Kalah untuk Menang

0
56

BERTEPATAN dengan pelaksanaan Pilkada Jakarta putaran kedua, PDS menyelenggarakan Misa Syukur untuk Bangsa dan Negara. Misa dipersembahkan oleh RD Hadi Nugroho di kediaman Frans dan Floren Suwandi. Sebagai gerakan non-Golput, Surjanto Kardiman, Koordinator PDS, menyediakan souvenir bagi umat yang hadir dengan tinta biru pada jarinya.

 

Berbeda dari biasa, pujian dalam Misa kali ini dibawakan oleh Koor Wilayah Dominikus di bawah pimpinan Devi. Bacaan Injil mengenai perjalanan ke Emaus. Dalam homilinya, Romo Hadi mengatakan, “Saya mau langsung bertanya, jika bertemu orang di jalan dan orang itu berkata, hai orang bodoh, apakah Anda mau mengajak orang itu ke rumah?” 

 Dalam bacaan, Yesus mengatakan, hai orang bodoh, betapa lamban hatimu. “Tetapi, Ia malah diajak makan bahkan diajak menginap,” kata Romo Hadi.

Seperti Berlian

Dalam membaca Alkitab, tergantung pada cara menafsirkannya. Seperti berlian, akan berbeda keindahan sinarnya tergantung dari sudut pandangnya. Alasan orang menyenangi berlian karena sinarnya berbeda-beda setiap dipandang. Demikian pula dengan Alkitab, pesan yang didapat hari ini akan berbeda dengan kemarin. 

Dalam Injil Yohanes bab 2 disebutkan bahwa Yesus sudah mau dibunuh karena mengobrak-ngabrik Bait Allah. “Sebenarnya siapa yang diobrak-abrik? Para Pedagang. Ahok juga mengalami pengalaman seperti itu.”

Dalam Kitab Yeremia, disebutkan bahwa dulu Bait Allah cuma satu. Umat mempersembahkan kurban hanya di sana. Yesus marah karena mereka sudah datang dari jauh untuk mempersembahkan kurban, ternyata kurbannya harus dibeli di Bait Allah. Alat tukarnya juga khusus uang Bait Allah. Persediaan tetap tetapi permintaan bertambah sehingga harga naik.Yang boleh menyediakan hanya orang Bait Allah. Alhasil, kalau harga kurban tinggi, yang mampu membeli persembahan hanya orang kaya saja. Hal itu yang membuat Yesus marah. “Korupsi sudah ada sejak zaman dahulu. Jadi, koruptor ada di mana-mana,” ungkap Romo Hadi.

Ketika Yesus berteriak Eloi, Eloi… Yesus pasti merasa sendirian dan kalah. Akhirnya, Yesus berkata, “Kuserahkan nyawa-Ku.” Sampai detik wafat-Nya, Yesus kalah. Tapi, waktu Dia bangkit, itulah kemenangan-Nya. “Kalau kita mengalami pengalaman kalah dan kesepian, tenang saja, itu bukan akhir.
Kematian Yesus bukan akhir, karena Ia bangkit. Belajarlah dari pelaut sejati yang dapat memanfaatkan angin. Ketika tidak ada angin pun, ia dapat mencapai tujuan.”  

 

Perjuangan belum selesai. Kita dipanggil untuk menjadi “Ahok-Ahok” lain, menjadi pejuang melawan yang tidak baik. Yesus berkata, “Aku datang ke dunia bukan untuk membawa damai melainkan membawa pedang. Tetapi bukan untuk membunuh, yang dipakai hanya ujung pedang saja untuk menyongkel kejahatan dan dosa. Kepada pendosa, Aku mencintai orangnya tapi membenci dosanya,” sitir Romo Hadi.

Romo Hadi mengatakan bahwa kita harus belajar “Fortiter in re, suaviter in modo”. Artinya, “Kuat dalam prinsip, fleksibel dalam cara”. Tidak masalah kalah bila untuk menang. Tidak masalah mundur selangkah untuk maju tiga langkah. Seperti dalam film “Silence”, pastor mati sambil tetap memegang salib. Kemenangan nanti di hadapan Bapa.

Kita berjuang untuk setia. “Portigat in mondo”, prinsip cinta kasih. Diperlakukan apa pun, maafkan, ampuni. Yesus selalu mengampuni. Allah menebus dosa umat-Nya karena cinta kasih. Ahok kalah, kita harus ikhlas. Kobarkan semangat cinta kasih. Cinta dan keikhlasan.

Lily Pratikno

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY