Naik ke Puncak Gunung

0
46

Pemahaman Pujian dan Penyembahan yang Katolik

Bagian Ketiga

 

SIAPAPUN tahu lagu Naik-naik ke Puncak Gunung. Banyak orang senang pergi ke puncak atau mendaki gunung. Salah satu alasannya adalah udara yang lebih segar dan sejuk. Selain itu, kita dapat melihat pemandangan yang indah dan menawan.

Di satu sisi, Pujian dan Penyembahan memberikan kesegaran dan memampukan kita memiliki sudut pandang yang baru. Alhasil, kita dapat melihat segala sesuatu secara baru. Di sisi lain, Pujian dan Penyembahan memiliki manfaat atau tujuan yang lebih utama. Sayangnya, hal ini kurang ditegaskan dan kurang diedukasikan. Akibatnya, cukup banyak orang berhenti pada manfaat yang memberi kesegaran, kesejukan, dan kenikmatan. Pada bagian selanjutnya, hal ini akan dikupas lebih lanjut.

Pujian dan Penyembahan merupakan sarana untuk membentuk diri seseorang atau kelompok dalam berhubungan dengan Allah. Dalam bahasa Katekismus Gereja Katolik, Pujian dan Penyembahan merupakan sekolah doa (KHK 2689). Pujian dan Penyembahan memiliki peran besar dalam hal membuka dan memberikan edukasi bagi umat. Edukasi yang baik akan mempererat jalinan koneksi, relasi, dan komunikasi kita dengan Allah.

Sama seperti sebuah bangunan, Pujian dan Penyembahan dibangun di atas sebuah fondasi dan berbagai unsur dasar yang menjadi karakteristik utamanya. Fondasi utama dalam Pujian dan Penyembahan adalah Allah, manusia, iman, dan dialog antara Allah dan manusia.

Fondasi yang pertama adalah Allah. Artinya, inisiatif berawal dari Allah. Manusia tidak mampu meraih Allah. Allah yang pertama-tama datang menghampiri kita, melayakkan kita, dan membawa kita ke hadirat-Nya. Kasih-Nya yang terlebih dahulu meraih kita (1 Yoh.4:10, 19).

Pujian dan Penyembahan tidak mendatangkan hadirat Allah. Dalam kenyataannya, Pujian dan Penyembahan merupakan sarana yang digunakan Allah untuk menjangkau kita dan menarik kita kembali kepada-Nya.

Fondasi yang kedua adalah manusia. Artinya, kita adalah ciptaan-Nya yang istimewa. Karena hal inilah, Lucifer sang serafim yang semula berada di hadirat Allah paling depan karena memimpin seluruh malaikat dalam penyembahan, memberontak. Manusia dipilih Allah menjadi gambaran dan rupa-Nya (Kej. 1:26). Di satu sisi, dalam Mzm 8, pemazmur menyadari keberadaan dirinya sebagai manusia. Di sisi lain, pemazmur melihat dalam kelemahan dan kerapuhannya sebagai ciptaan, Allah justru mempercayakan manusia sebagai mitra-Nya dalam mengelola dan mengolah dunia ini.

Dalam Pujian dan Penyembahan, Allah ingin membangun kembali hubungan yang erat dengan manusia. Manusia membutuhkan iman agar apa yang diharapkan dapat terwujud.

Fondasi yang ketiga adalah iman. Kita percaya akan Allah, tapi itu tidak cukup. Iblis pun percaya akan Allah, walaupun dia tidak lagi mempercayakan dirinya kepada Allah. Kita membutuhkan lebih dari sekadar iman percaya. Kita membutuhkan iman penuh penyerahan, pengharapan, dan keyakinan. Iman seperti Abraham, Musa, bahkan iman seperti Bunda Maria. Iman sang bunda saat menerima Kabar Baik, dalam pernikahan di Kana hingga imannya di Kalvari.

Fondasi yang keempat adalah dialog. Harus ada dialog. Dalam Pujian dan Penyembahan yang benar, bukan hanya pihak kita yang terus-menerus berperan dalam berelasi dengan Allah. Ada saat Allah yang berbicara. Ada saat umat Allah berdiam diri di dalam Pujian dan Penyembahan. Harus ada saat hening yang cukup dalam Pujian dan Penyembahan. Saat hening merupakan kesempatan untuk mendengar suara Tuhan dan melihat berbagai manifestasi yang Tuhan nyatakan.

Keempat hal yang menjadi fondasi utama dalam Pujian dan Penyembahan harus selalu ada dan dibangun semakin intensif. Itu sebabnya, peran worship leader (sebutan Pemimpin Ibadat dalam Persekutuan Doa Karismatik Katolik) hanya sebagai gembala, nabi dan imam (hal ini akan dibahas lebih lanjut pada bagian lain) yang mengantar umat kepada Allah. Seorang worship leader tidak boleh mendominasi sehingga tampak sangat menonjol. Kenyataannya berbicara lain.

Unsur-unsur utama yang menjadi karakteristik Pujian dan Penyembahan adalah karismatis, pneumatis, informal, musikal, ekspresif, spontan, partisipasi aktif, meditatif, dan misioner. Banyak PDKK hanya menonjolkan peran sebagian karisma saja dan musikal yang sangat dominan. Partisipasi aktif umat pun masih minim.

Unsur-unsur lainnya kurang diperhatikan, apalagi digarap lebih. Bagian ini akan dibahas tersendiri secara lebih terperinci. Karena pada kesempatan ini akan dibahas lebih mengenai struktur Pujian dan Penyembahan.

Selain fondasi yang menjadi landasan untuk dibangunnya Pujian dan Penyembahan yang benar, ada struktur yang mengukuhkan fondasi tersebut agar semakin kuat. Tujuan struktur dalam Pujian dan Penyembahan adalah supaya Pujian dan Penyembahan memiliki dasar yang kuat, arah yang jelas dan tegas dalam membantu umat untuk memuji dan menyembah Allah di dalam sebuah PDKK. Sebab, tidak semua orang dapat langsung bersyukur. Tidak semua orang dengan mudah menyadari kehadiran Tuhan. Salah satu penyebabnya karena kebanyakan orang sering kali hanya terpusat pada permasalahan hidupnya, terpusat pada dirinya sendiri. Kebanyakan orang hanya melihat apa yang dilihat oleh mata, sehingga tidak mampu melihat makna di balik setiap peristiwa.

Struktur merupakan unsur yang amat penting dalam Pujian dan Penyembahan. Struktur yang jelas dan tegas akan membentuk pribadi yang selalu fokus dan sikap tertib. Sebab, Roh Kudus adalah Roh yang tertib (2 Tim. 1:7). Allah tidak menghendaki ketidaktertiban atau kekacauan, Allah menghendaki damai sejahtera (1 Kor. 14:33).

Tanpa struktur, Pujian dan Penyembahan menjadi tidak terarah, bahkan salah arah. Pujian dan Penyembahan tidak akan mencapai tujuannya. Pujian dan Penyembahan yang tidak memiliki struktur, hanya akan menjadi sebuah eforia belaka dan membuat orang-orang memiliki jiwa eskapis. Pujian dan Penyembahan yang tidak memiliki struktur yang jelas, hanya menjadi tempat pelarian saja dan hal ini tidak berbeda dengan sebuah kafe rohani belaka.

Struktur memang tetap harus ada. Meski dalam pelaksanaannya, tidak harus selalu persis sama karena dalam kondisi tertentu, Pujian dan Penyembahan perlu menyesuaikan dengan kondisi yang sedang berlangsung. Penyesuaian ini dilakukan oleh worship leader. Itu sebabnya, seorang worship leader harus memiliki kepekaan yang tinggi terhadap sebuah kelompok yang sedang melakukan Pujian dan Penyembahan.

Secara prinsip, sebuah struktur tetap diperlukan karena memiliki peran penting sebagai rambu-rambu, sebagai pengarah dan bantuan agar tidak keluar jalur terlalu jauh.

Acuan utama bagi PDKK dalam hal struktur adalah apa yang diajarkan oleh Ron Ryan dalam Prayer Group Leadership Development Program  (1990), telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, salah satunya dalam bahasa Indonesia, Mengembangkan Kepemimpinan Persekutuan Doa Parokial yang diterjemahkan oleh Roy Setjadi, yang bersama istri dan beberapa temannya mengawali berkembangnya Pembaruan Karismatik Katolik di Jakarta pada tahun tujuh puluhan. Sebenarnya, karya Ron ini hanyalah sebuah sharing. Ia berbagi pemahaman dari hasil refleksi pribadinya sendiri.

Dalam hal Pujian dan Penyembahan, Ron memberikan pengajaran yang cukup jelas dan memiliki dasar biblis. Bila ditelaah lebih dalam, sesungguhnya pemahaman yang disajikan oleh Ron mengenai Pujian dan Penyembahan, yang diuraikan dalam tiga bab, yakni pada bab keempat hingga bab keenam, masih terlalu umum. Pemahaman Ron justru cenderung lebih bersifat ekumenis daripada berciri Katolik. Ron belum melihat Pujian dan Penyembahan dalam konteks yang lebih “Katolik”.

Acuan utama untuk struktur Pujian dan Penyembahan, menurut Ron Ryan, adalah Mzm 100. Seperti pada bagian awal dikatakan, Pujian dan Penyembahan diilustrasikan pula serupa dengan perjalanan umat Allah naik ke gunung Tuhan. Letak Bait Allah di Yerusalem berada di dataran yang lebih tinggi, karena itu umat Allah yang menuju ke Bait Allah bergerak naik. Sama halnya dengan Pujian dan Penyembahan.

Sesungguhnya, Mzm 100 belum berbicara mengenai Pujian dan Penyembahan. Mzm 100 baru berbicara mengenai ajakan untuk bersyukur dan mulai memuji Tuhan. Secara struktural, Mzm 100 baru berada pada tahap awal dan ini tidak cukup. Dalam bukunya, pada bagian mengenai Pujian dan Penyembahan, dasar biblis yang dipakai Ron untuk penjelasan mengenai Penyembahan yang diuraikannya pada no. 4, kurang tepat. Mzm 100:4 tidak berbicara mengenai penyembahan. Ayat-ayat dalam Mzm 100 baru berbicara mengenai syukur dan pujian.

Mazmur yang dapat dijadikan acuan sebagai struktur dasar bagi Pujian dan Penyembahan adalah Mzm 95 yang setiap pagi justru didaraskan dalam Pembuka Ibadat Harian (Komisi Liturgi KWI, Ibadat Harian, Penerbit Nusa Indah, Ende – Flores, 1993, hlm. 327-328). Ibadat Harian ini umumnya kurang dikenal oleh umat awam. Maka, tidak mengherankan pula bila Ibadat Harian ini pun kurang diketahui oleh para aktivis PDKK.

Secara struktural, Mzm 95 menguraikannya secara lengkap dan sistematis. Ibadat diawali dengan ajakan untuk bersorak-sorai dan mengucap syukur dalam nyanyian (ayat 1-2). Dalam bahasa Ibadat Harian disebutkan, “menghadap wajah-Nya dengan lagu syukur, menghormati-Nya dengan pujian”. Aspek penyembahan dituturkan pada bagian, “marilah kita sujud menyembah” (ayat 6). Ada satu bagian penting lagi yang sering terlewatkan, yaitu saat mendengarkan suara Allah pada bagian “sekiranya kamu mendengar suara-Nya!” (ayat 7b). Dalam bahasa Ibadat Harian disebut, “hari ini dengarkanlah suara-Nya”. Sebenarnya, sebelum Ron Ryan berbicara soal struktur Pujian dan Penyembahan, Ibadat Harian yang sudah ada di dalam Gereja Katolik berpuluh-puluh tahun lamanya, justru telah menyingkap dan mengungkapkannya.

Pada bab pertama, dalam bukunya yang membahas Dasar Teologis dari Pembaruan Karismatik, Ron sudah menghubungkannya dengan Konsili Vatikan kedua. Namun, ketika ia berbicara mengenai Pujian dan Penyembahan, ia malah tidak melihat keterkaitannya dengan salah satu dokumen Konsili Vatikan kedua, yakni Sacrosanctum Concilium, Konstitusi mengenai Liturgi. Padahal segala aktivitas rohani, khususnya doa dan ibadat, baik yang liturgis maupun non-liturgis di mana Pujian dan Penyembahan termasuk di dalamnya, harus selalu berpedoman pada Sacrosanctum Concilium. 

Sacrosanctum Concilium (SC) menegaskan bahwa aktivitas rohani apa pun atau yang juga dikenal dengan sebutan ulah kesalehan, harus berjalan sesuai dan selaras dengan masa Liturgi yang sedang berlangsung (no. 13). Tidak ada satu kalimat pun dalam pengajaran Ron mengenai Pujian dan Penyembahan yang merujuk ke dokumen SC tersebut.

Ron pun belum melihat keterkaitannya yang erat antara Penyembahan dan tradisi doa kontemplatif. Padahal ia sudah berbicara mengenai keheningan (Mengembangkan Kepemimpinan Persekutuan Doa Parokial, Bab IV, II.C, 4.b, hlm.26).  Semestinya  ia melihat adanya keterkaitan Penyembahan karismatis (lebih tepatnya pneumatis) dengan aspek kontemplatif. Sayangnya, tidak ada bahasan sama sekali mengenai ini.

Dari semua pembahasan mengenai Ron Ryan ini, tampaknya kita perlu menyadari bahwa yang harus diperhatikan bukanlah soal label atau siapa yang memberikan pengajaran. Yang seharusnya lebih diperhatikan adalah isi  materi atau content dari apa yang diajarkannya. Apakah sungguh-sungguh membangun umat secara menyeluruh atau sekadar menjadi hiburan belaka.

Salah satu manfaat berada di atas puncak gunung adalah melihat pemandangan yang indah. Melihat pemandangan yang indah merupakan bagian di mana Pujian dan Penyembahan masuk dalam aspek kontemplatif. Aspek kontemplatif ini memiliki kedalaman yang luar biasa. Masih banyak hal yang dapat ditelusuri lebih dalam dari Pujian dan Penyembahan.

Menyanyikan Naik-naik ke Puncak Gunung memang menggembirakan. Tetapi, naik ke gunung Tuhan melalui Pujian dan Penyembahan lebih dari sekadar menggembirakan.

Hendra Sumakud

 

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY