Bermatiraga, Jangan Bermatirasa

0
389

JUMAT siang itu, udara minta ampun panasnya!  Philo dan Opa Ben baru saja membeli kado di mal untuk teman Philo, Karen.

Ketika mereka sedang mencari tempat duduk di restoran untuk bersantap siang, tiba-tiba pundak Opa Ben ditepuk oleh seseorang dari belakang. Secepat kilat Opa berbalik.  Ketika tangannya menggantung di awang-awang hendak balas menepuk, orang yang  di hadapannya itu berseru, “Om Ben, apa kabar?”

Opa Ben tertawa lebar. “Ah Yakub! Kamu rupanya!  Kukira tadi tukang hipnotis!”   Mereka terbahak.

“Ayo Om, kita duduk sama-sama saja, sudah lama nih kita tidak berjumpa,” ajak Yakub.

Kemudian Yakub memperkenalkan Miryam, istrinya dan Martha, kakaknya. Setelah semua hidangan tersedia, Opa Ben berkata,  “Lho ,Yakub, kalian tak usah ikut-ikutan saya berpantang daging. ‘Kan kalian Kristen bukan Katolik.”

Yakub tersenyum.

 “Tidak masalah Om, makan sayur ‘kan lebih menyehatkan. Martha juga Katolik.”  Martha mengangguk kepada Opa.

Setelah mereka selesai bersantap, Martha bertanya, “Om puasa juga?”

Jawab Opa mantap, “Oh ya, tentu.”

 “Tapi usia Om ‘kan  sudah lebih dari 60 tahun, sedangkan aturan puasa mulai usia 18 sampai 59 tahun. Mestinya sih sudah bebas ya Om? Philo juga ikut-ikutan berpantang, ‘kan belum berusia 14 tahun?”

Jawab Opa, “He he, memang ada batasan usia tapi kalau yang bersangkutan mampu dan mau ya boleh saja, asalkan tidak mengganggu kesehatannya. Saya ini puasa bukan ingin balik jadi muda lagi lho, he he…. Puasa orang Katolik memang ringan sekali,Yakub, yaitu makan kenyang satu kali saja dalam sehari. Itupun cuma dilaksanakan pada Rabu Abu dan Jumat Agung saja. Tapi, itu syarat minimal. Kalau mau menambahkan sendiri jumlah hari puasanya seperti saya ini, itu sangat dianjurkan. Ada juga orang yang gagal paham bahwa pantang itu tidak boleh makan daging, sedangkan sayuran diperbolehkan. Padahal dalam arti yang lebih luas,  pantang dan puasa atau bermatiraga itu adalah bentuk penyangkalan diri atau menahan diri terhadap apa yang kita sukai sehingga kita menjadi terikat dengannya. Bukan hanya untuk makanan saja tapi juga kebiasaan yang kurang baik, seperti marah, memukul, memfitnah, bergosip, tidak puas, tidak mengampuni, balas dendam, egois, dan sebagainya… Eh Martha, saya dengar tadi kamu vegetarian. Tentunya bukan pantang daging ‘kan? Jadi, kamu pantang apa?”

Martha tersipu, dengan malu-malu ia menjawab, “Anu Om, saya pantang makan petai dan sambal. Itu makanan favorit saya.”   

Yakub ikut nimbrung, ” Om, jadi pantang dan puasa itu sifatnya untuk mengekang diri, ya?”

Cepat-cepat Om Ben menyangkal, “No, no, bukan mengekang, tapi justru membebaskan kita dari ketergantungan pada yang membelenggu kita selama ini. Semangat dasar masa Prapaskah adalah pertobatan atau penyucian diri. Yang paling penting adalah “lapar” akan Tuhan, harus semakin dekat, mencintai, dan hanya mengandalkan Tuhan saja. Bentuk pertobatan yang lain, yaitu dengan membina rohani kita , misalnya dengan  berdoa pribadi, doa rosario, jalan salib, retret, rekoleksi, meditasi, adorasi, ziarah, pertemuan APP, dan sebagainya.”

Yakub kelihatan mulai tertarik, membuat Opa Ben makin  bersemangat. “Masih ada lagi laku pertobatan yang lain, yaitu beramal kasih kepada sesama, memberikan  apa yang mereka butuhkan dengan tulus hati tanpa pamrih. Kita akan mampu beramal bila mempunyai kepekaan hati.”

Miryam menyela, “Tapi Om, sekarang banyak orang yang hatinya tidak peka, ya ?”

“Betul, Miryam, banyak orang yang matirasa, tidak berperasaan, cuek bebek, masabodoh, lu lu- gue gue. Paus Fransiskus mengatakan, oleh karena mereka berhati batu, berleher kaku,  keras secara mental dan spiritual maka perasaan mereka jadi tumpul tak sensitif, tak mau introspeksi diri dan melihat dari kacamata orang  lain. Hidup dalam zona nyamannya sendiri atau nikmat dengan dunia mobile online-nya. Larut dalam dunia maya, kurang peduli pada dunia nyata. Kalau keluar dari zona nyaman, pasti akan mampu melihat mereka yang menderita. Eh Philo, kamu pantang jajan ya? Uangnya kamu kumpulkan buat apa sih?”

Philo diam saja, hatinya gelisah. Opa Ben langsung menembak, “Buat beli HP ‘kan? Percuma saja kamu pantang. Yang benar, diberikan kepada anak-anak yang kurang mampu. Pantang itu bukan menabung, melainkan untuk beramal kasih, tahu!”

Philo tersipu-sipu karena niatnya tertebak oleh si Opa.

Ekatanaya

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY