APA YANG BISA DIBERIKAN UNTUK GEREJA?

0
57

Tumbuh dalam keluarga Katolik dengan pendidikan Katolik yang kental sejak kecil. Di Manado kota kelahirannya, dibiasakan mengikuti Bina Iman Anak sejak bayi, saat remaja menjadi Kooordinator Misdinar Paroki dan Ketua OMK. Di masa mahasiswa menjadi Ketua KMK (Keluarga Mahasiswa Katolik). Lika-liku pelayanannya di Gereja tersebut membulatkan panggilannya menjadi Pastor. Ia menjawabnya, meski panggilan itu kandas, dan ia sadar bahwa menjadi Pastor bukan bagian yang harus digelutinya. Kini, saat sibuk sebagai seorang Jurnalis Televisi yang mengondisikannya tidak bisa lagi seaktif dulu dalam kegiatan pelayanan, tidak membuat Carlos lupa untuk ke gereja. Lalu apa yang bisa dikerjakannya selama ini dalam hidupnya dan dalam turut serta mengambil bagian dalam kehidupan menggereja?

Carlos Michael Kodoati, pria kelahiran tahun 1986, sudah 5 tahun menggeluti profesinya sebagai Jurnalis dan News Anchor di BeritaSatu News Channel, stasiun televisi swasta digital milik Lippo Group. Carlos, begitu dia dipanggil, sosok orang muda yang memiliki pengalaman cukup berwarna, menyusuri perjalanan hidupnya hingga sampai ke kariernya yang sekarang. Ditemui MeRasul di sebuah Cafe dekat kediamannya di Jakarta Pusat, Carlos mengawali ceritanya dengan cerita masa kecilnya. “Lagi panas-panas Pilkada dan polarisasi agama bikin ribut banget ya mas? Saya bersyukur tidak terpengaruh itu. Sebagai seorang Katolik dalam pekerjaan sebagai Jurnalis, saya kecewa dengan kondisi terpecah-pecah. Ini karena orang kurang dididik bertoleransi”, ujar Carlos mengawali.

Carlos bercerita, sebenarnya memberi sesuatu bagi Gereja sangat identik dengan identitas seorang Katolik di Indonesia. “Hanya di gereja mungkin saya menemukan tema-tema nasionalisme disarankan untuk diamalkan oleh umat. Saya bangga menjadi Katolik, karena di gereja saya tidak hanya berdoa dan mendengar sabda Tuhan, tapi keuskupan misalnya memasukkan tema-tema pengamalan Pancasila dalam pewartaannya. Ini Katolik banget”, ujar Carlos bersemangat.

 

Mengenal toleransi

Saat mengenyam pendidikan dasarnya, Carlos belum mengenal dan merasakan sebuah toleransi beragama. Ajaran iman katolik dan gereja didapatkannya dari sejak lahir, ia lahir dari orang tua dan keluarga besar katolik, di Manado. Saat SMP, Carlos baru mengerti dan bisa merasakan arti toleransi beragama, karena ada pelajaran agama lain di sekolahnya. Tiga pelajaran agama berbeda, Protestan, Katolik dan Islam. Inilah pengenalan awal Carlos terhadap toleransi. Alumni SMA Katolik Karitas Tomohon ini mengaku bahwa dirinya merupakan anak dengan perjumpaan dengan banyak orang dan beraneka ragam Agama, Suku dan Ras. Ini membantunya untuk menjadi pribadi yang menghargai perbedaan. “Di asrama suster waktu SMA, teman saya yang masuk asrama bukan hanya Katolik. Ada yang Islam, tapi mereka mau belajar disiplin di sana”, ujar Carlos.

 

Kebebasan memilih

Lahir dari pasangan sederhana almarhum Lodi Kodoati dan almarhumah Meity Wewengkang, Carlos mengaku dia anak bungsu yang sudah mandiri sejak SMA. Ini yang membentuknya untuk tahu memilih, bahkan ketika orang tuanya sudah tidak ada lagi. Malah Carlos bercerita bahwa Ibu dan Ayahnya sangat memberikan kebebasan baginya untuk memilih. Saat lulus SMP, keinginan besar ingin masuk di sekolah keperawatan, namun gagal lolos seleksi. Dengan perasaan kecewa, Carlos masuk ke sekolah yang dikelola suster di SMA Katolik Karitas Tomohon, pilihan ini terpaksa karena sekolah-sekolah sudah menutup pendaftarannya. Carlos ditolong kakak Ibunya yang kebetulan seorang Biarawati yang mengelola Asrama sekolah. Di masa SMA, Carlos bercerita bahwa ia pernah pindah-pindah sekolah. Baru setengah tahun di SMA Karitas, ia minta pindah ke SMA Frater Don Bosco Manado, ini dilakukan karena ia ingin dekat dengan rumah, sementara SMA Karitas jaraknya jauh dari Manado, yakni di Tomohon. Setelah pindah, Carlos sadar bahwa prestasi akademiknya turun karena tidak di asrama lagi, akhirnya dia kembali ke SMA Karitas dan lulus dengan peringkat terbaik.

 

Sadar akan panggilannya

Carlos Michael Jackson, adalah nama baptis pria kelahiran Watutumou Minahasa Utara (5 km dari Manado). Cerita Carlos, Ibunya sakit parah sesudah melahirkannya. Carlos dibabtis darurat waktu itu. Ibu baptisnya adalah perawat yang merawat ibunya waktu itu. Kedekatan Carlos dengan ibu baptisnya inilah yang menjadi jalan awalnya ingin menjadi Pastor. Ibu baptis (di Manado disebut Mama Ani) selalu mendorongnya untuk masuk seminari. Namun panggilan ini dilupakannya hingga lulus kuliah.

Selepas SMA ketertarikannya pada dunia kewartawanan membuatnya memilih Jurusan Komunikasi Univeritas Indonesia, Carlos gagal, namun akhirnya diterima di Fakultas Ekonomi Univeritas Padjajaran Bandung. Carlos menyelesaikan Sarjana Ekonominya di Universitas ini. Aktif sebagai mahasiswa, dia bergaul dengan mahasiswa lainnya di Gereja Mahasiswa dan mengenal biara Ordo Salib Suci di Bandung. Tahun 2007 Carlos bergabung dengan Ordo Salib Suci Indonesia di Bandung. Ia mengalami semua formasi  sebelum masuk dan sesudah diterima di dalam biara: menjalani masa aspiran di Cigugur, Kuningan, Jawa Barat dan di Tebingtinggi, Sumatera Utara; ia masuk Novisiat di Pratista Cisarua Bandung, ia menerima jubah, mengikuti Tahun Rohani, mengucapkan kaul pertama, dan kuliah filsafat di Universitas Katolik Parahyangan Bandung. Lima tahun menjalani itu semua, Carlos sadar jalan panggilannya. Ia mundur dan menyerahkan jubahnya pada tahun 2012. “Saya merasa bahwa panggilan saya bukan sebagai Imam. Kondisinya lain, para Pastor dan frater baik, tapi saya merasa kesepian. Padahal kerja saya untuk tidak kesepian banyak. Mulai dari kuliah, kegiatan mahasiswa, menjadi dekan frater, hidup doa yang indah”, ceritanya. Carlos hanya memiliki 2 orang teman angkatan di biara. 1 orang lainnya mundur 2 pekan setelah menerima jubah, Carlos dan seorang teman lagi menjalaninya hingga tahun ke-4. Carlos mundur, menyusul temannya juga pada tahun berikutnya. “Panggilan Tuhan itu misteri, benar banyak yang dipanggil, sedikit yang dipilih. Yang penting sudah mengusahakannya, tapi tidak mampu”, ujarnya. Hidup rohani di biara, menurutnya menjadi satu hal yang ideal, hidup di biara itu harus suci, doanya teratur. Banyak motivasi yang ia dapat dari para Magister dan teman-teman frater. Carlos rupanya menemukan kehidupan di luar biara lebih baik. Ia tetap seorang Katolik. Keyakinannya dengan apa yang diimaninya sekarang, dikuatkan dengan pesan dan pemberian rosario dari Magister Skolastikat OSC yang kini menjabat Jenderal OSC di Roma Mgr. Laurentius Tarpin OSC, “Saya kecewa kamu keluar, tapi ini rosario akan mengingatkan kamu, kau tetap katolik ya”, begitu pesan yang diingatnya dari Romo Tarpin. Carlos mengaku bahwa hingga kini, kemanapun kapanpun, di tas atau celana jeansnya, selalu ada rosario. “Tak ada alasan bagi saya untuk tidak menjadi Katolik, pun ketika saya tidak menjadi Pastor”, tegas Carlos menutup cerita panggilannya.

 

Kiprah di dunia jurnalistik

Membaca script sebelum bertugas

Lalu bagaimana kiprah yang membawanya bergelut di jurnalistik khususnya pertelevisian?

Saat kuliah di Bandung, Carlos pernah menjadi penyiar di beberapa radio, menjadi master of ceremony di berbagai acara. “Waktu saya frater pun, saya bawain acara dari tahbisan uskup, sampai pastor meninggal”, kenang Carlos tertawa. Bakat jurnalistiknya sudah ada sejak SMA, dan bakat itu tak hilang saat berada dalam biara.  Saat menjadi frater, Carlos suka menulis, dan pernah menjadi kontributor Majalah Hidup. Sebagai frater, ceritanya, uang hasil menulis selalu untuk biara.

Carlos adalah Carlos. Saat SMA ia pindah-pindah sekolah tanpa memberitahu orang tuanya, orang tuanya ikut saja setuju. Begitu pula cerita saat mundur dari biara. Saat sudah keluar dari biara, dia tidak menceritakan hal ini dengan orang tuanya. Kisah Carlos berlanjut saat tahun 2012 keluar dari biara di Bandung dan ternyata baru kembali lagi ke rumahnya di Manado tahun 2013.  Lalu kemana saja Carlos pergi? Saat mengalami keadaan yang paling krisis, di tahun 2012, ia pergi ke Surabaya menjadi pengajar dan  sempat menjadi wali kelas salah satu SMP di sana. Selama 6 bulan profesi menjadi guru sangat dinikmatinya. Selanjutnya Carlos tertarik untuk apply beasiswa kursus jurnalistik ke luar negeri. Dengan menulis paper tentang industri media Indonesia, akhirnya terpilihlah dia untuk mendapatkan kesempatan ini. Waktu 8 bulan dijalaninya di Utrecht University di Belanda, hingga dia memperoleh sertifikat jurnalistik dari universitas tersebut. Selesai pendidikan di Utrecht, dia kembali ke Jakarta dan sempat berkelana ke Yogyakarta, akhirnya Carlos kembali lagi ke kampungnya di Manado. Benar-benar tidak memberi kabar kepada orang tuanya, setiba di Manado ia disambut haru keluarganya yang selama ini mencari. “Aduh saya waktu itu minta maaf sama Mama Papa dan semua, sudah mengecewakan dan menghilang. Tapi saya janji untuk menjadi orang baik”, kenangnya.

Baru seminggu, Carlos sudah aktif lagi di berbagai kegiatan jurnalistik radio dan televisi.  Sempat memberikan pembekalan penyiaran di beberapa radio di Manado diantaranya di Radio Cosmofemale dan Montini (Radio Komsos-nya Keuskupan Manado) dan menjadi penyiar di TV lokal selama 3 bulan.

Carlos bercerita bahwa sejak SMA ia didukung Ibunya mengikuti lomba-lomba pidato dan pembaca berita. Tahun 2005, Carlos pernah terbang dari Bandung ke Manado hanya untuk ikut lomba pembaca berita. Waktu itu jurinya adalah Pemimpin Redaksi Metro TV waktu itu Don Bosco Selamun dan penyiar Metro TV Najwa Shihab. Ia mendapat juara. April 2013, bertepatan puncak acara hari pers nasional diselenggarakan di Manado, Carlos akhirnya mengirim lamaran bekerja ke BeritaSatu News Channel di Jakarta. Lamarannya diterima. Carlos terbang ke Jakarta, sambil menunggu panggilan wawancara terakhir di BeritaSatu, ia mengikuti lomba pembaca berita SCTV Goes To Campus di Kampus UIN Syarief Hidayatullah Jakarta. Carlos menang dan diajak melamar di SCTV, tapi ia menolak karena sedang menunggu masuk BeritaSatu. Tak disangka, pada wawancara terakhir, ia bertemu dengan  Don Bosco Selamun yang ternyata setelah dari Metro TV pindah ke SCTV lalu akhirnya mendirikan dan menjadi Pemimpin Redaksi BeritaSatu News Channel. “Bertemu Bang Don Bosco itu keberuntungan bagi saya. Dia mentor saya. Dari menjadi reporter yang kurus hingga membina saya menjadi penyiar saat ini”, jelas Carlos.

Carlos di kalangan sesama reporter, dalam menjalankan tugas peliputannya di dalam maupun di luar negeri, dikenal sebagai jurnalis yang mahir dan gesit bahkan berani untuk melakukan pekerjaan peliputannya. Kerja yang cukup menantang saat meliput kejadian dari jarak terdekat 10 meter di lokasi kontak senjata antara polisi dan teroris di Starbucks Coffee Menara Cakrawala Sarinah pada Januari 2016 lalu.

 

Jurnalis humanis Katolik

Saat menjadi presenter Berita Satu

Kebiasaan disiplinnya yang pernah diperolehnya, dibawanya di pekerjaan yang sekarang. Carlos adalah seorang yang disiplin saat di tempat kerja, bekerja dengan detail dan jujur. Pengalaman selama menjadi reporter selama 1 tahun 4 bulan, memperlihatkannya sebagai seorang jurnalis yang humanis di dalam setiap peliputannya. Ini ditunjukkannya saat live report berlangsung dia menegur kamerawan yang bertugas dengannya untuk tidak mengambil gambar dari sisi kesedihan orang pada saat memandu laporan langsung dari pusat krisis keluarga korban jatuhnya pesawat Air Asia QZ-8501di Bandara Djuanda Surabaya. Juga saat peliputan saat live report di Kalijodo Jakarta Barat, saat di bawah jalan tol, dia bertemu dengan seorang nenek. Nenek yang tidak mendapatkan rusun, karena persoalan tidak punya KTP DKI. Nenek itu tinggal 40 tahun lamanya di kolong jalan tol dan tidak pernah mengurus KTP Jakarta. Nenek ini makan dan tidur di gubug di bawah jalan tol sudah 2 bulan sejak digusur.  Carlos menabrak aturan laporan langsung dengan mewawancarai nenek itu secara langsung. “Waktu itu saya janji ke produser hanya live report, tapi di tengah live, saya tiba-tiba wawancara nenek itu, saya bilang, nek cerita ke Pak Ahok lewat tv, bilang nenek ngga punya KTP, tolongin, masa harus tidur di kolong terus”, cerita Carlos. Dan setelah wawancara itu, Carlos ditegur namun akhirya nenek itu difasilitasi oleh Dinas Sosial setelah menyaksikan wawancara tersebut. “Saya meyakini sebagai seorang jurnalis, resikonya tinggi, namun sebagai media, kita harus menjadi suara bagi mereka yang tidak bisa bersuara” tuturnya. Acapkali jurnalis, setiap harinya menyampaikan dan menampilkan suara orang kaya dan pejabat. Carlos menuturkan bahwa ia lebih suka meminta koordinator peliputannya untuk menugaskan dia ke tempat kumuh dan tempat sampah, juga lebih suka memperhatikan mereka yang memang perlu diperhatikan. Ajaran Sosial Gereja yang pernah dipelajarinya saat kuliah, disadarinya dan terkadang sangat relevan dengan kenyataannya yang dialaminya. Carlos adalah seorang newsmaker yang berpikiran out of the box. Dalam setiap peliputannya ingin sesuatu yang lain, yang tidak biasa, yang tidak berpihak kepada mereka yang memiliki uang.

Ia pernah memproduksi karya dokumenter kemanusiaan “Kami Mau Kalimantan Kembali”. Karya yang merupakan sebuah kritik terhadap kerusakan lingkungan lahan gambut di Kalimantan Tengah menghantarnya meraih ICCTF Media Award 2014. Disusul Piala Citra Leka Birawa Tangguh Award 2015 dari BNPB. Juga mendapatkan beasiswa meliput Konferensi Perubahan Iklim PBB di San Borja, Lima, Peru.

Carlos lebih suka berbicara dengan hal terkait bagaimana manusia itu hidup sewajarnya, “Tidak ada manusia menjadi serigala bagi manusia lainnya. Saat saya menjadi presenter, saya bekerja tim. Kadang saya terlalu disiplin dan dikenal tegas. Tapi kalau menemukan kekurangan, saya akan bertanya bagaimana suatu masalah masih bisa diatasi, dan bagaimana anda bisa berbuat agar hidup menjadi lebih baik. Manusia sering salah, tapi teguran menjadi alarm untuk berbenah”, begitu Carlos memberikan pendapatnya.

Dalam menjalankan profesinya yang kini tidak lagi meliput di lapangan setelah menjadi penyiar di layar televisi, Carlos mengatakan bahwa prinsip hidupnya adalah menjadi pribadi yang tidak meniru cara hidup, tapi meniru cara bertindak. Menjadi diri sendiri kuncinya. Ia menyebut beberapa presenter senior yang menjadi idolanya yang diperhitungkan karena nilai-nilai itu. “Ada banyak presenter yang memiliki keyakinan yang sama dengan saya. Saya belajar dari mereka, saya tidak meniru cara mereka hidup, tapi saya meniru cara mereka bertindak saat menjadi jurnalis, menjadi seorang yang humanis dan peduli menyuarakan suara orang miskin harus menjadi visi misi saya sebagai Jurnalis Katolik”, tegas Carlos.

 

Relasi baik dengan Gereja

Saat MeRasul bertanya apa yang bisa diperbuatnya untuk gereja? Carlos mengingat pertanyaan yang pernah dilontarkan bibinya, yang juga seorang aktivis Gereja di Bekasi kepadanya. “Masih ke gereja nggak..? terus pelayanannya apa?”. Spontan ia memberikan respon atas pertanyaan ini, “Ada nggak yang mau ajak saya apa? Ya sudah terserah sebisanya saya apa yang saya bisa bantu, akan saya bantu seperti memberi kesaksian seperti ini, kesaksian apa yang bisa saya berikan dengan senang hati akan saya berikan”. Pengalamannya pernah mengalami kegagalan dan kekecewaan saat di Seminari tidak membuatnya malu. Carlos tetap menunjukkan antusiasnya mau membantu untuk pelayanan. “Saya diminta memberi rekoleksi untuk OMK Paroki, saya siapkan dan saya iyakan, di sana saya sharing soal bagaimana tetap menjadi Katolik dalam keadaan paling menyulitkan, bagaimana menjadi orang Katolik yang berkualitas dalam masyarakat. Atau kalau ada yang minta saya menjadi MC, saya iyain, walaupun saya sibuk, saya mencoba minta izin sebisanya. Itu yang coba saya usahakan, tidak banyak-banyak dulu. Bulan ini, saya menulis surat lamaran menjadi lektor di Paroki Santa Theresia Menteng, saya bilang, semoga Tuhan menyediakan waktunya, saya bersedia mengikutinya. Talenta saya adalah membacakan berita, saya ingin saya bisa membacakan Sabda juga kepada umat. Sedikit saja dulu.”, cerita Carlos soal pelayanannya.

Menurutnya melanjutkan pernyataan disampaikanya sebelumnya bahwa , “Gereja itu sebenarnya tidak tinggal diam untuk hidup saya. Seharusnya setiap orang ke gereja karena ingin mencari dan mendapatkan kepenuhan iman dan mendapatkan, seperti saya yang pernah kecewa dan gagal. Saya kok merasa bahwa Gereja itu yang datang ke saya”. Carlos bercerita pengalaman sapaan para Pastor OSC yang menghubunginya lewat media sosial. “Beberapa Pastor mengemukakan kebanggaan mereka, ada yang memberi dukungan, agar tetap semangat, dan ada yang bilang bahwa mereka bangga ada mantan frater yang berhasil menjadi sesuatu yang berguna bagi masyarakat”, cerita Carlos. Itu membuat Carlos seperti masih dihargai. Ia merasakan ini adalah Gereja yang datang baginya dan memberi dukungan untuk tetap teguh mengimani Yesus. Carlos bercerita tentang pertemuannya pertama kali sejak lama tidak bertemu dengan Mgr. Antonius Subiyanto, OSC, Uskup Bandung yang sewaktu dirinya masih frater adalah Provinsialnya. “Saya ketemu Monsinyur Anton, dia Sekjen KWI, waktu itu dia mengucap syukur bertemu mantan anak didiknya, sudah berhasil dan tetap menjadi Katolik”, cerita Carlos. Carlos mengatakan bahwa Gereja dengan dirinya tidak pernah akan terpisahkan, relasi itu tidak akan putus. Saat ke gereja ia mengisahkan perasaannya yang masih merinding dan bahkan matanya bisa berkaca-kaca hingga meneteskan air mata, saat menyanyikan Doa Bapa Kami. Dalam hidup doa, untuk momen tertentu Carlos tidak suka hura-hura, tapi lebih suka berkunjung ke Gua Maria sendiri. Dalam Ulang Tahunnya misalnya, tepat sedang mengikuti kegiatan workshop di Singapura, Carlos bergegas ke Katedral Gembala Baik Singapura untuk mengikuti misa harian pada hari ulang tahunnya. Kebiasaan hidup saat membiara masih terbawa, di kehidupan setiap hari, ia suka menyalakan lilin dan mencium aroma kemenyan saat berdoa di kamarnya. Rosario harus dekat dan menjadi teman tidurnya, karena ketika mimpi buruk rosario ini menjadi pegangannya.

 

Terus Belajar untuk Hidup

Di ruang kerja

“Saya memilih untuk tetap menjadi Katolik, daripada menikah dengan jodoh beragama lain walaupun secantik apapun itu”, pungkas Carlos tentang bagaimana jodoh hidupnya. Di usia menginjak 31 tahun, Carlos menyerahkan jodohnya kepada Tuhan Yesus. “Biar Tuhan yang menyediakan, Dia tahu mana yang tepat agar saya tetap Katolik”, tambahnya. Dalam kesibukannya sebagai seorang jurnalis, sekarang Carlos melanjutkan studinya sebagai mahasiswa Filsafat di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta. Baginya, ini juga menjadi salah satu cara untuk terus mencari Tuhan, dan terus setia kepada Tuhan.  Carlos juga menganggap bahwa belajar filsafat seperti refreshing dari aktivitas kota Jakarta yang padat. “Saya nggak berani ngomong saya akan jadi apa, apa berubahkah saya nanti, karena masih berproses. Ingin lebih beriman aja, ingin lebih tahu kebenaran-kebenaran itu di dalam hidup sehari-hari, maka belajar dan terus belajar untuk hidup selanjutnya. Ingin lebih baik, tidak ingin menjadi pribadi yang jalan di tempat imannya, karena nanti juga akan mati. Satu yang penting, saya ingin mati sebagai seorang Katolik”, tutupnya.

Dalam situs Wikipedia dan profilnya di BeritaSatu.tv, Carlos menulis bahwa kebenaran, pembelajaran, disiplin, dan doa, adalah empat hal yang mengarahkan hidupnya menggeluti profesinya sebagai seorang Jurnalis. Carlos Michael Kodoati, sampai saat telah berhasil membawakan sejumlah program TV diantaranya, Indepth, News Update, Connect 360, News on the Spot, Soundbite, Prime Time, Jurnal Malam dan program lainnya. Berto

 

 

Profil Singkat Carlos Michael Kodoati

Nama Babtis : Carlos Michael Jackson Kodoati

T.T.L : Watutumou-Minahasa Utara, 11 Mei 1986

Paroki : Santa Theresia Menteng, Jakarta Pusat

Pekerjaan : News Anchor BeritaSatu News Channel

Twiter/Instagram : carlosmichael_k

Hobi : Membaca, membaca dan membaca

Kontak : saya@carlosmichaelkodoati.com

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY