Dipanggil untuk Melayani

0
254

HIERARKI Gereja dipahami sebagai struktur Gereja Universal dalam suatu kesatuan perutusan Ilahi yang diberikan Kristus kepada para rasul-Nya hingga akhir zaman. Dikaitkan dengan Gereja Katolik, hierarki adalah suatu struktur Gereja Universal dari awal Gereja era Rasul Petrus, terus berkelanjutan hingga masa kini bahkan hingga akhir zaman nanti. Hierarki Gereja Katolik terlihat dalam keberadaan Paus, uskup, imam, dan para diakon yang membantu uskup.

Dalam lingkup wilayah parokial, keberadaan seorang imam/pastor/romo menjalankan fungsi sebagai pembantu uskup untuk memimpin dalam suatu paroki yang menjadi bagian dari suatu keuskupan.

Tugas konkret para imam adalah mewartakan Injil dan menggembalakan umat. Dalam menjalankan fungsi ini, imam mengajak seluruh umatnya untuk ikut ambil bagian di dalam tugas Kristus sebagai nabi (mengajar), imam (menguduskan), dan raja (menggembalakan).

Pada kenyataannya umat paroki/gereja yang heterogen yang berada di dalamnya,  memiliki bagian masing-masing, peran yang berbeda-beda, baik peran biarawan/biarawati (klerikal)) maupun peran awam. Mereka menjalankan tugas dan fungsi yang berbeda. Fungsinya menjalankan tugas Gereja dan tugas kepemimpinan dalam komunikasi iman ke seluruh umat.

Keterlibatan imam di dalam pelayanan di struktur yang dekat dengan awam dalam lingkup parokial sebagai pengejawantahan kepemimpinan Gereja, yakni sebuah panggilan di mana Tuhan memiliki peranan yang dominan. Bukan berdasarkan pada bakat, kecakapan, dan prestasi. Ini bukan didapatkan pada kekuatan manusia belaka. “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu”. Panggilan yang bersifat mengabdi dan melayani dengan setia.

 

Tak Kenal Kata Pensiun

Misa Minggu, 21 Mei 2017 pukul 08.30, terasa lebih istimewa karena merupakan  Misa Lepas – Lantik Pengurus  Harian Gereja Paroki St. Thomas Rasul periode 2017-2020, mulai dari Dewan Paroki (DP) hingga ketua lingkungan. Misa yang dipimpin secara konselebrasi oleh tiga romo, RD F.X. Suherman, RD Paulus Dwi  Hardianto, dan Vikjen Keuskupan Agung Jakarta RD Samuel Pangestu.

“Jika engkau mengasihi Aku, maka kamu akan menuruti segala perintah-Ku. Aku akan minta  kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran.“  Demikian cuplikan Injil Yohanes  14  yang menjadi tema Misa pada Minggu, 21 Mei 2017.

“Sungguhkah kita mengasihi Kristus?” tanya Romo Samuel di awal homilinya.  “Apabila kita benar-benar mengasihi Kristus, berarti  kita mengasihi sesama kita. Contohnya, rekan-rekan dalam komunitas Dewan Pleno Paroki St. Thomas Rasul. Biasanya kita hanya menyayangi yang baik-baik saja, umat yang baik, romo yang baik.  Namun, bila kita hidup dalam komunitas cinta kasih maka kita harus bisa mencintai pula mereka-mereka yang kurang baik. Justru inilah tugas kita, mencari domba yang hilang, menemukan mereka kembali, melayani dan menerima mereka apa adanya. Baik kelebihannya sekaligus juga segala kekurangannya.”

Masih ada pesan Romo Samuel dalam homilinya sebelum melakukan pelantikan.  Lektor memanggil pengurus baru Dewan Paroki Harian satu per satu. Mulai dari Romo Herman sebagai Ketua Umum Dewan Paroki, dilanjutkan Ketua I DP  Romo Anto,  dan seterusnya hingga ketua lingkungan. 

Di akhir Misa, ucapan terima kasih Romo Herman kepada pengurus lama yang telah bersedia memberikan waktunya untuk melayani umat dan Gereja. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada keluarga dan pasangan pengurus lama atas pengorbanannya mendukung pasangannya selama bertugas.

Pasca Misa bubar, acara berlanjut ke Gedung Karya Pastoral lantai 4.  Sertifikat Penghargaan kepada Pengurus Lama dan Sertifikat Pelantikan Pengurus Baru diserahkan.  Kepada pengurus baru, Romo Samuel dan Romo Herman mengucapkan selamat bekerja. Pesan kembali disampaikan dalam pengantar acara, hendaknya semuanya  memiliki semangat pelayanan sesuai kebisaan masing-masing.

Di akhir sambutannya, sekali lagi ucapan terima kasih disampaikan Romo Suherman kepada pengurus lama yang sudah selesai masa baktinya. Namun, bukan berarti mereka berhenti melayani, karena pelayanan tidak kenal kata pensiun.

Sinta

 

Pembekalan Pengurus Sathora

Dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama, pada Sabtu-Minggu 10-11 Juni 2017, bertempat di Sentul, berlangsung pembekalan Pengurus DP Pleno yang baru dilantik. Sebelumnya, Pengurus DP lama telah mempercayakan panitia pelaksanaan pembekalan ini kepada komunitas OMK PANEN (Pendalaman Alkitab SeNEN).

Perbincangan MeRasul bersama dua orang PANEN, Putri dan Reza, di sela-sela pembekalan berlangsung, sedikit banyak mengungkapkan mengapa akhirnya mereka yang menjadi Organizing Committe (OC).

Tidak sampai dua bulan persiapan ini dilakukan oleh tim PANEN, yang awalnya hanya sebagai pengisi acara sebagai tim Pujian. Tim PANEN langsung menyanggupi saat ditunjuk sebagai OC acara ini 2-3 minggu sebelum acara ini berlangsung dan sejak saat itu mereka langsung bersiap diri lebih intens. Jadilah tim PANEN sebagai OC, dengan di-back up DPH.

Meeting pertama langsung bagi tugas, dengan melibatkan delapan personilnya. Awalnya, ditawarkan untuk semua anggota PANEN. Jauh sebelum penunjukan, persiapan lainnya sudah dilakukan oleh pengurus DP lama. Persiapan untuk lokasi dan akomodasi sudah dikonfimasi sejak awal. Hal ini jadi lebih meringankan tugas OC dan mereka dapat lebih fokus untuk acara pembekalan dan tentunya pujian dan fellowship.

Lalu, apa-apa yang menarik dari keterlibatan komunitas PANEN dalam acara Pembekalan. Komunitas OMK ini baru berusia 2,5 tahun. Sebagai penyelenggara, tim PANEN dengan senang hati dan antusias mewarnai acara menjadi lebih hidup. Acara yang berlangsung serius tapi santai ini diisi dengan materi yang telah disiapkan secara matang. Steering Committe yang akan diterima sebagai bekal para pengurus ini, yang sebagian besar didominasi oleh orang-orang baru. Pujian dan gerak serta tarian sesekali dipraktikkan peserta bersama tim pujian PANEN.

PANEN sebagai komunitas anak muda sebagai bentuk tanggung jawab umat untuk terus terlibat dalam setiap sisi aktivitas Gereja, tak terkecuali Gereja St. Thomas Rasul, Paroki Bojong Indah. Walaupun persiapan waktu yang cukup singkat, namun delapan anak muda ini tetap memiliki semangat melayani.

Waktu dua hari acara ini cukup untuk pembekalan dan orientasi bagi pengurus baru dan pemantapan bagi pengurus yang sudah pernah memegang tanggung jawab pada periode sebelumnya. Pengurus terpilih kali ini terlihat siap untuk memulai pelayanan yang lebih besar dalam kepengurusan DP Pleno Sathora.

                

Kemampuan Melakukan Kebaikan

Komposisi kepengurusan DP Pleno Sathora 20 awal 2017 – 2020 kali ini,  termasuk salah satunya tercantum nama Riko sebagai ketua lingkungan. Ia adalah seorang anak muda yang belum berkeluarga. Ia mendapat tanggung jawab untuk memimpin Lingkungan Yosef 4.

Saat berbincang dengan MeRasul, Riko bercerita bagaimana dia menerima penugasan sebagai ketua lingkungan. Diawali dengan keterlibatannya dalam sebuah pertemuan pendalaman Kitab Suci, di mana Riko sebagai pewarta yang mengisi renungan. Saat dia membawakan renungan, sebagian besar umat lingkungan terkesan dan merasa apa yang dibawakannya mengena untuk umat yang hadir.

                 Nama Riko muncul dari proses pemilihan melalui amplop berjalan, yang berasal dari para keluarga di Lingkungan Yosef 4. Akhirnya, terkumpul suara yang didominasi nama Riko, dengan jumlah lebih dari 80 persen umat memilihnya. Kalau boleh diminta memilih, Riko ingin masuk di bagian pembinaan umat sesuai bidang yang dikuasainya, yakni sebagai pewarta muda.

Alhasil, DPH memutuskan bahwa dia sudah dinyatakan terpilih dan disahkan sebagai Ketua Lingkungan Yosef 4 untuk periode ini. Maria Titin sebagai Koordinator Wilayah Yosef langsung memberitahukan kepada Riko bahwa ia terpilih sebagai ketua lingkungan.

Selang beberapa hari setelah itu, melalui telepon pada pagi hari, Romo Herman menyampaikan kepada Riko bahwa ia tepilih menjadi Ketua Lingkungan Yosef 4. Ucapan selamat melayani dari pastor, menjadi penyemangat bagi Riko untuk memimpin umat Lingkungan Yosef 4.

Dari obrolan sejenak bersama Riko, terungkap harapan bagaimana pelayanan yang baik itu dapat dilaksanakan.  Demikian ia memberikan pernyataannya, bahwa ia harus memimpin orang-orang yang lebih senior. “Segala sesuatunya bukan merupakan kebetulan. Ini sudah sesuai dengan jalan yang diberikan-Nya dan sudah menjadi rencana Tuhan,” ungkap Riko.

Dilihat dari umurnya, Riko adalah salah satu orang muda yang menjadi ketua lingkungan. Talenta yang sudah melekat dalam dirinya, membuatnya semakin diberikan jalan untuk dapat lebih melayani serta menjadi bekal untuk dapat melakukan misi pewartaan bagi banyak orang di tempat dan di ruang lingkup yang berbeda. “Saya berharap berharap umat pro aktif di lingkungan,” harap Riko.

Riko sadar, sebagai OMK, tidak mudah untuk mengumpulkan umat. Sense of belonging umat perlu ditumbuhkan di komunitas lingkungannya sendiri.

Rasa ingin lebih dihargai bukan semata menjadi keinginan perorangan umat. Namun, dengan saling menghargai antar umat semakin memunculkan penghargaan akan eksistensi dan kehadiran mereka dalam kegiatan atau acara lingkungan, wilayah, paroki, dan komunitas.

Di sini tidak dilihat lagi apakah mereka memiliki kedudukan yang lebih tinggi atau lebih rendah dengan umat lainnya. Kehadiran mereka saling melengkapi satu sama lain.

Pendapat yang terlontar saat perbincangan MeRasul dengan Riko tentang seorang pemimpin. Quote dari Maxwell, bahwa segala sesuatu jatuh dan bangun ada di tangan seorang pemimpin. “Di sini umat melihat siapa yang bisa memimpin mereka, berarti saatnya kita bisa bergerak. Menjadi seorang pemimpin tidak mudah, tapi pada saat diberi kepercayaan, kita bisa memanfatkan itu sebagai sesuatu yang positif. Kita bisa menggerakkan massa dan membuat mereka menjalin hubungan bukan dengan mereka sendiri tetapi dengan Tuhan.”

Riko menambahkan, “Kita semua diberi kemampuan untuk melakukan kebaikan bersama.” Ia menyampaikan harapannya untuk orang muda lainnya, “Bahwa kedewasaan bukanlah masalah umur tapi pola pikir dan cara pandang dan juga niat kita untuk membawa kebaikan bagi sesama. Bagi mereka yang saat ini belum menjabat, tidak usah menunggu statusnya menjadi memimpin. Bekal yang didapat saat ini dan rasa percaya itu yang digunakan untuk memimpin. Pemimpin sejati adalah pemimpin yang mengerti akan kebutuhan umatnya.” Welcome Riko, selamat memimpin umat lingkungan.

Lain halnya dengan Wahyu, Ketua Lingkungan Lucia 2 yang baru. Beberapa bulan sebelumnya, Wahyu baru saja bergabung di komunitas prodiakon. Ia menjadi prodiakon baru pada tahun 2016. Ketua lingkungan lama di mana dia menjadi umatnya, sudah menjabat selama dua periode. Seolah sudah tidak ada lagi calon yang bisa menggantikan ketua lingkungan lama. Untuk jabatan ketua lingkungan,  rupanya lebih mudah mengajak berbicara Wahyu untuk ketua berikutnya di lingkungannya. Tidak terlalu lama baginya untuk menerima tawaran ini. Tidak ada terucap penolakan dari mulut Wahyu.

Pada tahap selanjutnya keputusan menerima jabatan ketua lingkungan ini dikonfirmasi ulang oleh salah seorang anggota DPH. Setelah dimantapkan lagi oleh Romo Herman sebagai pastor kepala paroki, Wahyu semakin yakin. Ia menerima dengan keikhlasan hati. Jawaban dari Wahyu saat ditanya apakah ia mau menjadi ketua lingkungan saat itu, “Ya Romo, saya bersedia menjadi ketua lingkungan,” jawab Wahyu singkat.

Menurutnya, ini adalah sebuah panggilan, panggilan dalam dirinya yang mengalir. Menurutnya, Tuhan memberikan jalan kepadanya karena pada saat yang hampir bersamaan –hanya berselang beberapa bulan– Wahyu mengiyakan dirinya menjadi prodiakon dan juga menjadi ketua lingkungan.

Wahyu menikmati saat ia menjadi bagian dari umat di lingkungannya. Katanya, orang-orang di lingkungannya asyik. Dukungan keluarga didapatkannya tidak serta-merta. Namun, dukungan ini ia dapatkan secara lambat-laun seiring dengan berjalannya waktu. Mereka menerima dan akhirnya memberikan support.

Menurutnya, dalam diri pimpinan dibutuhkan keikhlasan.  Sebagai ketua, Wahyu menjalankan tugasnya dengan bekerja dan berdoa di sepanjang hidupnya. Menurutnya, mungkin Tuhan sudah menunjuk Wahyu. Awalnya, seperti terbeban untuk sebuah tanggung jawab. Namun, akhirnya dijalaninya dengan ikhlas.

Wahyu berharap menjadi bagian dari tiga komunitas sekaligus, yakni komunitas lingkungan, komunitas prodiakon, dan menjadi bagian komunitas para ketua lingkungan dalam DP Pleno Sathora.

 

Bersama Melayani

Selain ketua lingkungan, ada juga pasangan yang bersedia dipanggil dalam pelayanan ini. Benny dan Rika, pasutri yang telah aktif sebelumnya dalam komunitas Marriage Encounter (ME). Saat menjawab beberapa pertanyaanMeRasul, Benny dan Rika bercerita saat awal mereka ditawari menjadi pengurus Seksi Kerasulan Keluarga (SKK) periode 2017-2020.

Sebelumnya, mereka telah bergabung dalam komunitas ME selama 16 tahun; tidak hanya di lingkup Paroki Sathora. Dengan melayani di tempat lain, pasangan Benny – Rika tetap ingin melayani di paroki sendiri. Hal itu membuat pasangan Benny dan Rika mau menerima jabatan sebagai Ketua SKK.

Awalnya, mereka tidak berpikir bahwa ketua seksi ini harus berpasangan. Pengisian data sebagai ketua seksi diberikan kepada mereka berdua. Hanya seksi ini yang harus dipegang secara berpasangan. Tidak banyak pertimbangan bagi pasutri Benny – Rika untuk memutuskan menerimanya, karena pengalaman mereka sebelumnya, mereka selalu aktif dan berkegiatan bersama-sama.

Lalu, adakah harapan mereka setelah menerima tugas sebagai Ketua SKK? Bagaimana mereka memahami tugas ini? Apa yang akan dicapai oleh seksi ini sebagai sebuah pelayanan? Bagaimana untuk pencapaian SKK ke depan? Salah satunya, membangun SKK Lingkungan. Tujuannya, dapat menyelamatkan dan memperdayakan perkawinan umat lingkungan. Juga melaksanakan tugas konseling dan Mengelola Rumah Tangga (MRT) untuk umat paroki. Bekerjasama dengan ketua lingkungan dan melalui SKK Lingkungan, ikut membantu menyelamatkan perkawinan umat. Melakukan konseling adalah salah satu point menyelamatkan perkawinan. Menjalin mitra antara paroki – institusi konseling, termasuk di dalamnya melibatkan para konselor muda.

Misi menyelamatkan perkawinan keluarga bukan tanggung jawab SKK saja, melainkan tanggung jawab kita bersama. Selamat menjalankan tugas pasutri Benny – Rika.

 

Pembekalan Kepemimpinan

Pertanyaan awal yang disampaikan MeRasul tentang suksesi kepemimpinan Sathora, menggugah semangat Winata, Wakil Ketua DPH 2014-2017 untuk membuka obrolan tentang peralihan kepemimpinan Sathora berproses.

Tentunya ini membutuhkan permikiran matang dan persiapan yang cukup untuk menjadikan peralihan ini tidak semata menjadi rutinitas setiap tiga tahun. “Ini penting untuk dapat melakukan ke depan, baik sofware maupun hardware.

Winata mengemukakan pemikiran bagaimana Sathora ke depan akan terus berkembang, banyak infrastruktur terutama sektor perumahan/apartemen yang tumbuh di wilayah Jakarta Barat, membuat paroki-paroki di sekitarnya harus siap menghadapi percepatan tumbuhnya umat, khususnya umat Katolik.

Saat ini, Sathora menggunakan Sekolah Notre Dame sebagai tempat ibadat. Penyebaran wilayah yang berada di dua wilayah besar, yakni 11 wilayah di Puri Indah dan sekitarnya (dsk) dan enam wilayah lainnya di Bojong dan sekitarnya (dsk). Dengan perkiraan jumlah 5.000 umat dalam beberapa tahun ke depan, yang terkonsentrasi di zona barat Jakarta ini, Sathora bersiap mengatasi dan bahkan siap memfasilitasi potensi umat yang semakin berkembang dari tahun ke tahun.

Suksesi ini penting karena ini masa depan Gereja. Suksesi, menurutnya, tidak berbicara tentang seorang yang mampu atau tidak mampu untuk melayani. “Yang dilayani adalah Tuhan,” katanya. Kalau keterwakilan digunakan sebagai kriteria, bukan berarti siapa mewakili apa. Membicarakan kriteria akan selalu memunculkan perdebatan. Mencermati pemilihan DPH dari dua wilayah Bojong dsk. dan Puri Indah dsk., individu calon pengurus DPH. Mereka menjadi bagian penting yang menentukan dan membawa masa depan Sathora selanjutnya.

Menurut Winata, proses discernment juga dilakukan oleh para anggota DPH untuk memilihnya, agar mereka tidak salah pilih dari daftar nama-nama yang telah didapat.

Asal nama calon muncul, menurut PGDP, semua pengurus boleh mengusulkan siapapun, cukup sampai ke DPH, bukan di Pleno. Ini menjadi keputusan Romo Paroki dan DPH. Orang per orang dikupas untuk dipastikan adalah pilihan terbaik pengurus terpilih DPH dan DP Pleno permanen.

Dari pilihan nama yang sudah siap untuk dihubungi, ada sebagian yang menolak atau tidak menerima. Kemudian setelah via telpon, mereka menyatakan kesanggupan menerima penawaran, juga melakukan kunjungan ke rumah masing-masing calon DPH terpilih. Kunjugan ke rumah oleh Romo Paroki, yang menyatakan kesediaan menjadi pengurus, dilihat sebagai simbol kedekatan Gereja dan keluarga sebagai sebuah sinergi dalam melakukan pelayanan.

Suara aklamasi untuk memilih semua calon DPH baru. Keputusan tidak berasal dari Romo Paroki seorang sebagai ketua DP. Diambil secara musyawarah dan bukan berdasarkan voting. Meminjam istilah Bapa Uskup, kata keputusan menjadi Penegasan Bersama. Pilihan DPH yang baru adalah hasil dari Penegasan Bersama. Istilah lainnya pun ikut berubah, seperti jabatan diganti dengan tugas pelayanan. Tugas pelayanan sebagai ketua wilayah/lingkungan/seksi/bagian.

Kemudian bagaimana dengan lingkungan? Mekanismenya diserahkan kepada musyawarah lingkungan; menghasilkan calon-calonyang diusulkan. Walaupun ada yang terus dan diterima di lingkungan, untuk seksi/bagian periode seterusnya otomatis berlanjut. Seksi tergantung pada musyawarah seksi. Seksi yang bahas, kalau sudah tidak ada lagi dikembalikan ke DP. Seksi yang tahu persis, karena seksi yang tahu kontinuitasnya.

Bagaimana pencapaian DPH diukur?

Ukuran pencapaian adalah bagaimana iman dan keterlibatan umat semakin meningkat. Bukan jumlah kegiatannya, namun yang penting dampaknya kepada umat. Kehadiran umat dalam setiap kegiatan, semakin banyak umat lingkungan yang terlibat. Keberhasilan seksi, bukan karena seksinya melainkan partisipasi umat yang mengikuti kegiatan yang diadakannya. Bukan pada penilaian sukses akan kegiatan, namun karena dampak dari kegiatan tersebut mampu menebarkan virus-virus positif pada umat yang mengikutinya. Umat semakin aktif di kegiatan rohani. Pencapaian fisik pun penting.

Pencatatan pencapaian bisa dilakukan dengan laporan-laporan kegiatan. Di situ ada monitoring dan evaluasi secara periodik. Juga laporan rutin yang selalu disampaikan Keuskupan. Laporan dari lingkungan tertib, juga kehadiran lingkungan di setiap rapat, kehadiran dalam acara-acara doa dan pendalaman Kitab Suci atau pertemuan. Keberhasilan kecil mempengaruhi keberhasilan yang lebih besar. Point keberhasilan ini bisa menjadi indikator keberhasilan Gereja. Semua pencapaian ini berasal dari pencapaian di lingkungan.

Proses perubahan kepengurusan ataupun pergantian personil dalam struktur paroki, tidak meniadakan arti dan peran masing-masing individu umat untuk tetap andil dan berkarya di manapun dan menjadi apa pun. “Kalau mau melayani, setelah menjadi ketua, bisa menjadi umat biasa atau menjadi anggota. Mau jadi apa pun tidak masalah,” kata Winata menutup perbincangannya.

Berto

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY