Satu Bata, Persembahanku bagi Gereja

0
86

Pengurus St. Yusuf, Adam Krisnanto, Yosua Sugijanto, dan Alex Pondaag

YESUS telah tertunduk tak bernyawa di kayu salib. Yusuf dari Arimatea meminta ijin kepada Pontius Pilatus untuk menurunkan jenazah-Nya. Kemudian Ia membersihkan tubuh Yesus, memberikan rempah-rempah, membungkus-Nya dengan kain lenan, serta membaringkan-Nya di sebuah gua di tanah miliknya.

Belas kasih Yusuf dari Arimatea ini menginspirasi umat Katolik untuk membantu umat yang meninggal dunia (terutama kaum papa), agar jasadnya mendapat penghormatan yang layak. Entah dikubur atau dikremasikan. Untuk itulah, didirikan Yayasan Kedukaan dengan mengambil nama St. Yusuf.

Beruntunglah, Gereja memiliki beberapa orang yang hatinya penuh rasa kasih seperti hati Yusuf dari Arimatea. Mereka sudi membaktikan diri untuk melayani umat Paroki Sathora, membantu mempersiapkan segala kebutuhan upacara kematian sehingga keluarga yang berduka dapat melepaskan kepergian orang yang dicintainya secara terhormat.

 

Adam Krisnanto, 65 tahun, telah mengurus St. Yusuf sejak tahun 2008. Berarti pada tahun 2017 ini, ia telah menjalani sembilan tahun masa kepengurusannya, dan ternyata masih akan berlanjut satu periode lagi.

Sebenarnya, dulu Adam ingin membantu Bagian Umum Gereja yang bertugas memelihara kebersihan  dan perawatan berbagai macam sarana fasilitas gereja. Tetapi, rupanya Tuhan melihat bahwa kehadiran dan tenaganya lebih dibutuhkan untuk mengurus St. Yusuf. Pada waktu itu St. Yusuf masih pada posisi Subseksi Kedukaan di bawah PSE (Pertolongan Sosial Ekonomi),  dan orang yang mengisi posisi tersebut pindah ke luar kota.

 Mula-mula, rasanya sulit sekali menjalani kewajiban sebagai pengurus kedukaan. Tak jarang, sudah kerja pontang-panting karena kebingungan, malah mendapat bonus complain dari pihak yang dibantunya. Namun, lama-kelamaan, dengan berbagai pengalaman yang dihadapinya, akhirnya Adam benar-benar menguasai lika-liku tanggung jawabnya  (catatan : informasi mengenai St. Yusuf yang lebih terperinci, akan dijabarkan dalam artikel terpisah). Pengalamannya menjadi prodiakon juga semakin melengkapi unsur pelayanannya ini.

Ia jadi terbiasa melihat jenazah, bahkan semakin jeli memeriksa segala situasi keluarga yang dibantunya. Apakah jenazah sudah ada ruang persemayamannya, sudah rapi dimandikan atau belum, apakah peti dan mobil jenazah sudah siap, tempat pemakaman /krematoriumnya sudah dikontak atau belum, hingga proses melarung bagi jenazah yang dikremasi.

Berbeda dengan Yosua Sugijanto. Ia terpanggil melayani kedukaan berdasarkan pengalamannya sendiri ketika sang ibunda meninggal dunia. Waktu itu kira-kira tahun 2004. Di RS. Harapan Kita, ia termangu-mangu di depan kantor suatu yayasan yang mengurus perlengkapan kematian. Perlengkapan materi seperti taplak putih, lilin, salib, dan lain-lain, bisa dibelinya di kantor itu. Tetapi, bagaimana dengan imam atau prodiakon yang bertugas memimpin Misa Requiem dan ibadat pelepasan?

Sugijanto dan keluarganya yang sama sekali tidak mengerti prosedurnya meminta bantuan St. Yusuf. Ketika ibundanya akan dikremasi, ia tersentak, “Kok ibu saya tidak ada yang mendoakan?”

Kebetulan ada prodiakon yang baru saja selesai memimpin Doa Pelepasan Jenazah di sebelah peti ibunya. Maka, ia segera meminta kesediaan prodiakon tersebut untuk mendoakan ibunya pula. Sejak saat itu, ia menyadari bahwa Gereja kita belum mengkoordinir urusan kedukaan dengan rapi.

Tiga tahun yang lalu, 2014, Sugijanto bertemu Adam. Ia menyatakan kesediaannya membantu menjadi pengurus St. Yusuf, terutama sebagai Sekretaris Bagian Legal. Latar belakangnya sebagai Sarjana Hukum, memperkuat pelayanannya dalam membuat aneka perjanjian kerjasama St. Yusuf dengan berbagai pihak terkait secara hukum.

 

Alex Pondaag, 40 tahun, secara tak sengaja bertemu dengan  Samuel, panitia acara Fun Bike Ulang Tahun Sathora, di Mal Puri Indah, tahun 2011. Belakangan, pada suatu kesempatan berbincang-bincang, Samuel memintanya agar bersedia membantu St. Yusuf. Mula-mula, Alex ragu karena ia harus bekerja dan anaknya masih kecil. Ternyata, belakangan, ia dipercaya menjadi Bendahara 1 dalam kepengurusan periode 2014-2017. 

Sekarang, St. Yusuf sudah resmi berdiri sendiri sebagai salah satu bagian dari Gereja; bukan lagi sebagai subseksi di bawah naungan PSE.

Sebentar lagi periode 2017-2020 resmi bekerja. Oleh para seniornya, Sugijanto sedang dipersiapkan dirinya untuk menggantikan Adam kelak, pada periode 2020-2023. Ia memberanikan hati untuk menerima tanggungjawab ini, walaupun terasa berat. Sedangkan Alex Pondaag akan mengabdi pada PSE Subseksi Tenaga Kerja, menggantikan Iswara Pranawahadi.

Adam Krisnanto, Yosua Sugijanto, dan Alex Pondaag telah mempersembahkan sumbangsih bagi Gereja, mendampingi umat Paroki Sathora yang sedang dilanda duka. Hingga kini, mereka masih terus berusaha melayani yang terbaik yang dapat mereka lakukan. Bahkan mereka meminta MeRasul untuk menyampaikan pesan kepada Pembaca:  “Beritahukan dan bantulah kami agar kami dapat terus semakin baik melayani Anda.”          

 

Pengurus Legio Maria,  Audrey Isabella

Audrey, begitulah ia dipanggil sehari-hari. Hatinya telah mantap menjadi anggota Legio Maria Presidium Ratu Rosari sejak kelas 1 SMP pada tahun 2002. Setahun berselang, ia pindah menjadi anggota Presidium Regina Caelorum.

Ia setia melaksanakan tugas sebagai tentara Bunda Maria; mengunjungi orang sakit untuk mendoakan kesembuhannya dan memberikan penghiburan.  Ia pun telah menyumbangkan waktu dan tenaganya untuk program Ayo Sekolah dengan membimbing anak-anak peserta Ayo Sekolah untuk pelajaran bahasa Inggris. 

(Perjalanan hidupnya sudah pernah dimuat di MeRasul edisi ke-4, September – Oktober 2014).

Bagaimana pengabdian Audrey bagi Gereja, dua setengah tahun kemudian?

Ternyata, Audrey masih tetap berkarya di Legio Maria. Bahkan sejak tahun 2014, ia menjadi anggota Dewan Pusat Legio Maria se-Indonesia Barat. Ia mendapat pengalaman cukup banyak karena sering diutus melakukan kunjungan-kunjungan ke luar kota.

Selain itu, kini, ia sudah menjadi anggota Lektor. Sekali-sekali,  ia masih membantu mengajar anak-anak Ayo Sekolah, walaupun sudah bukan sebagai pengajar tetap lagi.

Sejak tahun lalu, ayahanda tercinta jatuh sakit. Audrey harus banyak mengurangi kegiatannya karena ingin merawatnya dengan sepenuh hati. Sudah waktunya, ia membalas cinta kasih orang tua yang telah berjasa besar dalam hidupnya.

Keluarga adalah Gereja terkecil. Mengurus ayah yang sudah tak bisa beraktivitas lagi, juga merupakan bukti persembahannya bagi Gereja.

Setelah Audrey menebarkan banyak karya di luar rumah, kini, ia berniat lebih fokus memperhatikan dan mendoakan ayah dan bundanya. Dengan jujur, Audrey mengakui bahwa melalui pengalamannya merawat ayah yang sakit, ia semakin jatuh cinta pada Tuhan. Ia jadi semakin memahami arti kata melayani dan memuliakan Tuhan.

Meski belum dapat memahami 100 persen rencana Tuhan terhadap dirinya, ia percaya bahwa rencana itu pasti baik adanya. Proses waktu pasti membantunya dalam menumbuhkan imannya.     

Sinta

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY