Karena Campur Tangan Tuhan

0
43

UMAT Paroki Bojong Indah, dr. Enrico G. Wiraatmadja Sp.B, mengawali tugasnya sebagai dokter umum dengan mengikuti program PTT Daerah di Kabupaten Sorong Selatan, Papua Barat. Tahun 2008, setelah lulus dari FK Unika Atma Jaya Jakarta, dr. Rico berkeinginan mencari pengalaman lain dari pelayanan kesehatan yang biasa dilakukan.

Lokasi Sorong Selatan sebagai daerah pemekaran dapat ditempuh melalui rute perjalanan Jakarta -Makassar – kota Sorong. Dari kota Sorong via udara dengan pesawat Twin Otter atau perjalanan via laut memakan waktu selama sepuluh jam. Tempat tugasnya di Puskesmas Rawat Inap Teminabuan yang juga disebut sebagai Rumah Sakit saat itu. Masa tugas satu tahun bagi dr. Rico belum cukup. Ia memperpanjang masa tugasnya dengan teman dokter yang ikut mengabdi di tempat ini, termasuk dr. Sansan yang menjadi istrinya.

Dokter umum menjadi ujung tombak pelayanan kesehatan. Dengan jumlah dokter yang masih sangat terbatas, kondisi pelayanan kesehatan yang ada saat itu sangat minim. Belum ada pelayanan dokter spesialis apa pun.

Pada tahun 2010, dr. Rico bersama dr. Sansan berkesempatan mengikuti Program Pendidikan Dokter Spesialis. Dokter Rico di Bagian Bedah dan dr. Sansan di Bagian Kulit dan Kelamin UGM Yogyakarta. Selesai masa pendidikan, mereka berdua mengalami pergumulan. Banyak yang harus mereka pertimbangkan karena ketika itu mereka sudah memiliki anak. Namun, akhirnya mereka sepakat untuk kembali ke Papua.

Dokter Rico tidak bisa memberikan alasan mengapa mereka mau bertugas di Papua. Hanya ada panggilan di hati mereka untuk terus melayani masyarakat di sana. Dokter tentu bertugas untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Tapi, menurut pengakuannya, mereka mengalami perasaan yang sungguh berbeda jika mereka melayani hal yang sama di kota besar. “Sesuatu yang kosong di hati ini seperti terisi. Ada perasaan yang tidak dapat dinilai dengan materi,” akunya.

 Mereka percaya bahwa ini terjadi hanya karena campur tanganTuhan. “Niat baik dan kesungguhan hati kami yang membuat kami berdua bisa ada dan melayani sampai saat ini.”

Apa yang mereka alami mengingatkan pada sebuah catatan seorang tokoh pendidik di Papua yang mengatakan bahwa, “Barangsiapa yang bekerja dengan jujur dan setia di tanah ini, maka ia akan berjalan dari tanda heran yang satu ke tanda heran yang lain.” ( I.S. Kijne, 1947)

Suasana yang sangat berbeda dengan hidup di kota Jakarta masih sering terjadi, seperti masalah ketersediaan listrik dan air bersih. Belum ada mal, hanya ada department store, masalah komunikasi pun kadang sulit karena tidak semua operator telepon hadir. Namun, perkembangan pembangunan infrastruktur, transportasi, dan fasilitas umum terasa beberapa tahun belakangan ini.

Gereja Katolik di Sorong Selatan hanya ada satu, dengan kondisi bangunan yang masih sangat sederhana. Di sini, dr. Rico dan dr. Sansan dapat melaksanakan aktivitas rohani. “Puji Tuhan, aktivitas rohani bisa berjalan dengan baik di lingkungan maupun paroki,” ucapnya.

Dokter Rico dan istri turut serta dalam mengisi sharing pra-nikah untuk materi kesehatan di Kota Sorong.  Kadang mereka bersama temannya dari RSUD Scholoo Keyen, Sorong Selatan, melakukan pelayanan di luar gedung; pergi dari kampung ke kampung setiap bulan.

Mereka berharap, pembangunan di Papua bisa terlaksana dengan baik dan cepat untuk mengejar ketertinggalan. Diharapkan, pembangunan berlangsung menyeluruh; mulai dari infrastruktur, sarana prasarana, sumber daya manusia, kesehatan, pendidikan, perekonomian, dan lainnya.

Berto

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY