Penganiaya Jadi Pewarta

0
97

 Dalam perjalanannya ke Damsyik, ketika ia sudah dekat kota itu, tiba-tiba cahaya memancar dari langit mengelilingi dia. Ia rebah ke tanah dan kedengaranlah olehnya suatu suara yang berkata kepadanya: ”Saulus, Saulus, mengapakah engkau menganiaya Aku? Jawab Saulus: “Siapakah Engkau, Tuhan?” Kata-Nya: “Akulah Yesus yang kau aniaya itu.” Baca keseluruhan Kis 9:1-19a.

 

DALAM Kisah Para Rasul, kisah pertobatan Saulus dikisahkan tiga kali (Kis 9:1-19a, 22:1-22, 26:12-23). Liturgi Gereja merayakan peristiwa tersebut setiap tanggal 25 Januari dalam Pesta Bertobatnya Santo Paulus. Pengalaman seperti apakah yang dialaminya?

Saulus, tokoh muda Yahudi, dididik dengan teliti oleh rabi terkenal pada saat itu, Gamaliel. Saulus adalah ahli kitab suci dan hukum Yahudi. Ia seorang Farisi menurut mazhab yang paling keras dalam agama Yahudi. Baginya, Yesus orang Nazaret yang mati di salib itu adalah orang yang dikutuk Allah (Ul 21:22-23).

Suatu ketika Mahkamah Agama menjatuhkan hukum rajam kepada Stefanus, seorang pengikut Kristus. Saulus melihat dan mendengar kemarahan orang yang melempari batu-batu. Ia melihat Stefanus bersimbah darah, dengan luka-luka di sekujur tubuhnya. Baginya, Stefanus layak mati. Pengikut orang yang dikutuk Allah, harus dibasmi! Karena melakukan kebodohan dengan melanggar hukum Taurat (Kis 7:58; 8:1-3).

Ketika melihat bertambah banyaknya pengikut Kristus, Saulus semakin berkobar-kobar untuk mencari mereka di mana pun berada. Hal ini dianggap sebagai kewajiban keagamaan untuk mempertahankan iman akan Hukum Taurat (agama dan tradisi nenek moyang). Supaya memiliki kewenangan yang lebih luas untuk memburu, menangkap, menganiaya, dan membunuh, Saulus menghadap Imam Besar dan meminta surat kuasa darinya. Lalu, apa yang terjadi?

Ketika sudah dekat kota Damsyik, tiba-tiba cahaya memancar dari langit mengelilingi dia. Ia pun rebah ke tanah dan mendengar suara yang memanggil namanya dengan penuh kasih, “Saulus, Saulus, mengapa engkau menganiaya Aku?” Suara itu dalam bahasa Ibrani, bahasa ibu Saulus (Kis 26:14). Tetapi, ia belum mengenal suara itu sehingga ia bertanya, “Siapakah Engkau, Tuhan?” Jawaban yang diterima Saulus adalah jawaban dari Yesus yang bangkit, “Akulah Yesus yang kau aniaya itu.

Saulus mengalami pengalaman disapa oleh Yesus orang Nazaret yang disalib, wafat, dan dimakamkan. Orang yang dikutuk Allah, kini bangkit dan menyapanya secara pribadi. Sebagai orang Farisi, ia percaya pada kebangkitan.

Ia yang tadinya mempunyai kekuasaan begitu besar untuk memburu dan menganiaya, kini tidak berdaya. Terjadi pergumulan batin yang luar biasa untuk dapat menerima Yesus. Ia berada dalam kegelapan (kebutaan mata dan pendengaran) akan kasih-Nya. Pikirnya, “Apa salahku? Aku berbuat sesuatu yang benar menurut Hukum Taurat! Aku taat menjalankan kewajiban imanku!”

Menurut perhitungan manusiawi, Saulus tidak mungkin bisa menerima pewahyuan rahmat Ilahi yang akan mengubah hidupnya.

Tiga hari lamanya ia tidak dapat makan dan minum. Dalam situasi bimbang dan tidak berdaya, ia hanya terus berdoa. Melalui Ananias orang yang penuh Roh Kudus. Orang yang seharusnya takut untuk diburu dan dibunuh, justru hadir memberikan kekuatan dan peneguhan. Saulus keluar dari kegelapan menuju cahaya Yesus yang bangkit (matanya dapat melihat). Dan Saulus dibaptis. Perjumpaan dengan Yesus yang bangkit telah membuka pewahyuan Ilahi mengenai keselamatan. Sekarang, dia yakin bahwa Yesus Kritus yang bangkit itulah yang mampu menyelamatkan manusia.

Pengalaman ini membuat dia berani memilih menjadi pengikut Kristus dan mewartakan-Nya ke seluruh dunia, bahkan rela menderita untuk-Nya. Ia menanggung banyak penderitaan. Tetapi, bagi Paulus, menderita demi pewartaan Injil merupakan kebanggaan, sebab salib Kristus itu merupakan suatu kebijaksanaan Allah dalam menampakkan kasih-Nya yang besar.

Bagaimana dengan kita semua? Semoga kita yang telah mengalami Yesus yang bangkit, mampu menjadi pengikut Kristus dan mewartakan Injil. Dengan situasi Negara seperti saat ini, dengan sejumlah persoalan sosial dan politik yang begitu rumit, beranikah kita mewartakan Yesus yang bangkit sebagai Tuhan yang menyelamatkan? Jangan takut! Tuhan Yesus menyertai kita dan Roh Kudus-Nya pasti membimbing dan menguatkan kita semua.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY