Diutus, ’Mendengar’, dan Berkata

0
103

oleh Daniel Julianto (Seksi Kerasulan Kitab Suci Sathora)

Tuhan Allah telah memberikan kepadaku lidah seorang murid, supaya dengan perkataan aku dapat memberi semangat baru kepada orang yang letih lesu. Setiap pagi Ia mempertajam pendengaranku untuk mendengar seperti seorang murid. Tuhan Allah telah membuka telingaku, dan aku tidak memberontak, tidak berpaling ke belakang (Yesaya 50:4-5). Baca keseluruhan Yes 50:4-9a.

 

Dalam pelayanan, kita sering merasa takut untuk menerima perutusan; takut karena merasa belum pantas pada beratnya tugas, ataupun takut gagal, takut ditolak …! Ingat lagu KEP “Mars Evangelisasi”?

Lihatlah ladang sudah menguning, telah siap dituai. Siapa yang jadi p`nuainya, yang mau bekerja bagiKu? Inilah aku utuslah oh Tuhan, menjadi pekerjaMu. Perlengkapi dengan RohMu, ku tak berdaya sendiri. Kuutus kau, Kuutus kau dengan kuasaKu. Jangan takut, jangan tawar b`ritakan InjilKu. Bersatulah dan majulah membangun k`rajaanKu. Kupilih kau, Kuutus kau, Ku akan menyertaimu, ku mau taat, ku mau pergi dengan kuasaMu. Kuatkanlah, teguhkanlah hatiku, Tuhanku. Kami mau, kami maju membangun K`rajaanMu. Pimpin kami, urapilah dengan kuasa Roh Kudus.

Dalam Mars KEP, seseorang diutus, diperlengkapi, dikuatkan, dan diteguhkan oleh Tuhan karena dia sendiri tidak berdaya tanpa bantuan-Nya.

Demikian dalam bacaan di atas yang merupakan satu dari empat kidung hamba Tuhan dalam kitab Nabi Yesaya. Bacaan itu memperlihatkan seorang hamba harus taat dan setia agar dapat diperlengkapi, diasah, dan dipimpin oleh Roh Kudus.

Digambarkan, kehidupan seorang murid yang dipersiapkan oleh Sang Guru. Dimulai dengan melengkapi bagian panca indera dalam tubuhnya. Diberinya lidah dan telinga. Melalui telinga, kita dapat mendengar pesan yang disampaikan oleh orang lain kepada kita dan sebaliknya, kita dapat berkomunikasi dengan orang tersebut.

Apa yang didengar bisa membawa kepada hal positif: senang, sukacita, cinta, rendah hati, dll, tetapi dapat juga hal negatif;  kesedihan, marah, sombong, direndahkan, dilecehkan, dll.

Untuk melengkapi pelayanan kita, Tuhan mau mempertajam setiap indera kita, dilakukan pagi hari (awal hidup kita dimulai) dan setiap pagi (terus-menerus). Setiap pagi Tuhan dengan setia berbicara, berkomunikasi, menjalin relasi. Bagaimana seharusnya sikap murid? Untuk menerima perlengkapan yang disiapkan Tuhan, murid perlu tekun dan taat membuka telinga untuk mendengarkan. Menjadi murid tidak instan, ada proses yang harus dihadapi dan butuh pengorbanan. Untuk berhasil, ia rela duduk setiap pagi untuk mendengarkan apa yang disampaikan oleh Tuhan. Sungguh-sungguh membuka telinga, hati, dan pikiran untuk mendengarkan. Alhasil, suara dan kehendak Tuhan dapat didengar dan dipahami dengan baik.

Tugas utama seorang murid sebagai utusan Tuhan pertama-tama bukanlah berbicara di depan banyak orang untuk menyampaikan kabar sukacita. Tugas utamanya adalah mendengarkan Sabda Tuhan dan kehendak Tuhan yang mengutusnya, mengalami kasih-Nya bersama. Pendengarannya bagaikan pisau yang terus diasah dan dipertajam.

Seorang murid yang memiliki pendengaran yang tajam akan menangkap suara Sang Guru dengan tepat. Akibatnya, dia pun dimampukan berkata-kata secara tepat. Yang keluar dari mulutnya bukanlah hasil dari pemikiran dan kehendaknya sendiri. Tuhan mengaruniakan lidah yang mampu menyampaikan perkataan sesuai dengan kehendak Tuhan. Karena murid memang tahu benar apa yang dikehendaki Sang Guru. Perkataannya menjadi berkat bagi orang yang mendengarnya, membawa semangat baru kepada orang lain yang letih lesu, dianiaya, ditindas, dirampas haknya, dipinggirkan, ditolak, dan sebagainya.

Kita dipanggil terutama untuk setia mendengarkan suara-Nya, berkomunikasi, berelasi, dan berada bersama-Nya. Dengan rahmat dan anugerah berlimpah, kita dibekali untuk taat dan setia mendengarkan; dalam doa, bergumul dengan Sabda-Nya dalam Kitab Suci, sakramen-sakramen Gereja, terutama Sakramen Ekaristi, hal-hal kecil sehari-hari: menerima tugas pelayanan, komunitas, lingkungan dll.

Tetapi, ada banyak suara  yang sering kali mengganggu di dalam perutusan, melalui hal sederhana; kemalasan, menunda berdoa, rasa nyaman dengan status sosial, jabatan, kekayaan, egois, amarah, ketegangan baik dalam keluarga, lingkungan, dan masyarakat di mana tidak mau saling mendengar dan mengampuni, dll.

Kita perlu semangat pertobatan pribadi dan kemampuan untuk terus-menerus membarui diri dari setiap kelemahan. Mari kita yang dipanggil, jangan menolak, jangan takut. Kita percaya bahwa sejalan dengan keterbukaan dan kesetiaan kita, Tuhan  akan terus menyertai, terlebih terus memperlengkapi kita…!

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY