Mengambil Bagian untuk Tuhan

0
29

Selalu berpikir positif dan optimis dalam mengemban amanat Tuhan, karena hidup adalah perutusan yang tidak pernah mengenal kata akhir.

 

SISCA sedang sibuk dengan pekerjaannya di sebuah bank swasta, kala seorang temannya memberitahu bahwa ada orang baru di tempat kosnya. Wanita kelahiran Jakarta, 24 Oktober 1955 ini pun akhirnya berkenalan dengan John Partono, pria kelahiran Samarinda, 5 September 1941.

Hanya butuh waktu enam bulan setelah perkenalan, mereka sepakat saling mengikatkan diri dalam Sakramen Perkawinan. Romo Endro Karyanto memberkati pasangan ini dalam Misa di Gereja Antonius Padua pada tahun 1978.

 

Sulung – Bungsu

Saat itu, John Partono belum dibaptis. Ia menunjuk saksi seorang Kristen dan pak haji, ketika mencatatkan perkawinannya di Catatan Sipil. Kini, pasangan yang kala itu menikah dengan dispensasi ini telah dikaruniai dua anak dan tiga cucu.

Sederhana dan tidak banyak bicara, itulah alasan John memilih Fransisca Asisia Purnamawati Sutanto untuk menjadi istrinya. “Apalagi saat-saat seperti ini, dia istri sekaligus suster yang merawat saya,” kata bungsu dari lima bersaudara ini.

Lantas, apa alasan Sisca mau dipersunting Gregorius John Partono? “Karena umurnya sudah tua…,” sahut John cepat. “Enak saja, waktu itu umur saya baru 23 tahun,” Sisca tak mau kalah. “Dia yang sudah umur 37 tahun,” lanjut putri sulung dari sembilan bersaudara ini sambil memandang suaminya.

Pasangan beda usia 14 tahun ini pun tertawa bersama. Mereka mengisi hari-harinya dengan saling mengasihi dan melengkapi satu sama lain.

 

Tuhan Selalu Ada

Beberapa waktu yang lalu, John Partono terjatuh di kamar mandi. Akibatnya, ia harus dua kali menjalani operasi besar di kepalanya. Bagi Sisca, kejadian ini sungguh terasa berat. Waktu, tenaga, dan pikiran hanya tercurah untuk suaminya. Ia pun siap mengeluarkan seluruh simpanan demi kesembuhan belahan jiwanya.

Sisca tak habis pikir, John yang selama ini sehat, aktif, dan bersemangat tiba-tiba harus mengalami sakit yang sedemikian berat. “Hasil laboratoriumnya selalu bagus,” katanya. Sebenarnya, justru Sisca yang memiliki riwayat kesehatan kurang baik karena pada tahun 2014 ia didiagnosis kanker payudara. Namun, siapa sangka, malah suaminya yang mengalami sakit parah.

“Saat pergi ke kantor, ia sehat, menyetir sendiri, dan ketika sampai di rumah kondisinya segar-bugar,” imbuh Sisca.

Di sinilah pasangan ini semakin merasakan kebaikan dan kehadiran Tuhan.

Banyak orang datang memberi perhatian dan pertolongan. “Dokter yang mengoperasi itu biasanya harus membuat perjanjian terlebih dahulu dan perlu antre lama. Berkat pertolongan umat Sathora, Puji Tuhan, dalam waktu singkat beliau dapat menangani bapak,” ujar Sisca antusias menceritakan saat ia mendampingi suaminya sakit.

“Dokter tidak bisa menjamin kesembuhan bapak, tetapi saya terus berdoa kepada Tuhan supaya kesehatan bapak dipulihkan.” Tanpa sungkan, Sisca meminta doa kepada setiap orang yang menjenguk suaminya. “Semua orang saya mintakan doanya untuk bapak. Padahal, saya tidak kenal semua orang dengan baik. Sampai-sampai saya malu kalau mengingatnya. Bahkan, kalau misalnya bertemu dengan orang-orang tersebut, belum tentu saya menyapa karena tidak mengenalinya,” tandas wanita berpenampilan tenang ini.

Masalah biayapun terselesaikan dengan baik. Tanpa disangka, perusahaan tempat John bekerja menanggung semuanya, termasuk rawat jalan. Pasangan ini semakin percaya bahwa Tuhan tidak akan pernah meninggalkan anak-anak-Nya. “Kalau kita takut akan Tuhan, Ia akan selalu ada dan memberi pertolongan.”

John Partono pun mengucapkan terima kasih kepada Romo Herman, Romo Anto, dan seluruh warga Paroki Sathora yang telah membantunya selama ia sakit. Setelah sembuh, ada kebiasaan baru pada diri John, yakni kepalanya sering menunduk.

Sisca pun suka bercanda dengan suaminya. “Jangan menunduk terus, Tuhan tidak ada di bawah.”

John tertawa. Ia juga terhibur mana kala istrinya tiba-tiba mengambil air Lourdes dan membuat tanda salib di dahinya. “Saya suka tertawa geli karena ia terlihat lucu,” kata John senang karena itu adalah berkat Tuhan melalui istrinya.

 

Hidup adalah Perutusan

John Partono sudah rajin mengikuti Misa sejak tahun 1978. Tetapi, ia baru dibaptis dengan nama Gregorius pada 19 Desember 1993. “Itu juga berkat Pak Maringka yang terus mengarahkan saya untuk dibaptis,” tuturnya.

Dulu, orang-orang sering heran melihat John rajin ke GKP. Padahal saat itu, ia sedang mengikuti persiapan calon baptis. Keheranan mereka pun semakin bertambah manakala mereka tahu bahwa John baru dibaptis. Pria yang selalu optimis ini menceritakan pengalamannya sambil menahan senyum.

                 “Saya lahir dengan nama Johny Gauw. Karena peraturan pemerintah kala itu, akhirnya nama saya berubah menjadi John Partono,” kenang John. “John saya ambil dari Johny. Partono itu dari kata part (bahasa Inggris) yang berarti bagian dan ono yang dalam bahasa Jawa berarti ada. Jadi, John Partono itu berarti John yang selalu ada dan mengambil bagian untuk Tuhan,” ungkap alumni SD dan SMP Sang Timur Batu, Malang.

John pun sudah mengambil bagian sebagai Ketua Seksi KKS dan katekis, prodiakon serta ketua lingkungan. Bahkan sampai sekarang, ia masih aktif sebagai pemandu di beberapa tempat. KEP Sathora angkatan 1 – 6 berlangsung saat ia menjadi Ketua Seksi KKS.

Untuk menjaga relasi dengan Tuhan, John rutin membaca Kitab Suci, berdoa Rosario dan Koronka. Di kantornya, di Jl. Sultan Agung, Jakarta Selatan, ia menaruh buku-buku rohani seperti Kitab Suci, Konkordansi Alkitab, Kamus Kitab Suci, dan lain-lain. Pria yang hidupnya diisi untuk mengemban amanat Tuhan ini berdoa dan membaca Kitab Suci tanpa dibatasi waktu dan tempat.

Sebelum jam kantor, John berdoa atau membaca Kitab Suci. Ia merenungkan ayat-ayat yang saat itu menyentuh hatinya. Tak heran, dalam setiap percakapan, alumi SMA Kristen Kelud, Malang, ini sering mengutip Sabda Tuhan, lengkap dengan menyebutkan sumbernya.

Ia mengaku tidak memiliki ayat favorit. Tetapi, Sabda Tuhan sudah mendarah daging dalam hidupnya. John yang sering berdoa Rosario dan Koronka di mobil ini, juga aktif di TOMAT, yaitu komunitas para prodiakon yang sudah purna tugas. Sayangnya, komunitas ini kurang berkembang. Padahal John berharap, melalui komunitas ini, para anggotanya dapat terus menebarkan kasih dan berbuah.

Sementara Sisca rutin berdoa Angelus, Rosario, dan Koronka. Setiap pukul 06.30, ia mendengarkan Sabda Tuhan melalui salah satu channel radio. “Rasanya sayang kalau sampai terlewatkan karena Sabda Tuhan adalah sumber kekuatan,” kata anggota Legio Maria Regina Pacis ini.

Sembuh dari kanker payudara membuatnya semakin rajin berdevosi kepada Bunda Maria dan Hati Kudus Yesus. John Partono pun menjadi terbiasa mendengarkan Sabda Tuhan bersama istrinya. Kebersamaan ini merupakan kelanjutan dari rutinitas yang dulu mereka lakukan bersama, seperti jalan-jalan, ziarah sambil Novena atau reuni dengan teman-teman lama di Malang.

Berpikir Positif

Pasangan yang hampir memasuki usia perkawinan empat puluh tahun ini selalu berpikir postif. Tak heran, John Partono terlihat bugar. Tanda-tanda bahwa ia baru menjalani dua kali operasi besar nyaris tak terlihat.

“Kalau melewati detector, bisa-bisa saya dikira membawa bom,” katanya dengan mimik lucu sambil memegang kepala. “Ya, nggaklah… ‘kan ada suratnya,” istrinya menyahut sambil tertawa.

Kala siang hari, pasangan ini ditemani oleh cucu-cucu tercinta yang rumahnya berdekatan. Malam hari, giliran si bungsu yang masih tinggal bersama mereka, menjadi teman setelah pulang dari tempat kerja.

“Jangan pernah merasa tidak mampu karena Tuhan yang akan menggenapi,” pesan John kepada Pembaca MeRasul. “Para murid itu nelayan yang sederhana tetapi setelah dipakai Tuhan, mereka menjadi pelayan yang hebat. Kita hanya perlu taat sampai mati karena pelayanan itu tidak mengenal kata akhir.”

Anas

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY