Ziarek Lingkungan Petrus 5

0
97

SEJAK awal tahun, Lingkungan Petrus 5 sudah merencanakan ziarah.  Paduan ziarah dan rekreasi ini selalu diadakan Lingkungan Petrus 5 guna menjalin tali kasih persaudaraan di antara umat. Setelah Bangka-Belitung, Manado, Cirebon, dll, Bandar Lampung menjadi tujuan ziarek kali ini .

 

Sabtu pagi, 29 April 2017, 35 peserta ziarek menuju Bandara Soetta.  Sudah ditentukan titik kumpul di Terminal 2F.  Tampak semua peserta tiba sebelum waktu yang tetapkan.  Pesawat dengan jadwal awal pukul 10.05, terlambat menjadi 10.55. Setibanya di Bandara Raden Inten Lampung, rombongan segera menuju Rumah Khalwat Ngison Nando, Kalianda.  Dibutuhkan waktu tempuh sekitar dua jam dengan bus. Untuk menghemat waktu, tour leader, Rosa, sudah menyiapkan nasi kotak untuk santap siang.  Dalam perjalanan, kejutan diberikan oleh Yuliana sebagai ‘Nyonya Rumah’  di Lampung,  berupa es teh tarik jelly  dan pempek.

 

Rombongan tiba di Ngison Nando pada pukul 13.55. Mereka sudah ditunggu grup dari Paroki Sunter untuk Misa bersama Romo Gregorius.  Karena sulitnya mencari romo pada Sabtu dan Minggu, rombongan beruntung dapat mengikuti Misa gabungan. Selesai Misa, rombongan diajak Suster Bernada untuk rehat sejenak sambil menikmati kopi Lampung dan kudapan ala dapur rumah retret. Kemudian Suster memimpin doa rosario dimulai dari ‘kubur Yesus’ dilanjutkan ke gua Maria.  Gemericik air menambah khidmat dan khusyuk doa bersama itu.

 

Pada pukul 15.30, rombongan berangkat menuju rumah makan hidangan laut di bilangan Teluk Betung untuk santap malam.  Sebelum menuju hotel,  rombongan berusaha mencari durian namun tidak ditemukan.  Sebagai gantinya, sambil menunggu proses check in, martabak manis Lampung disediakan oleh Yuliana.

 

Hari kedua merupakan hari rekreasi.  Pukul 08.10, rombongan berangkat menuju Pulau Pahawang.  Doa pagi oleh Betty Wibowo, membuka perjalanan pada hari itu. Dalam perjalanan, rombongan berdoa rosario bersama. Tiba di dermaga Ketapang pukul 10.00 dengan perahu kayu menuju tempat snorkeling di Pulau Pahawang.  Hanya sepuluh peserta snorkeling. Mereka dapat melihat tugu bertulisan “My Trip In Pahawang” di dasar laut.

Mesin perahu rusak, sambil menunggu bala bantuan, rombongan menikmati pemandangan alam indah dari perahu. Otak-otak ikan tengiri bumbu kacang menjadi kudapan sebelum makan.  Dengan menggunakan perahu lain, rombongan menuju Pulau Tanjung Putus.

Dinamakan Pulau Tanjung Putus karena proses abrasi mengakibatkan sebuah pulau besar terpisah menjadi dua pulau kecil.  

Setiba di Tanjung Putus, santap siang lezat telah tersedia.  Di sana terdapat kamar mandi untuk bilas bagi peserta setelah snorkeling.  Dengan sukacita, rombongan bersenda-gurau dan berfoto-foto menikmati karya agung Tuhan.  Beberapa orang melanjutkan snorkeling di Pulau Tanjung Putus.  

Pada pukul 15.30 rombongan meninggalkan pulau kembali ke Dermaga Ketapang.  Setibanya di Teluk Betung, rombongan diajak ke pusat oleh-oleh Lampung.  Peserta membeli oleh-oleh berdos-dos. Pempek, sponsor dari Lauren, diantar untuk dinikmati sebelum santap malam.  Setelah santap malam di rumah makan hidangan ala Cina, para peserta kembali ke hotel untuk beristirahat.

 

Pada hari ketiga rombongan kembali berziarah.  Tujuan kali ini adalah Gua Maria Padang Bulan, yang terkenal dengan Rumah Retret Laverna.  Doa pagi oleh Rosa dilanjutkan dengan menyanyikan lagu pujian. Perjalanan cukup panjang,  diisi dengan bermain dan bercanda. Tiba pukul 10.10, rombongan langsung menuju bangku di depan gua Maria.  

Christina Sumandar (Ina) memimpin doa rosario bersama.  Hari itu bertepatan dengan ulang tahun ke-25 Gua Maria Padang Bulan. Banyak umat sudah hadir ketika rombongan selesai berdoa. Mereka akan mengikuti Misa Syukur pada pukul 11.30. Maka, rombongan tidak dapat berlama-lama di depan gua Maria.  Di sana juga terdapat sendang (mata air) yang digunakan untuk cuci muka, memohon rahmat kesembuhan.

 

Pukul 11.30, para peserta diajak kembali ke bus untuk menuju rumah makan terkenal di daerah Natar. Hari itu juga salah seorang peserta, Paulina Sulistio, berulang tahun sehingga diadakan sedikit perayaan dengan meniup lilin ulang tahun.  Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 14.30, rombongan harus segera menuju Bandara Raden Inten untuk kembali ke Jakarta.  

 

Satu kata yang menggambarkan kondisi para peserta, yakni sukacita.  Itulah yang menjadi ciri khas anak-anak Allah.  Seperti kata Rasul Paulus, “Bersukacitalah senantiasa, tetaplah berdoa, mengucap syukur…” Dalam keadaan apa pun percaya, bahwa semua ada dalam penyelenggaraan Tuhan.

Lily Pratikno

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY