Api Pujian, Penyembahan Pujian, dan Penyembahan yang Katolik

0
16

Oleh Hendra Sumakud

 

SUATU saat, ada seseorang yang menyebarkan flyer acara Kebangunan Rohani Katolik (KRK) sambil mengatakan kepada setiap orang yang diberikan flyer, “Kalau Bapak ingin melihat Pujian dan Penyembahan yang hidup, datang saja ke acara KRK ini!”

Pada orang yang berbeda, ia berkata, “Di KRK ini, Bapak akan mendapat api sehingga Bapak memiliki hati yang berkobar-kobar saat melakukan Pujian dan Penyembahan!”

Kesimpulannya, menurut orang yang membagikan flyer tersebut, seseorang akan memiliki Pujian dan Penyembahan yang hidup dan berkobar-kobar bila ia menghadiri KRK yang dipromosikan dalam flyer. Seolah-olah api Pujian dan Penyembahan hanya dapat diperoleh dalam sebuah KRK.

Benarkah demikian?

Ada sebagian orang berpikir bahwa Pujian dan Penyembahan yang hidup hanya dapat diperoleh dalam sebuah acara Kebangunan Rohani. Dalam sebuah perbincangan di antara beberapa pelayan Pujian dan Penyembahan yang sedang membahas sebuah acara revival di suatu tempat, tampak sekali keterpesonaan mereka lebih tertuju pada hal-hal teknis. Mereka terpesona pada kepiawaian si worship leader, dekorasi yang bagus, tata suara dan tata lampu yang profesional, dan aksi panggung yang kelihatannya begitu hebat. Itukah yang menjadi ukuran sebuah Pujian dan Penyembahan yang hidup?

Mengapa penampilan Pujian dan Penyembahan dalam sebuah acara ibadat KRK begitu bagus dan menarik daripada Pujian dan Penyembahan dalam sebuah Persekutuan Doa (PD) mingguan? Haruskah demikian? Apakah sesuatu yang tampak lebih menarik sama dengan memiliki mutu yang lebih tinggi? Sesuatu yang amat bermutu memang memiliki daya tarik yang lebih besar. Sesuatu yang memiliki daya tarik yang lebih besar belum tentu memiliki mutu yang lebih besar.

Lagi pula, KRK memiliki tujuan yang tidak sama dengan PD. KRK bertujuan untuk menjangkau banyak orang. KRK lebih merupakan sarana evangelisasi. PD lebih menekankan aspek katetetis. PD merupakan sarana pembentukan dan pendewasaan iman. KRK  lebih terarah pada penyegaran iman saja.

Itu sebabnya, tampilan KRK harus lebih menarik. KRK harus dipersiapkan sedemikian rupa, agar menarik minat banyak orang. Itu sebabnya, setiap aspek yang berkaitan dengan tampilan sangat diperhatikan dan diatur sedemikian rupa mengikuti sebuah “skenario” tertentu. Tidak jarang terjadi, perhatian pada aspek tampilan menjadi terlalu berlebihan.

Perhatikanlah dengan lebih saksama seluruh persiapan kegiatan sebuah KRK. Tempat yang dipilih adalah tempat yang tidak hanya sekadar aman tetapi juga harus nyaman. Umumnya, tempat yang dipilih harus memiliki pendingin ruangan yang baik. Sound atau audio system yang digunakan adalah sound atau audio system yang baik, bahkan mungkin yang terbaik. Tujuannya agar suara pengkhotbah, pemimpin pujian, penyanyi, dan musik terdengar dengan baik. Hal ini bukan sekadar pilihan, tetapi sudah menjadi keharusan.

Demikian halnya dengan multi media. KRK dengan muliti media akan tampak lebih menarik dan lebih up to date. Over Head Projector atau yang umum dikenal dengan OHP yang dulu sering digunakan dalam KRK, sudah dianggap ketinggalan jaman dan tidak menarik lagi.

Para penyanyi latar pun dipilih yang memiliki suara bagus. Demikian pula dengan tata lampu dan dekorasi yang diatur supaya melalui semua itu, semangat dan gairah umat dapat dibangkitkan. Belum lagi, bila ada tambahan pembawa acara atau penyanyi terkenal yang adalah sosok pesohor lokal atau mungkin internasional, yang dilibatkan pula dalam acara Kebangunan Rohani. Seluruh indera manusia dipengaruhi sedemikian rupa dengan hal-hal artifisial.

Tanpa sadar, kita telah mengutamakan sesuatu yang cenderung menonjolkan hal yang sekunder. Hal yang bukan utama. Sikap seperti ini hanya akan menghasilkan sebuah eforia belaka karena aspek sugesti lebih ditonjolkan daripada memperhatikan aspek lain yang lebih penting.

KRK adalah istilah yang digunakan dalam lingkup Gereja Katolik. Istilah yang lebih umum dikenal dalam kalangan non-Katolik adalah KKR, singkatan dari Kebaktian Kebangunan Rohani. Kata “kebaktian” dalam KRK dihilangkan dengan sengaja, untuk membedakan diri dari KKR.

Secara historis, KRK atau KKR tidak diselenggarakan di tempat yang nyaman seperti sekarang. KKR tidak ditampilkan dengan sarana-sarana teknologi tercanggih pada jamannya. KKR diselenggarakan apa adanya. Karena tujuan KKR hanya sebagai sarana evangelisasi dan bukan ajang pamer belaka. Di sisi lain, dulu, KKR diselenggarakan dalam waktu beberapa hari dan KKR selalu memiliki program aftercare. Sebuah program tindak lanjut bagi mereka yang telah didoakan dalam KKR tersebut dan masih membutuhkan pendampingan bagi pertumbuhan imannya. KKR, lebih tepatnya KRK, sekarang tidak lagi memiliki program aftercare.

Dalam perkembangannya, terjadi pergeseran yang cukup signifikan terhadap arah dan fungsi Kebangunan Rohani. Amat disayangkan, acara Kebangunan Rohani dimanfaatkan untuk sesuatu yang lain, seperti pencarian dana, ulang tahun sebuah komunitas, penyembuhan, dan lain-lain. Hal tersebut tidak seluruhnya salah. Amat jelas terlihat bahwa bila penekanan lebih ditujukan pada segala sesuatu yang bersifat sekunder, justru akan mengaburkan tujuan utama Kebangunan Rohani tersebut. Walaupun ada aspek syukur dan pelayanan doa dalam KRK, namun pewartaan Kabar Baik yang bertujuan untuk membawa umat kembali ke jalan Tuhan atau untuk membangkitkan semangat iman merupakan tujuan utama KRK.

Lagi pula, orang sering salah memahami. Mereka menduga KKR atau KRK adalah Kebangunan Rohani itu sendiri. Artinya, acara tersebut bukanlah sebuah Kebangunan Rohani. Acara itu diharapkan dapat menghasilkan Kebangunan Rohani. Kebangunan Rohani baru merupakan tahap awal untuk bangkit dan bukan untuk lebih memperdalam. Lalu, bagaimana dengan pernyataan bahwa dari Kebangunan Rohani dapat diperoleh “api” bagi  Pujian dan Penyembahan yang hidup? Api atau hanya sebuah kembang api?

Mungkin saja ada api di sana. Tetapi, apinya hanya seperti kembang api. Indah hanya untuk waktu sesaat saja. Tampak hebat, tetapi setelah beberapa saat, kembang api itu meredup dan habis. Bila apa yang diperoleh dalam KRK tidak dipelihara dan diperdalam, niscaya api itu pun akan meredup dan habis diterpa badai ego, pengaruh dunia, dan kekuatan jahat.

Sering kali KRK tampak lebih menonjolkan aspek tampilan yang hanya menghasilkan kembang api saja dan bukan api yang sesungguhnya. Ironisnya, banyak orang memiliki sikap KRK mania.

Ada orang yang seolah-olah amat keranjingan KRK. Seolah-olah hanya KRK yang dapat membangkitkan gairah dan semangat iman. Perayaan Ekaristi dirasakan kurang. Benarkah demikian?

Bila ada yang menganggapnya demikian dan seolah-olah kenyataan yang terjadi tampak membenarkan anggapan tersebut, mengapa dapat terjadi seperti ini? Lalu, dari mana kita memperoleh api yang sesungguhnya?

Jawaban yang sebenarnya amat sederhana dan mudah sekali. Jawabannya sudah sering dijumpai namun kurang diperhatikan. Kita hanya dapat menemukan dan mendapatkan api yang sesungguhnya dalam Liturgi, khususnya dalam Ekaristi.

Sacrosanctum Concilium mengatakan bahwa Liturgi merupakan upaya atau sarana yang sangat membantu umat dalam membangkitkan semangat iman umat, baik dalam doa maupun dalam tugas perutusannya di dunia sebagai musafir (No. 2). Liturgi berpusat pada dan menjadi sarana utama dalam pewartaan iman akan Yesus Kristus dan seluruh karya-Nya. Liturgi dipandang sebagai pelaksanaan tugas imamat Yesus Kristus. Itu sebabnya, Gereja menyatakan bahwa Liturgi merupakan kegiatan suci yang sangat istimewa (No. 7). Sebab, seluruh aktivitas liturgis terlaksana dalam pimpinan dan kekuatan Roh Kudus (No. 6) dan dibaktikan bagi Bapa yang kekal (No. 7, paragraf 2).

Dalam kesempatan lain, Gereja menegaskan kembali bahwa kaum beriman hendaknya menjadi sadar karena Liturgi jauh lebih unggul dibandingkan semua bentuk doa kristiani yang sah (Direktorium tentang Kesalehan Umat dan Liturgi, Obor, Jakarta, 2011, No.11, hlm. 10). Kegiatan-kegiatan sakramental harus dan wajib dilakukan untuk mengembangkan hidup dalam Kristus, sedangkan berbagai bentuk kesalehan umat yang beragam, termasuk KRK, hanya bersifat fakultatif (Direktrium No. 11).

Liturgi menjadi prioritas utama. Namun, Gereja tetap menghargai setiap bentuk kesalehan umat yang membangun iman dan terarah pada Liturgi. Secara istimewa, terarah dan bersumber pada Ekaristi (Sacrosanctum Concilium, No. 10, paragraf 2). Secara eksplisit, api yang sesungguhnya ada di dalam Ekaristi.

Api tersebut akan berkobar lebih besar, bila kita mengembangkan kecintaan yang lebih besar terhadap Ekaristi. Tidak hanya menghadiri Ekaristi mingguan saja, tetapi juga secara rutin menghadiri Ekaristi harian. Selain itu, kita dapat membangun sikap devosional terhadap Ekaristi, melalui Salve atau Adorasi Ekaristi atau dengan melakukan visitasi.

Bagi kita yang Katolik, hal ini seharusnya bukan sesuatu yang asing atau baru. Dari aspek tampilan, Ekaristi tampak begitu sederhana, namun karena kesederhanaannya, sering kali kita menjadi kurang peduli dan kurang memperhatikan rahmat besar yang ada di dalam Ekaristi.

Ada sebuah kisah, seorang Katolik bernama Linda. Linda memiliki teman bernama Erna. Mereka berteman sejak masih di Sekolah Dasar. Suatu kali, Linda berjumpa kembali dengan Erna, setelah sekian tahun lamanya. Erna adalah seorang umat dari Gereja Pentakostal dan menjadi pelayan aktif di sana. Perjumpaan tersebut terjadi pada hari Minggu. Kemudian, Erna mengajak Linda untuk ikut bersamanya beribadat di gerejanya.

Erna mengatakan kepada Linda bahwa ibadat di gerejanya begitu hidup dan Linda dapat merasakan kehadiran Allah yang luar biasa. Linda menanggapi ajakannya karena sebenarnya ia sudah tidak asing dengan bentuk ibadat gaya Pentakostal. Linda cukup sering menghadiri Persekutuan Doa Karismatik yang memiliki gaya yang mirip dengan gaya Pentakostal tersebut di parokinya.

Saat mengikuti ibadat di gereja Erna, Linda pun turut terlibat cukup aktif dalam mengungkapkan ekspresinya saat Pujian dan Penyembahan dalam ibadat tersebut. Selesai beribadat di gereja Erna, mereka bercakap-cakap. Di akhir pembicaraan, Linda pun mengajak Erna untuk beribadat bersamanya di gereja paroki di mana Linda berdomisili. Linda tidak mengajak Erna untuk mengikuti perayaan Ekaristi pada hari Minggu. Karena esok harinya adalah hari Senin. Linda mengajak Erna untuk ikut bersamanya dalam Ekaristi harian pada Senin pagi. Erna pun menanggapi ajakan Linda dan berniat menghadiri Ekaristi pada Senin pagi tersebut.

Singkat cerita, pada pagi itu Erna pun mendatangi Linda yang sudah menantinya di depan gereja paroki. Suasana pagi itu amat tenang. Seperti biasa, Ekaristi harian jarang diiringi oleh musik. Kadangkala, Ekaristi harian dilaksanakan tanpa nyanyian. Dalam suasana tenang dan hening tersebut, kedua sahabat lama ini bersama-sama melangkahkan kaki menuju gerbang utama gereja.

Saat mereka hendak memasuki gereja, Erna mendadak merasa tidak mampu berdiri. Secara spontan, Erna berlutut saat ia memasuki gereja. Linda pun bertanya, “Ada apa, Na?” Erna hanya dapat menjawab, “Saya tidak kuat. Saya merasakan hadirat Tuhan yang begitu kuat di sini, di tempat ini!”

Kita semua tahu, biasanya perayaan Ekaristi harian lebih singkat, lebih sederhana, dan lebih hening daripada Ekaristi mingguan. Apa yang membuat Erna tidak mampu meneruskan langkahnya memasuki gereja?

Tidak penting, apakah cerita ini benar atau hanya rekayasa. Namun, satu hal yang pasti bahwa Yesus Kristus sungguh hadir dalam Sakramen Mahakudus. Kadang-kadang, orang yang bukan beriman Katolik, karena kesalehan hidupnya, dapat merasakan kehadiran Pribadi yang transenden tersebut. Kadang-kadang orang yang tidak beriman Katolik, justru memiliki penghayatan yang lebih Katolik.

Api dalam Ekaristi lebih seperti sebuah tungku atau sebuah perapian. Nyala apinya jauh lebih dahsyat! Karena bahan bakar yang ada dalam tungku lebih banyak daripada sebuah obor. Ekaristi memiliki persediaan bahan bakar yang amat banyak. Roh Kudus yang menghidupkan dan mengobarkan api tersebut (Direktorium tentang Kesalehan Umat dan Liturgi, No. 78, hlm. 68). Seluruh ibadat bermula dari dan disempurnakan dalam Roh Kudus. Seluruh ibadat kristiani, khususnya Liturgi, memiliki ciri pneumatis dan karismatis.

Berapa banyak orang yang menyadari rahmat yang besar, istimewa, dan luar biasa ini? Apakah kita ingin memperoleh api dan memiliki Pujian Penyembahan yang hidup? Mengapa tidak menghadiri perayaan Ekaristi secara lebih rutin dan lebih bergairah? Sebagaimana sudah dikatakan sebelumnya, bahwa tidak cukup hanya menghadiri Ekaristi pada hari Minggu! Berapa banyak orang yang memiliki devosi Ekaristi? Berapa banyak yang meluangkan waktu beberapa saat berdiam di hadapan Sakramen Mahakudus?

Sungguh Ekaristi adalah misteri iman, misteri yang mengatasi pemahaman kita dan hanya dapat diterima oleh iman (Ecclesia de Eucharistia No. 15). Yesus sendiri sudah berkata mengenai realitas Ekaristi dalam Injil Yohanes (Yoh. 6:26-58). Hanya iman yang dapat menerima apa yang dikatakan oleh Yesus. Sebab, lewat persatuan kita dengan tubuh dan darah-Nya, Kristus juga mencurahkan Roh-Nya… (No. 17), Ekaristi adalah secercah penampakan surga di atas bumi. Ekaristi adalah seberkas sinar mulia dari Yerusalem surgawi yang menembus awan sejarah dan menerangi peziarahan kita (No. 19).

Ekaristi adalah seberkas api yang membakar, yang memurnikan dan menggairahkan iman umat-Nya. Ekaristi sungguh-sungguh akar dari setiap bentuk kesucian (Sacramentum Caritatis No. 94). Ekaristi memiliki daya yang serupa dengan kekuatan sebuah nuklir (Sacramentum Caritatis No. 11). Ekaristi memiliki daya dan dampak yang lebih hebat dari sebuah bom nuklir yang dapat meluluhlantakkan sebuah kota, seperti yang terjadi pada Nagasaki dan Hiroshima.

Tema Ekaristi sering diangkat dan digemakan kembali oleh Gereja, seperti pada tahun 2012. Beberapa keuskupan, khususnya Keuskupan Agung Jakarta, menetapkan tahun 2012 sebagai Tahun Ekaristi. Hal itu dilakukan bukan hanya karena Gereja hendak menekankan Ekaristi sebagai sesuatu yang amat berharga dan istimewa bagi iman Katolik, tetapi juga untuk menyadarkan umat bahwa mereka mendapatkan api yang sesungguhnya dan bukan sekadar kembang api, hanya di dalam dan melalui Ekaristi.

Ekaristi menjadi sumber utama untuk menyulut dan mengobarkan api bagi hidup doa dan karya nyata. Dengan demikian, mereka memiliki semangat dan gairah dalam melaksanakan tugas perutusannya di tengah dunia, sehingga umat Allah mampu menjadi signum Dei, menjadi tanda Ilahi yang menjulang di antara bangsa-bangsa (Sacrosanctum Concilium No. 2).

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY