Inikah yang Kau Inginkan agar Aku Mengerti?

0
105

MENGOBROL dengan Arswendo Atmowiloto, tidak perlu berlama-lama merasa canggung.  Pembawaannya yang humoris, langsung membuat suasana menjadi santai. Apalagi sambil menikmati suguhan teh, wedang ronde, dan beras kencur di kantin tempat kami duduk-duduk.

Tema wawancara  “Apakah yang Sudah, Sedang, dan Akan Kulakukan untuk Gereja?” menjadi pembicaraan yang mengasyikkan.

Berikut petikannya:

 Mohon diceritakan perjalanan hidup Mas Wendo dari masa lalu, hingga hari ini, berproses sebagai seorang seniman atau selebriti  Katolik.

Saya berasal dari keluarga yang menganut aliran Kejawen. Tapi, keluarga saya ya bebas-bebas saja mau menganut agama apa.  Ibu saya bahkan tidak begitu mengerti siapa itu Gusti Yesus?  Dia kira Gusti Yesus itu sama  seperti Gusti Mangkunegara.  Hahahaha….

Sebelum menjadi Katolik, saya sangat penasaran akan satu pertanyaan,  ‘Pada ayat atau bagian manakah dalam Alkitab yang menunjukkan bahwa Yesus membaptis seseorang?’ Nah, tidak ada yang bisa menjawab. Ayat yang menceritakan Yesus dibaptis, ada toh? Tetapi, tentang Yesus membaptis orang, tidak ada. Gara-gara tidak ada jawaban itulah, selama 18 tahun saya tidak kunjung dibaptis.

Saya tidak bisa lulus-lulus, biarpun sudah 18 tahun menikah dengan Agnes Sri Hartini. Sampai akhirnya saya berpikir, ‘Ya sudahlah. Sekarang, urusannya bukan lagi soal jawaban atas pertanyaan itu, melainkan soal hatiku ini mau menerima Yesus atau tidak.’  Nah, saya bahkan sekarang menerima  Yesus dengan pemikiran : bila ternyata surga itu tidak ada, ya nggak apa-apa.  Saya akan tetap percaya pada Yesus. 

Kapan Mas Wendo dibaptis dan di mana?

Natal tahun 1989, di Gereja Lama Bintaro (dulu, Gereja Kodam, Uskup ABRI), dibaptis oleh Romo Sugiri, dengan nama Paulus. Tahun 1989 menjadi Katolik, tidak sampai setahun, tepatnya pada 22 Oktober 1990 terjadilah kasus yang membuat saya dijebloskan ke penjara.

Apakah Mas Wendo jadi berpikir, ‘Ini apa gara-gara saya masuk Katolik, terus mendapat beban salib seperti ini?’

Oooo… tidak! Justru ketika di penjara itulah alam pikiran saya seperti terbuka. Misalnya, waktu saya mendapat giliran tugas masak nasi goreng.  Ketika sesama narapidana memakan nasi goreng buatan saya, tahu-tahu ada yang komentar, “Wah! Nasi gorengnya pahit!”   Hah!?  Dikatai kurang pedas keq atau terlalu asin keq, itu masih bisa diterima. Lha ini kok dibilang pahit? Rasanya terhina sekali waktu itu.  Setelah hati tenang, saya merenung, ‘Tuhan, inikah yang ingin Kau jelaskan agar aku mengerti bahwa sesungguhnya Engkau telah memberiku sebuah keluarga yang bagus sekali?’   Sejak itu, saya jadi amat menghargai masakan istri saya.

Kapan kehidupan yang dirasakan paling pahit, Mas? Waktu mondar-mandir menjalani proses peradilan seperti yang sedang dilakoni Ahok saat ini, atau sewaktu di dalam penjara?

Waktu di dalam penjara. Hidup di penjara itu sangat tidak bebas. Barang-barang pribadi dikontrol ketat sekali dan harus meminta ijin khusus. Contohnya, saya ini ‘kan hobi menulis. Lha di dalam penjara, saya tidak bisa menulis wong tidak ada mesin tik.

Jadi saya berdoa, ‘Tuhan Yesus, bila memang baik adanya, berilah aku kesempatan untuk memiliki mesin tik. Akan tetapi, bila mesin tik itu tidak menjadikan aku baik, maka tak perlulah Kau kabulkan permintaanku ini.’  Eehh… dua hari kemudian, ijin memiliki mesin tik itu keluar. Berarti Yesus berkenan Arswendo berkarya di dalam sel penjara.

Berapa lama Mas Wendo mendekam di bui?

Vonisnya lima tahun, tapi saya hanya menjalani tiga tahun saja.

Setelah bebas, bagaimana Mas Wendo menata hidup kembali?

Saya tidak kembali ke Kompas, melainkan kerja di tempat lain seperti di Tempo.  Banyak kenalan dekat saya menasihati agar jangan  memberikan kesaksian-kesaksian atau menulis buku-buku yang bersifat rohani.  Tapi, saya ya tetap ingin melakukannya sesuai dorongan hati. 

Beberapa tulisan yang sudah dibukukan antara lain “Sebutir Mangga di Halaman Gereja” , kumpulan Khotbah di Penjara , dan “Berserah itu Indah”.

Saya tidak tahu mengapa, setiap kali bersujud dan berdoa di kaki patung Bunda Maria, pasti saya bercucuran air mata. Bahkan ketika pergi ke Larantuka, saya bisa nangis sampai kejer.  Bila ada yang minta untuk bersaksi terutama kalangan mahasiswa/pelajar, maka saya memberikan kesaksian. Ada banyak kalangan seniman, selebriti, dan desainer terkenal yang mendapat pengalaman pahit ketika baru masuk Katolik. Saya sering sekali menjadi tempat bertanya bagi teman-teman seperti itu.

Apa rencana atau pemikiran Mas Wendo ke depan?

Saya tak berpikir lagi  untuk mengejar karir seluas mungkin atau menumpuk harta setinggi mungkin.  Saya sungguh menyadari bahwa  Tuhan Yesus telah mencintai saya terlebih dahulu, sebelum saya menerima dan mencintai-Nya.  Setiap hari yang selalu menjadi daftar permintaan dalam doa saya adalah: keselamatan, karena kita tidak pernah bisa menjamin keselamatan kita sendiri. Ada kuasa lain.  Kebahagiaan, semua orang pasti menginginkan kebahagiaan. Kesehatan dan Rezeki. Saya selalu mendahulukan minta rezeki.  Tidak punya pangkat  tidak apa-apa, asalkan diberi rezeki yang cukup.

….

Ayah tiga anak yang sudah menikah semuanya dan kakek enam cucu ini menikmati masa senjanya dengan damai. Ia terus mensyukuri pemberian Tuhan nan indah, berusaha memimpin keluarganya sebaik mungkin.

Bertepatan dengan hari wawancara MeRasul, Agnes Sri Hartini berulang tahun. Arswendo mempersembahkan puisi singkat namun mesra sebagai  hadiah ulang tahun untuk istri tercinta, yang telah setia hadir dalam kehidupannya, terutama pada saat yang paling sulit.   

“Setelah 46 tahun bersamamu, Uti, aku ingin 46  tahun yang berikutnya. Biarlah para cucu  tahu bahwa kita telah lama dan berbahagia.”       

Sinta

 

SHARE
Previous articleKebebasan Beragama
Next articlePenganiaya Jadi Pewarta

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY