 2011, mereka mengikuti Grand Prix Pattaya 2011: 4th International Choir Festival, Thailand. Daryl dan tim berhasil menyabet Medal Gold untuk mix choir, dan sekaligus champions of catagory dengan perolehan nilai sempurna 100… luar biasa! Yang bikin terus bersemangat karena achievement  mereka selalu meningkat. Yang tidak ia sangka bahwa kompetisi seni dengan nilai 100 ternyata bisa didapat.  Hanya ada dua tim yang mendapatkan perfect point  100 di katagori berbeda.

 

Tahun 2012, mereka kembali diundang untuk ikut Konser Musik Klasik. Keluarga Ratu Thailand yang punya gawe. Tim ini diundang atas biaya Kerajaan Thailand untuk pentas konser.

Tawaran undangan dari Jerman pada tahun 2013 diterimanya. Atas undangan dari Biara Ordo SVD, Daryl dan tim PS-nya hadir untuk memperingati 150 Tahun Biara SVD di Jerman. Mereka mengikuti konser dan hadir pada acara-acara yang diselenggarakan selama hampir tiga minggu. Waktu yang relatif lama ini bertepatan dengan musim libur. Para anggota PS-nya rela untuk cuti panjang atau bahkan cuti unpaid . Full team dengan jumlah 45 orang. Sungguh sebuah pengorbanan yang luar biasa.

 

Tahun 2015, dengan mengirimkan seleksi lewat rekaman, PS Vox mengikuti The 6th Musica Sacra a Roma International Competition. Mereka bermain di Gereja Anglican Roma dan mengikuti final Grandprix di Basilica Roma. Lagi-lagi, PS Vox berhasil menggondol dua Gold Medal di dua katagori yang diikuti, yakni musica sacra dan musica profana.

 

Bagaimana kesan Daryl?

Ia mengungkapkan bahwa kejuaraan di Roma itu yang paling tinggi. Tapi kesan tim Vox, di Xiamen China lebih dalam karena pertama kali mereka merasakan  bela Merah Putih di luar negeri sebagai wakil Gereja. Kesan secara pribadi, menurut Daryl, malah di dalam negeri, saat Lomba Fesparawi 200 Tahun KAJ pada tahun 2007, yakni di Katagori Koor Lingkungan/Wilayah dan Katagori Paroki.

Kedua tim PS yang dilatihnya bersama-sama memenangkan Juara 1; masing-masing Katagori Paroki dimenangkan oleh PS Paroki MBK dan PS Wilayah/Lingkungan Salome Paroki Kristoforus untuk Katagori Koor Wilayah/Lingkungan. Capaian ini paling mengesankan baginya. “Kok bisa keduanya bersamaan menjadi juara. Itu yang membuat saya secara pribadi sangat terkesan,” tuturnya kepada MeRasul.  

 

Lalu setelah ini, apa yang akan dicapainya? Mimpinya membuat paduan suara Gereja Katolik bener-bener  maju. Seandainya koor di setiap Misa terlatih dengan baik. Sebisa mungkin koor gereja diangkat setinggi-tingginya dan dapat melakukan yang terbaik. Berani maju terus.

Karena hobinya ini, ia memberikan banyak pelatihan paduan suara di beberapa tempat. Tidak hanya di Jakarta, juga di beberapa kota antara lain di Padang, Banjarmasin, Makassar, Sorowako, dan tempat-tempat lainnya sebagai juri lomba.

Pengin lebih menginspirasi bahwa koor gereja jangan cuma segitu doang yang kamu bisa, bukan sekadar kumpul satu minggu sekali, tetapi harus jadi sesuatu. Kalau cuma sekadar konser amal, nggak usah bilang lagi. Tapi, ini lebih ke urusan di luar paduan suara, melakukan kegiatan sosial dan menjadi komunitas,” katanya berharap.

 

Bagaimana keluarganya berkiprah dalam pelayanan gereja? Sinta, sang istri, menemaninya ngobrol dengan MeRasul. Ia bercerita tentang anak-anaknya yang aktif di gereja lantaran juga karena perlu melibatkan orang tua, memberikan dorongan dan dukungan.

Sebagai orang tua Deo dan Farel, Sinta ikut senang anak-anaknya aktif dalam kegiatan gereja. Deo senang bermain organ, mengikuti jejak Daryl. Saat ini, ia sudah terlibat menjadi organis koor lingkungan.

Sedangkan Farel, adiknya, menjadi misdinar Sathora. Kedua anaknya happy  melakukan pelayanan. “Kita punya sesuatu yang bisa kita berikan kepada orang lain. Tidak muluk-muluk untuk bisa berperan dan berbuat sesuatu bagi banyak orang,” ujarnya.

 

Daryl menegaskan prinsipnya dalam tulisannya di pengujung kesaksiannya,“Saya punya prinsip dan idealisme sendiri mengenai pelayanan di gereja. Pelayanan hendaknya bisa dilakukan dengan sebaik-baiknya, dengan kemampuan terbaik kita sebagai manusia. Mengikuti kompetisi adalah salah satu cara short cut yang memaksa kita mengeluarkan kemampuan terbaik dan menjadi lebih baik. Itu kenapa saya ‘hobi’ sekali mendorong setiap paduan suara yang pernah saya latih untuk berani mengikuti kompetisi.”

Berto

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY