Tangan Kasih yang Mengobati

0
44

NAMA doctorSHARE (Yayasan Dokter Peduli) di telinga awam ataupun umat Gereja mungkin masih asing. Organisasi kemanusiaan nirlaba yang lebih fokus pada pelayanan kesehatan dan bantuan kemanusiaan ini berdiri pada 19 November 2009.

Organisasi ini ditujukan kepada mereka, orang-orang yang paling membutuhkan, mereka yang dianggap miskin dan tidak mampu, yang tidak mempunyai kartu miskin, dan yang tidak mempunyai kartu miskin karena masalah administrasi kependudukan. Hal ini berimbas pada tidak dimilikinya jaminan kesehatan masyarakat serta akses kesehatan gratis dari pemerintah.

DoctorSHARE beranggotakan individu yang memiliki talenta dan kecakapan. Mereka yang mau berbagi tanpa memandang batasan suku, agama, etnis, ras, dan antargolongan. Mereka bekerja berdasarkan prinsip kemanusiaan dan etika pelayanan medis dalam rangka mewujudkan visi dan misinya.

Ditemui di sela kesibukannya dalam suatu acara, dr. Lie, begitu ia dipanggil, berkesempatan sekilas menceritakan sejarah doctorSHARE dan aktivitasnya. Kiprah doctorSHARE dimulai dari pengalaman dr. Lie pada 26 Maret 2009. Saat itu, ia dan timnya melakukan pelayanan medis di Langgur, Kepulauan Kei Kecil, Maluku Tenggara.

Saat dr. Lie sedang melakukan proses bedah, tiba-tiba di luar rencana, datang seorang ibu membawa anak perempuannya yang berusia sembilan tahun. Usus anak itu terjepit. Sesuai cerita yang disampaikan oleh Pastor John Lefteuw waktu itu, perjalanan ibu dan anak ini ditempuh dengan berlayar selama tiga hari, dua malam, hingga sampai ke lokasi. Mereka ingin bertemu dengan dr. Lie dan timnya.

Menurut dr. Lie, secara medis, kondisi usus terjepit harus sudah dioperasi dalam 6-8 jam. Anak ini menderita hernia femoralis. Berkat tangan dingin dr. Lie, anak perempuan ini berhasil dioperasi dan akhirnya sembuh. 

Peristiwa ini sangat menggugah hati dokter yang bernama lengkap, dr. Lie Agustinus Dharmawan, Ph.D, FICS, Sp.B, Sp.BTKV. Bayangan anak perempuan itu selalu melintas di benaknya. Pengalaman ini terus menggelitik benaknya. Sesuatu yang terus menggoda pikirannya. Suara yang menanyakan, Maukah engkau melayani-Ku?”, terus memanggilnya. Penolakan dalam batinnya terus dihadapkan pada bagaimana ia telah melakukan pelayanan selama itu. Dia merasa telah melakukannya bagi orang miskin. Unsur kesombongan tengah ia tunjukkan, “Apa yang kurang dari saya, apa yang telah saya lakukan?” Sementara wajah anak itu terus membayanginya.

Hingga suatu malam sambil berurai air mata, akhirnya ia mengatakan, “Ya Tuhan, aku mau melayani-Mu.” Keputusan ini membawanya pada apa yang dilakukannya dalam pelayanan ke depan. 

 

Rumah Sakit Terapung

Ide awal mendirikan rumat sakit terapung muncul pada  28 Maret 2009.  dr. Lie bisa mendapatkan sebuah kapal nelayan yang dimodifikasi menjadi kapal rumah sakit dengan fasilitas medis di dalamnya cukup lengkap, dengan ruangan terbatas.

 

Kapal ini diperolehnya dari hasil penjualan rumah pribadinya. Proses mendandani kapal memakan waktu cukup lama. Dengan kapal pertamanya yang didesain menjadi rumah sakit terapung, ia semakin kuat menunjukkan pengabdian dan kepeduliannya terhadap upaya meningkatkan pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin yang sangat membutuhkan.

Semangat ini pula yang mendorongnya melahirkan sebuah rencana ”gila”, yaitu membuat Rumah Sakit Apung (RSA – Floating Hospital) pertama di Indonesia pada tahun 2009. Pandangan sinis dan cibiran banyak orang saat ia mewujudkan ide ini, tidak dihiraukannya. Ia menunjukkan semangat pantang mundur. Ia meyakini, bahwa masyarakat tertinggal di Indonesia akan lebih mudah memperoleh akses pelayanan kesehatan dengan menggunakan kapal yang bisa masuk ke pulau-pulau kecil. Kapal yang berlayar dari satu tempat ke tempat lainnya, mampu melakukan proses operasi di dalamnya.

Butuh waktu cukup lama untuk perbaikan dan modifikasi kapal. Konstruksi kapal berukuran panjang 23,5 meter dan lebar 6,55 meter terbagi dalam tiga dek. Dek atas menjadi ruang nakhoda dan tempat berinteraksi relawan. Dek utama berada di tengah; di ruangan ini berbagai aktivitas dilaksanakan. Ruang bedah, meja operasi, tempat tidur dorong, berikut perlengkapan operasi. Dek bawah menjadi ruang pemeriksaan USG dan rontgen.

Meski sederhana, kapal ini sudah bisa dikatakan sebagai Rumah Sakit Apung.  RSA dr. Lie memiliki berat 170 ton. Pelayaran perdana RSA dimulai ke Pulau Panggang, Kepulauan Seribu. Setelah itu, kapal melaju ke Manggar Belitung Timur, Ketapang Kalimantan Barat, hingga merapat ke Bali, Labuan Bajo (Flores Barat), dan Pulau Kei di Maluku.

 Di dalamnya sudah dilaksanakan ratusan kali operasi, mulai dari hernia sampai tumor. Ribuan warga sudah diobati. Dalam rangkaian pelayanan medisnya, doctorSHARE dengan kapal RSA dr. Lie telah melakukan banyak kunjungan ke lokasi di mana masyarakatnya memang sangat membutuhkan pelayanan kesehatan, yang perlu dilakukan secara rutin.

Pelayanan di suatu tempat dengan waktu yang singkat, di kemudian hari membuat masyarakatnya merindukan pelayanan rutin. Bukan semata untuk mengobati dan juga menyembuhkan, melainkan juga untuk memelihara dan menjaga kesehatan hingga masyarakat dapat melaksanakan pola hidup sehat dalam jangka waktu lama.

Pelayanan medis dalam program doctorSHARE dengan RSA, merupakan kegiatan kemanusiaan swadaya untuk membantu apa yang belum banyak dilakukan oleh pemerintah, terutama yang berhubungan dengan pelayanan kesehatan masyarakat.

Tidak semua orang mau bekerja secara ‘gila’. Apa yang mendorong dr. Lie melakukan hal ini? “Meyakini hidup dengan kasih dari Tuhan kita. Melihat orang tua menangis dalam kegembiraan mengalir, ketika anaknya sembuh. Ini yang menjadi inspirasi dan semangat serta sumber energi yang selalu terbarukan. Kasih adalah sesuatu yang indah. Kasih itu hidup dan kasih itu yang mau kita bagikan. Menyumbangkan sebagian dari kepandaian kita,” ungkapnya saat berkisah dalam salah satu acara di TV swasta.

Dalam pelayanan medis yang dilakukan pada 16-19 Juli 2017, tim doctorSHARE berlayar ke Pulau Mayau, Kecamatan Batang Dua, Kota Ternate, Maluku Utara. Perjalanan tim dari Ternate menuju Pulau Mayau dengan RSA dr. Lie Dharmawan ditempuh selama 16 jam. Tim beranggotakan 14 relawan medis,  tiga  relawan non-medis, dan lima kru kapal. Bekerjasama dengan Dinas Kesehatan setempat, mereka melakukan pengobatan umum terhadap 250 pasien, penyuluhan kesehatan mengenai perilaku hidup bersih kepada pasien pengobatan umum, bedah minor 48 pasien, dan bedah mayor delapan pasien.

Secara keseluruhan, pelayanan medis berjalan lancar berkat kerjasama yang baik. Masyarakat setempat  berharap, tim doctorSHARE akan datang kembali. Saat berpamitan, warga mengantar tim doctorSHARE dengan lambaian tangan penuh harap.

 

Saat pulang, dalam perjalanan menuju Ternate, kapal RSA dr. Lie Dharmawan dihantam badai hingga oleng. RSA terombang-ambing di tengah laut selama kurang lebih lima jam. Kapal RSA mendapat pertolongan dari kapal berbendera Hong Kong yang kebetulan sedang berlayar dari Australia menuju Tiongkok. Seluruh anggota doctorSHARE yang berada di RSA berhasil diselamatkan ke kapal ini. Beberapa jam kemudian, tim Basarnas, Polair, serta TNI AL menerjunkan armada bantuannya dan mengevakuasi seluruh anggota tim doctorSHARE. Sementara  kapal RSA dr. Lie Dharmawan ditarik menuju tempat yang lebih aman. Hal ini disebabkan karena kondisi ekstrem alam yang terjadi tiba-tiba. Inilah sebagian tantangan dalam menjalankan misi.

 

Flying Doctors

Pada tahun 2014 seorang bapak datang pada pukul 17.00. Bapak ini telah melakukan perjalanan selama 12 jam, sejak dini hari pukul 05.00. Ia berjalan turun gunung menuju RSA. Dari pengalaman ini, lahirlah program Flying Doctors. Itulah jawaban yang didapat, diputuskan dengan sistem jemput bola, dengan menggunakan pesawat perintis, sepeda motor, mendaki gunung-gunung dan lembah. Di atas gunung, mereka mendirikan tenda-tenda. dr. lie juga pernah tersesat. Katanya, “Datang tidak untuk dilayani namun untuk melayani.”

 

Tahun 2015, doctorSHARE menyelenggarakan pelayanan Flying Doctors (Dokter Terbang) di Kabupaten Intan Jaya, Papua. Dalam pelayanan medis Flying Doctors kali ini, selama lima hari tim melayani masyarakat di Desa Gagemba Distrik Homeyo dan Desa Bilogai Distrik Sugapa. Pelayanan medis di Desa Gagemba berlangsung selama tiga hari (24-26 Juni 2015), sementara pelayanan medis di Desa Bilogai berlangsung dua hari (27 dan 29 Juni 2015). Tim Flying Doctors terdiri dari seorang dokter spesialis, dua dokter umum, seorang perawat, dan dua relawan non-medis.

 

Desa Gagemba sama sekali tidak memiliki fasilitas kesehatan. Untuk memperoleh pelayanan kesehatan, masyarakat harus menempuh perjalanan melalui medan yang sulit, melintasi berbagai perbukitan. Akibatnya, banyak di antara mereka yang memilih pasrah. Flying Doctors menjadi tim pertama yang menjangkau masyarakat di sini. Sambutan masyarakat yang begitu hangat dan sangat antusias membuat tim doctorSHARE makin bersemangat melayani masyarakat. Pelayanan medis di kedua lokasi ini berlangsung dengan baik.  

 

Saat berbincang dengan MeRasul, Panji Arief Sumirat dari Bagian Media doctorSHARE, menyampaikan beberapa hal yang dilakukan saat persiapan, sebelum kegiatan doctorSHARE berlangsung di lokasi pelayanan. Jauh hari sebelum waktunya, sudah dilakukan survei dan analisa terhadap lokasi yang akan dikunjungi. Kunjungan dilakukan oleh program kapal Rumah Sakit Apung dan pelayanan Flying Doctors. Tim RSA yang berjumlah antara 15-20 orang, siap berangkat menuju lokasi di mana kapal dan ABK sudah disiap. Selanjutnya, kapal menuju lokasi di mana pelayanan medis terhadap masyarakat sudah ditentukan. Tim bekerjasama dengan pemerintah setempat untuk bergabung bersama melakukan program ini. Sudah ada kesepakatan sebelumnya.

Jadwal kunjungan tim RSA dan Flying Doctors bisa berubah karena faktor alam, medan yang ekstrem, sosio demografi yang tidak mendukung, atau kondisi sosio politik di mana di lokasi yang dituju sedang ada perselisihan. Meski perselisihan terjadi saat tim datang, kegiatan tidak dapat lagi dilakukan demi keamanan tim dan masyarakat yang sedang bermasalah.  

Menurut Panji, pelaksanaan pelayanan medis oleh tim RSA dan tim Flying Doctor bisa berjalan dalam waktu bersamaan di lokasi yang berbeda, karena mereka memiliki manajemen masing-masing.

Data mengenai pencapaian doctorSHARE hingga akhir tahun 2016, antara lain sebagai berikut: 25 x kegiatan pelayanan medis, 2.125 orang telah mendapatkan penyuluhan kesehatan, sejumlah 10.909 pasien dilayani, 14 x pelayanan medis RSA dr. Lie A. Dharmawan, RSA Nusa Waluya I, dan Dokter Terbang (Flying Doctors), 288 pasien mendapatkan perawatan kehamilan dan USG, sebanyak 7.644 pasien mendapatkan pengobatan umum, dan 852 tindakan operasi.

 

Pengalaman Menyentuh

Menurut dr. Lie, campur tangan Tuhan sungguh luar biasa. Pengalaman rohani ia alami bukan hanya ketika ia melakukan pembedahan dan pasiennya sembuh. Namun, juga dalam banyak aspek kehidupannya. Sewaktu kecil, ia sudah ingin menjadi dokter. “Semua orang tidak menyangka, saya bisa menjadi dokter. Apalagi saya menjadi dokter yang studi di Jerman.” Sesaat setelah mengatakan hal ini, dr. Lie spontan menyanyikan lagu kesukaannya, “Ku tahu Tuhan pasti buka jalan…. ‘Ku tahu Tuhan pasti buka jalan … asal ‘ku hidup suci tidak turut dunia ‘ku tahu Tuhan pasti buka jalan…” 

 

Ia mengungkapkan pengalamannya yang  mengesankan. “Ini adalah bentuk pengorbanan saya karena Tuhan sudah lebih dulu berkorban untuk kita.”

 Ia melanjutkan bercerita tentang kisah yang menyentuhnya. “Saya melakukan tindakan pembedahan pada seorang pasien dan dia sembuh. Padahal sebelumnya, pasien ini sudah divonis tidak bisa bertahan hidup karena alasan finansial, kurang pengetahuan, dan ketiadaan infrastruktur yang menyebabkan pasien ini tidak bisa mendapatkan pelayanan medis. Ketika saya melihat bahwa pasien ini sembuh dari penyakitnya dan orang tuanya mencucurkan air mata kegembiraan, itulah pengalaman yang paling menyentuh hati.’

Ia melanjutkan kisahnya. “Inilah juga mengapa Tuhan telah menjadikan saya seorang dokter. Ini adalah tanda kasih-Nya yang disalurkan melalui saya dan saya memberikannya kembali kepada-Nya dalam bentuk pelayanan saya.”

Ia tak pernah lupa pada kata-kata ibunya, yang ia pegang terus sampai ia berhasil menjadi dokter dengan empat spesialisasi bedah. “Lie, kalau kau menjadi dokter jangan memeras orang kecil atau orang miskin. Mungkin dia akan membayar kamu berapapun. Tetapi, diam-diam mereka menangis di rumah karena tidak punya uang untuk membeli beras,” ulang dr. Lie mengingat kata-kata ibunya. Dan inilah yang juga menjadi inspirasi yang kuat, yang ia pegang untuk mendirikan doctorSHARE.

Jauh sebelum doctorSHARE ada, satu hal yang dikenang oleh dr. Lie yang disampaikannya kepada MeRasul, yakni saat ia memulai pelayanannya dengan melakukan bedah jantung terbuka. Bapa Uskup waktu itu, Mgr. Leo Soekoto SJ, bertanya kepadanya, “Apakah istri dr. Lie tidak berkomentar negatif tentang apa yang Dokter lakukan karena semuanya digratisin?” 

Jawab dr. Lie, “Nggak, istri saya justru mendorong dan menyokong saya. Kalau kurang, kita toh nggak kelaparan… malahan tambah lagi.”

Mendengar jawaban itu, Mgr. Leo tertawa sambil mengatakan, “Tambah satu lagi orang ‘gila’.” 

 

Ikon Keteladanan di Festival Prestasi Indonesia

Pada Agustus 2017, Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-Pancasila) menyelenggarakan Festival Prestasi Indonesia, membangun tradisi dalam mengapresiasi kinerja positif dan prestasi terhadap 72 putra-putri bangsa, dengan mensosialisasikan prestasi dan keteladanan yang dicapai sebagai sarana menguatkan ideologi Pancasila.

 Festival ini memberikan apresiasi atas karya-karya terbaik putra-putri bangsa dan menjadikannya sebagai sumber inspirasi dalam memajukan bangsa. dr. Lie menerima anugerah sebagai Ikon Keteladanan di Bidang Kesehatan. Ini merupakan pencapaiannya sebagai dokter ahli bedah yang dikenal sebagai pendiri Rumah Sakit Apung swasta pertama di Indonesia, yang memberikan pelayanan kesehatan secara cuma-cuma kepada masyarakat di daerah miskin dan terpencil di Indonesia.  

“Saya bergembira bahwa orang melihat apa yang kami lakukan ini berguna bagi bangsa dan negara. Akhirnya, orang mengakui bahwa ini juga pelayanan kepada Tuhan kita. Ini dicatat oleh negara dan negara mengakui karya pelayanan kita.” 

Saat ditanya, apa yang akan dilakukannya ke depan? “Kita akan melanjutkan apa yang sudah ada dan jalan terus, terus berbagi kasih atas apa yang Tuhan terlebih dahulu berikan secara gratis kepada kita,” jawabnya meyakinkan mengenai misi doctorSHARE.

Saat ini, doctorSHARE memiliki dua kapal pelayanan; RSA dr Lie dan Kapal Nusa Waluya I (Juni 2015). Direncanakan, akan menyusul satu kapal lagi, Kapal Nusa Waluya II, yang saat ini masih dalam persiapan.

  1. dr.Lie Agustinus Dharmawan, PhD, Sp.B, Sp.BTKV (dokter bedah umum, thorax, jantung, pembuluh darah). Lahirdi Padang, 16 April 1946. Pendidikan S-1 hingga S-3 diselesaikannya di Jerman. Saat ini, Lie bekerja sebagai Kepala Bagian Bedah RS Husada Jakarta.

Berto

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY