Valent, Penyanyi Mezzo Sopran yang Introvert

0
34

SETELAH beberapa kali janji untuk ngobrol namun tertunda, akhirnya MeRasul bertemu di rumahnya di daerah Carina Sayang. Beberapa saat obrolan berlangsung, Valent mulai berkisah bagaimana awalnya ia suka menyanyi.  Pertama kali ia diperkenalkan olah vokal adalah ketika orangtuanya berkaraoke dengan lagu-lagu lawas di rumah. Semasa kecil,  ia sempat belajar bermain piano dengan tantenya, seorang pianis. Berjoget di depan radio adalah kebiasaannya.

Saat menginjak SMA, Anastasia Valentina Nova Aman, begitu nama lengkap Valent, aktif mengikuti paduan suara di sekolahnya, SMA Notre Dame Jakarta.  Ia selalu berpartisipasi saat paduan suaranya bertugas Misa di gereja. Beberapa kali mewakili paduan suara sekolah, ia mengikuti ajang Festival Paduan Suara yang diadakan oleh sekolah atau universitas di Jakarta. PSnya pernah meraih Juara 2 di ajang tersebut. Support dari pihak sekolah sangat dirasakan pada saat itu.

Saat menginjak kelas 3 SMA, keinginannya untuk melanjutkan studi dalam bidang olah vokal belum disetujui oleh orangtuanya. Respon papanya saat itu, “Mau jadi apa kamu nanti?” Menurut papanya, keinginannya ini termasuk nyleneh.

 Malahan ia langsung diikutsertakan pada seleksi jalur prestasi Universitas Tarumanagara. Akhirnya, Valent masuk Fakultas Psikologi Untar.

Saat kuliah,  prestasi akademisnya biasa saja. Ia bergabung dengan organisasi mahasiswa Paduan Suara Universitas Tarumanagara (PSUT) dan Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Psikologi.  Aktivitas non akademisnya cukup banyak di kampus, terutama dalam hal paduan suara, bahkan sempat didapuk sebagai ketua PSUT.

Suatu ketika, ia ditanya oleh dosennya, “Valent … kamu biasanya nyanyi lagu ‘Tanah Air’ di nada dasar apa?” Tanpa disangkanya, ternyata nada lagu itu diminta oleh Addie MS untuk dipakai dalam peresmian Gedung Untar dan Auditoriumnya. Twilite Orchestra menjadi musik pengiringnya. Inilah pengalaman pertamanya bernyanyi dengan orchestra. Bernyanyi tunggal diiringi Twilite Orchestra, ungkapnya, merupakan kado terbaik yang pernah diterimanya selama ia kuliah. Penampilannya menyedot perhatian dari mereka yang hadir.

Harapan meraih impiannya belum sirna bertahun-tahun kemudian. Di tengah perjuangannya mengerjakan skripsi, ia terus memegang janji ibunya. Kata ibunya, “Terserah, kamu mau ke mana setelah menyelesaikan skripsi.”  Dan kata-kata ibunya inilah yang mendorongnya lebih bersemangat menuntaskan tugas akhir kuliahnya.

 

Titik balik 2009

Selama di Untar inilah ia mengalami titik balik. Seperti yang disampaikannya kepada MeRasul, di akhir pergulatannya dengan skripsi, ia menyisihkan sisa waktunya untuk berkutat dengan hal yang menyehatkan, yakni fitness di kampus. Olah raga ini, menurutnya, adalah ajang rekreasi penurun tingkat stres. Proses latihan yang diikutinya, kedisiplinan hariannya membuahkan prestasi lain. Juara 2 lomba fitness lokal kampus. Lumayan!

Melihat potensinya, trainer  kampus mendaftarkannya untuk mengikuti lomba modeling yang diadakan majalah Men’s Health, dan menjadi finalis. Beberapa waktu sebelum kompetisi ini berlangsung, Valent berhasil menyelesaikan ujian skripsinya dan ia dinyatakan lulus, di tahun 2009.

Seminggu setelah ujian skripsi, ia langsung mengikuti karantina final dalam rangka pemilihan model berbakat majalah gaya hidup sehat ini. Dalam pemilihan ini, Valent berhasil meraih Juara 1 Men’s Health Girl, Model Fitness Perempuan pendamping majalah Men’s Health.

Sebulan berselang, ia diberi kabar bahwa PS Batavia Madrigal Singers (BMS) membuka pendaftaran anggota baru. Valent sangat menginginkan untuk bergabung dalam PS ini. Daniel Christianto, seorang tenor Indonesia/BMS, gurunya pada saat itu, sempat bertanya kepadanya, “”Kamu yakin mau masuk BMS? susah lho”. Ia justru makin tertantang mengikuti seleksi meski susah. Karena salah satu persyaratan mengikuti BMS adalah kemampuan membaca baca not balok, salah satu yang ia inginkan untuk belajar. Pendaftar pun harus membawakan lagu klasik sebagai tambahan syarat. Saat itu, Valent membawakan salah satu lagu ciptaan W. A. Mozart,  An Chloe. Valent menjawab tantangan ini dengan baik. Avip Priatna sang music director, tertarik pada suaranya. Dan ia pun bergabung dengan BMS.

 

Cakrawala bermusik baru

Valent merasa, hidupnya berubah setelah ia masuk BMS. Cakrawala berpikirnya berubah. Ia merasa orang-orang yang ada di sebelah kanan-kirinya adalah orang yang melek suara, penyanyi profesional, beberapa jagoan piano, juga ada sebagai pelatih paduan suara, yang berasal dari berbagai universitas. Sungguh suatu tantangan.

Keaktifannya di BMS adalah pilihan untuk mengejar ketertinggalannya dalam teknik menyanyi yang lebih baik. Di BMS, Valent sering mengikuti lomba-lomba yang diadakan, bahkan beberapa kali lomba kaliber internasional yang diselenggarakan di beberapa negara. Banyak prestasi dan berbagai penghargaan di berbagai ajang kompetisi dan festival internasional yang diperolehnya. Baginya, pengalaman selama lima tahun cukup berarti dan membanggakan. Salah satu raihan prestasi yang luar biasa ditorehkan oleh Paduan Suara Batavia Madrigal Singers (BMS) dengan konduktor, Avip Priatna, saat menyabet sekaligus 5 piala meski baru pertama kali mengikuti kompetisi Certamen Internacional de Habaneras y Polifonía de Torrevieja atau Festival Internasional Lagu Habanera dan Polifoni di Spanyol yang berlangsung pada 23 – 30 Juli 2011. Salah satu pencapaian yang berkesan bagi Valent bersama BMS.

Pada tahun 2014, Valent selesai. begitu istilah yang dipakainya.  Ia mengambil cuti dari BMS, setelah lima tahun masa aktifnya. Keputusan ini tidak berarti ia keluar begitu saja dari musik. Ia masih tetap berlatih dengan Avip Priatna, sang music director. Menurutnya yang namanya penyanyi tidak lepas dari latihan. Ia berlatih sebagai penyanyi solo mezzo soprano. Gemblengan yang didapatkannya dari Avip, membuatnya semakin mantap. Ia sering diminta sebagai solis di acara-acara besutan The Resonanz Music Studio.

The Resonanz Music Studio (TRMS) merupakan  badan yang membawahi BMS, Jakarta Concert, Balai Recital Kertanegara, dan The Resonanz Children Choir. Memasuki tahun ketiga  di TRMS, ia mendapat tawaran untuk mengajar di TRMS yang saat itu membutuhkan banyak guru vokal untuk anak anak hingga kini. “Puji Tuhan, saya bersyukur mendapatkan kesempatan kerja di mana saya suka,” ungkap putri pasangan suami istri, KBP (purn) Drs. James Aman, Apt seorang pelayan di bidang kesehatan masyarakat, dan AKBP (purn) Tati Sugiarti, seorang yang sedikit banyak aktif dalam hal gereja.

Dalam bidang pelayanan, Valent mengisinya dengan keikutsertaan dalam PS Keluarga Kudus Nazaret (PS KKN) Sathora. Ada kepuasan bernyanyi untuk Tuhan di gerejanya. Walaupun dengan waktu terbatas, ia berjanji hadir pada saat dibutuhkan. Begitu pula dengan keikutsertaannya di grup Voice of Great Moments (VoGM). Aktivitasnya antara lain untuk mengisi pelayanan misa arwah, anniversary, pernikahan dan acara lainnya. Dalam pelayanan bidang olah vokal ini, sungguh terasa bahwa melakukan penghiburan adalah hal menyenangkan, sekaligus membuat diri merasa berguna.

Ia mengatakan, “Kita harus mengenal diri kita serta bekal talenta kita masing-masing, kembangkan dan pergunakan. Apa gunanya kita menjadi besar kalau tidak berguna bagi orang lain.”  Ia mengakui, dalam mewujudkan impian, banyak pengalaman dan tugas yang memang harus dijalani. Kado lain dari Tuhan adalah perjuangan dan pengorbanan dan rasa percaya bahwa akan ada saat yang tepat untuk tiap impian menjadi kenyataan. Ia pun dulu mengambil kesempatan ini meski belum mempunyai bayangan masa depan.

“Dari kita untuk Tuhan, ujarnya. Itu yang menjadi benang merahnya. Tuhan sudah begitu baik menolongnya, menyadarkannya bahwa talenta yang diberikan-Nya itu penting. Pada saat saya harus melayani, dengan kemampuan dan waktu yang saya miliki, saya akan menggunakannya untuk pelayanan dan penghiburan,” demikian ia menambahkan. Talenta satu berbeda dengan talenta yang lainnya. Pelayanan riil dengan manusia adalah jalan pelayanan kita kepada Tuhan. Talenta yang diberikan kepadanya, dijaganya supaya tidak membuatnya menjadi sombong. “Sering saya menegur diri sendiri, supaya saya menjadi tidak sombong,” akunya.

 

Introvert

Valent, kelahiran 5 November 1985, mengaku sebagai seorang introvert. Lebih ke arah menggali ke dalam.  “Melihat apa yang  saya punya dan mengerti apa saya butuhkan, saya pikir berpikir terlebih dahulu, kemudian saya akan berikan itu kepada orang lain”, ujarnya. Demikian pun ia memerlukan tantangan untuk menjadi berani tampil dan menjadi lebih percaya diri. Menurutnya, untuk meraih sesuatu kadang membutuhkan pengorbanan.

Dalam obrolan, sempat diusulkan judul di rubrik MeRasul kali ini, Valentina seorang introvert yang suka menyanyi”.  Ia tidak mempermasalahkannya. Dari sudut pandangnya, seorang introvert dalam hal ini memiliki kelemahan dan kelebihannya sendiri. Contohnya adalah rasa kurang percaya diri, padahal harus banyak berinteraksi dengan penyanyi lainnya. “Saya merasa harus seringkali mengomeli diri sendiri. Tantangannya, saya harus berani ‘maju’, kalau tidak, talentanya akan ‘dipatok ayam”, begitu ia mengingatkan diri.  Meskipun demikian, ia berceletuk tentang hobi nyanyinya ini. Sampai saat ini, tempat favoritnya dalam bernyanyi tidak berubah, (tetap) di kamar mandi.  Sadar, kalau ngomong soal kelemahan, tidak ada habisnya.

Menurut Valent, seorang penyanyi yang baik harus introspektif (keuntungan dari seorang introvert), berusaha mendalami maksud dari lagu yang akan dibawakannya. Pelajari bahasanya, pelajari maksud dari tiap kalimat di lagunya. Pelajari melodinya. Belajar, belajar, belajar. Bawakan dengan lebih percaya diri. Dan kepercayaan diri ini didapat dari berlatih. Menurutnya, panggung itu sebagai sarana untuk berlatih terus-menerus. Seorang penyanyi yang jarang berlatih, tidak akan dapat bernyanyi sesuai standar. Banyak anggota paduan suara punya ciri khas sebagai introvert maupun ekstrovert. Namun sekiranya, kemauan berlatihlah yang membukakan jalan untuk tampil lebih baik dan percaya diri.

 

Harapan dan Regenerasi

Valent sempat mengutarakan keinginannya, bahwa lima, sepuluh atau berapa tahun lagi, selama ia masih memiliki talenta ini, ia tidak akan berhenti bernyanyi. 

Beginilah perbincangan ia dengan MeRasul, tentang perkembangan di Sathora. Menurutnya, ada ketertinggalan dibanding dengan Gereja lain. Perlu komunitas untuk meningkatkan kemampuan mereka yang memiliki talenta lebih.

Paroki Sathora belum memiliki komunitas/wadah resmi petugas mazmur dan organis yang pengaruhnya nyata bagi perkembangan pelayanan Gereja. Peran pemazmur dan organis sangat nyata dalam mempersiapkan perayaan-perayaan khususnya hari besar. Pemazmur harus dididik dan dilatih oleh orang yang expert di bidangnya. Tidak lagi bicara tentang kiblat klasik atau bukan. Dan tentunya perlu support tidak terkecuali dalam pendanaan.

Dari pengalamannya, para petugas, haruslah merupakan orang yang siap dirinya; hatinya, tekniknya maupun penguasaannya akan lagu. Untuk itu dibutuhkan support  agar para petugas ini agar mereka menjadi panduan yang baik dalam memimpin/mengiringi umat dalam bernyanyi.

Menurutnya, wadah untuk para pemazmur sangatlah diperlukan. Di dalam komunitas diberikan waktu dan pelatihan untuk berproses hingga siap dan jadwal tugas yang kemudian disesuaikan dengan kemampuan tiap anggota.

Muncul ungkapan, bahwa sekarang susah mengundang anggota PS untuk mengikuti  pelatihan. Sebagai jawabannya bahwa adalah perlu untuk mewacanakan kembali program pelatihan wajib paduan suara di tingkat gereja lokal. Masih dibutuhkan orang-orang yang memiliki idealisme dalam bernyanyi. Orang-orang seperti itulah yang juga pada akhirnya membantu geliat paduan suara untuk semakin maju dan bergairah dalam pelayanan gereja.

Tidak jarang ditemukan umat gereja Sathora dengan kompetensi masing-masing di bidangnya, termasuk dalam hal paduan suara gerejawi. Namun sesuai kutipan dari salah satu ayat KS, yaitu ‘bahwa batu yang dibuang oleh tukang bangunan akan menjadi batu penjuru’ seringkali sesuai dengan kenyataan. Orang-orang berpotensi besar ini kerap menggunakan waktu, tenaga, pikiran serta karyanya dan sukses di tempat lain. Alangkah baik apabila mereka juga berkesempatan berkarya lebih bagi perkembangan dan kemajuan Gereja, terkhusus bagi gereja sendiri.

Saat ditanya, apa yang akan dilakukannya sekarang untuk pelayanan Gereja, Valent, umat Lingkungan Stefanus 2 ini mengatakan, yaitu ia akan tetap bernyanyi sambil menunggu datangnya regenerasi, di mana ide-ide baru dan segar dapat diterima dengan baik tanpa birokrasi berbelit-belit. Agar dapat diberlakukan pembinaan/pelatihan dari awal lagi, karena tidak ada sesuatu yang datang secara instan. Hal ini perlu sekiranya mendapatkan perhatian khusus sebagai jalan untuk lebih mengembangkan pelayanan Gereja.

Berto

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY