Connection

0
99

I fear the day that technology will surpass our human interaction. The world will have a generation of idiots”. Kutipan dari film Powder (1995) ini kemudian berkembang menjadi viral yang dinyatakan sebagai kutipan Albert Einstein.

Viral ini disandingkan dengan gambar fenomena interaksi anak muda jaman sekarang. Mereka berkumpul dalam satu tempat tapi masing-masing malah sibuk sendiri dengan gadgetnya. Mereka lupa untuk berinteraksi dengan teman yang duduk di hadapannya.   

Lepas dari apakah benar kutipan tersebut dipopulerkan oleh Einstein atau bukan, pesan yang terkandung dalam kutipan itu sendiri benar-benar menohok kesadaran kita. Tidak dapat dipungkiri, pada jaman dengan teknologi yang sedemikian maju seperti sekarang ini, sepertinya kita memang terlihat makin kehilangan kemampuan berinteraksi secara tatap muka.

Kalau jaman dahulu, keluarga bahagia digambarkan pada design biskuit Khong Guan dengan duduk bercengkerama bersama-sama di meja makan. Jaman sekarang sering kali kita melihat keluarga yang duduk bersama-sama di restoran tetapi sibuk dengan gadget masing-masing.

Pada tahun 2012, peneliti di Chinese Academy of Science menemukan bahwa mereka yang terbiasa menggunakan internet ternyata memiliki hubungan abnormal dalam serabut saraf mereka, seperti yang kerap dijumpai pada mereka yang memiliki kecanduan alkohol.  Kecanduan akan internet bisa membuat kita lupa akan pentingnya interaksi tatap muka secara langsung. Dampak dari hal ini tentunya sangat berpengaruh dalam kehidupan kita sehari-hari. 

Dalam sebuah talent mapping yang kami lakukan pada satu perusahaan teknologi terkemuka, didapatkan bahwa kompetensi yang paling rendah dari para talent mereka adalah kompetensi-kompetensi yang berhubungan dengan hubungan antarmanusia, seperti communication, coaching, teamwork, impact & influence, dan emotional intelligence. Sementara kompetensi seperti kemampuan kognitif, planning & delivery  memiliki nilai yang cukup tinggi. Manajemen pun mengakui bahwasanya mereka kesulitan untuk bersaing dengan kompetitornya karena rupanya kepala-kepala pintar itu kesulitan untuk bekerjasama menyatukan isi kepalanya untuk menghasilkan inovasi yang mampu membawa organisasi menjadi yang terdepan.

Membina hubungan melalui media sosial digital memang terasa lebih mudah. Segalanya berada dalam kontrol di ujung jari kita. Apakah kita ingin menunjukkan rasa senang, support kita pada orang lain dengan tombol like, atau ketika kita enggan mendengarkan mereka yang memiliki pendapat berbeda dengan kita, kita bisa langsung meng-unfriend saja tanpa tedeng aling-aling.

Dengan mudah kita bisa membanding-bandingkan barang untuk mendapatkan harga termurah ketika kita belanja dengan online shopping. Bandingkan dengan berapa banyak waktu yang harus kita habiskan untuk tawar-menawar dengan penjual di pasar. Interaksi tatap muka memang terasa lebih banyak risiko, selain juga memakan waktu, mulai dari kemungkinan kita menghadapi penolakan di depan muka kita, usaha yang lebih keras untuk mewujudkan secara nyata citra yang ingin kita tampilkan, sampai kepada empati yang perlu kita latih dan terapkan.

Namun, melalui interaksi tersebutlah sesungguhnya kita dapat belajar untuk lebih mawas diri, memahami dan ‘mendengarkan’ orang lain; tidak hanya dari apa yang tersurat melainkan juga apa yang tersirat.  Belajar dan bertumbuh semakin dewasa yang tidak bisa dipelajari dari Google semata, namun membutuhkan sentuhan interaksi langsung dengan individu lain. Otak yang pintar, analisa yang kuat memang dibutuhkan untuk membuat inovasi, akan tetapi yang dapat membuat sebuah organisasi bertahan terus menjadi business leader membutuhkan lebih dari sekadar kecerdasan.

Uber sebagai salah satu perusahaan startup yang paling berhasil dengan nilai USD 68 miliar saat ini juga sedang mengalami masalah yang diakibatkan oleh sikap kontroversial CEO-nya sendiri yang juga merupakan co-foundernya. Selain mengeluarkan aturan yang nyeleneh penuh kata-kata yang tidak pantas, ia juga dikenal sangat tidak dewasa ketika memaki-maki supir Uber yang komplain mengenai harga tarif yang berubah-ubah terus. Belum lagi ketika ia mencurigai kasus perkosaan oleh driver Uber di India sebagai sebuah rekayasa oleh rival bisnisnya.  Desakan agar ia mengundurkan diri pun begitu kuat demi untuk menyelamatkan perusahaan.

Beneath words and logic are emotional connections that largely direct how we use our words and logic – Jane Roberts.

Emilia Jakob (EXPERD)

SHARE
Previous articleMenjadi Saksi Kristus
Next articlePanen Jiwa-jiwa Muda

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY