Belajar dari Keluarga Kudus Nazaret – Bagian Kedua

0
37

Oleh Ibnu Fajar Muhammad MSF

 

  1. Keluarga Kudus yang Taat

Matius mencatat sampai tiga kali (Lihat Mat 1:24, 2:14, 2:21) bahwa Yusuf taat akan kehendak Allah. Secara teknis, penulis Injil ini mau menggambarkan sosok Yusuf sebagai seorang Yahudi yang saleh, suci, yang hidup dalam segala sesuatu sesuai dengan Hukum Taurat. Seolah-olah dapat dikatakan, bahwa seluruh hidup Yusuf hanya diabdikan untuk melakukan hukum yang diberikan Allah kepadanya.

Penginjil Lukas menggarisbawahi Maria yang taat kepada Allah dalam perikop kabar gembira (lihat Luk 1:26-38). Pilihan taat yang dilakukan Maria ini bukan atas dasar takut, namun berasal dari kebebasan untuk menerima atau menolaknya. Allah tidak akan memaksakan kehendak-Nya, seandainya Maria menolak. Rencana Allah akan terlaksana dengan indah seandainya ada keterlibatan penuh manusia yang diajak untuk mewujudkannya. Hal itu sungguh terjadi dalam diri Maria sehingga kita bisa mengalami penebusan dalam Putranya.

Cerita tentang Yesus saat hilang di kenisah (Lihat Luk 2:41-52) memuat dua unsur ketaatan, yaitu  yang pertama dari kata-kata Yesus, “Aku harus berada…”. Ketaatan kepada Allah. Dan ungkapan, “Ia patuh kepada mereka”, yang mengungkapkan kepatuhan Yesus kepada orang tuanya. Dia bisa memadukan ketaatan vertikal dan horisontal.

Secara keseluruhan, kehidupan Keluarga Kudus Nazaret menekankan ketaatan; baik ketaatan kepada Allah yang diketahui melalui perintah penguasa politik, maupun ketaatan Allah yang kehendak-Nya diketahui melalui Hukum Taurat. Secara singkat bisa dikatakan bahwa dalam bertindak, Keluarga Kudus Nazaret sungguh taat kepada hati nurani yang mereka yakini sebagai takhta Allah.

 

  1. Tantangan untuk Keluarga Jaman Sekarang

Tantangan yang dihadapi Keluarga Kudus Nazaret tentu berbeda dengan tantangan keluarga kita sekarang. Namun, yang diharapkan tetap ada adalah semangat dalam menghadapi tantangan. Keluarga Kudus memandang tantangan bukan sebagai rintangan yang menghambat laju hidup menggapai kebahagiaan mereka. Namun, mereka memandang tantangan sebagai suatu kesempatan untuk mewartakan nilai adikodrati. Tindakan Keluarga Kudus Nazaret justru dapat dijadikan sebagai suatu tindakan alternatif dalam menjawab permasalahan yang mereka hadapi.

Tantangan yang umumnya dihadapi keluarga jaman sekarang, berdasarkan temuan-temuan yang kami jumpai selama pendampingan keluarga di Jakarta, lebih ditandai dengan:

  1. tekanan kesibukan.
  2. perubahan kemesraan dan keakraban
  3. perubahan hirarki nilai
  4. kesempatan ketidaksetiaan.

De facto, banyak orang disibukkan dengan pekerjaan dan tugas-tugas tambahan yang harus dikerjakan di luar jam pekerjaannya. Belum lagi adanya tugas-tugas kemasyarakatan yang sering mengesampingkan waktu bersama dengan seluruh anggota keluarga yang lain. Hal ini menyebabkan estafet nilai yang dihidupi orang tua kepada anak menjadi sedikit terhambat. Anak merasa tidak mendapatkan keadilan dalam soal pembagian waktu dari orang tua untuk dirinya. Tindakan mengutamakan kesibukannya, justru membuat anak juga belajar untuk tidak adil dalam memperhitungkan prioritas dalam hidup ini. Yang lebih diutamakan adalah keinginannya, terlebih untuk mengusir kesepiannya. Dalam kehidupan di Nazaret, Yusuf  mempunyai pekerjaan rangkap. Yakni, sebagai petani dan tukang kayu. Kita bisa membayangkan, bahwa hidupnya tentu sering mendapat tekanan kesibukan. Namun, dia tidak hanyut pada kesibukan tersebut.

Perubahan kemesraan dan keakraban terjadi secara alamiah tanpa direncanakan. Kemesraan dan keakraban yang muncul dan bertumbuh secara alamiah membutuhkan waktu dan frekuensi yang ajeg baik. Maka, dengan berkurangnya relasi dan komunikasi antaranggota keluarga justru mengakibatkan berkurangnya kemesraan dan keakraban, baik dalam warna maupun ungkapannya. Ditambah lagi dengan godaan untuk menggantikan kemesraan dan keakraban dengan uang dan harta benda. Hal inilah yang menumbahkan semangat konsumtif keluarga.

Di samping itu, penilaian terhadap prestasi dan prestise, efisiensi dan efektivitas, karier dan gengsi cenderung memuncak. Secara bersamaan, ada nilai-nilai yang mulai menurun posisinya, yakni kesederhanaan, suasana santai, kebersamaan, kegembiraan, kebahagiaan batin yang mendalam, waktu merenung, suasana doa, dsb. Maka, masuk di akal kalau orang lebih mementingkan kemewahan yang dapat dilihat daripada kedamaian dan kebahagiaan yang mendalam. Orang lebih mementingkan aspek pleasure daripada joy atau happy. Perubahan nilai tersebut dalam keluarga justru memperpuruk keluarga itu sendiri.

Kuantitas perjumpaan dalam keluarga yang semakin berkurang memberi kesempatan kepada mereka untuk tidak setia satu dengan yang lain. Hal ini tidak berarti selalu love affair. Apalagi ditambah dengan banyaknya gosip yang bisa semakin memicu untuk tidak setia. Anak yang menjadi korban.

Bermula dari kesibukan di luar rumah, orang bisa kehilangan keharmonisan di dalam rumah tangganya. Ada ketidakseimbangan dalam prioritas. Dengan kata lain, ada semangat ketidakadilan yang hanya mementingkan yang dianggap menarik dan yang justru membuat orang terjerumus ke arah perpecahan dalam keluarga. Pendek kata, situasi yang dihadapi oleh keluarga jaman sekarang sungguh dapat memperpuruk keluarga ke arah yang tidak membahagiakan, jika orang hanya mengikuti arus kuat trend semata-mata. Maka, dibutuhkan teladan yang hidup dalam menghadapi masalah tersebut.

 

  1. Apa yang Bisa Dibuat oleh Keluarga Jaman Sekarang?

 Modul Kursus Persiapan Perkawinan KAJ, tentang tema panggilan menjadi orang tua, menyajikan bahan yang patut saya sajikan sebagai suatu jawaban atas pertanyaan di atas. Namun, harus ada jaminan bahwa keluarga kita sendiri berani mengadakan perubahan-perubahan demi kebaikan bersama. Prinsip-prinsip yang sebaiknya diubah, dengan mengacu kepada Keluarga Kudus Nazaret, antara lain adalah sebagai berikut:

Prinsip mementingkan isi diubah menjadi mementingkan suasana. Suasana sering lebih membantu daripada isi: bersama siapa, bagaimana, di mana. Dalam hal ini, keluarga berusaha untuk membangun suasana dengan nada, hawa, warna, alam. Dalam suasana yang baik, Maria dan Yusuf mampu menanamkan isi nilai yang berasal dari Allah. Lebih didahulukan aspek suasana.

  1. Prinsip penguasa diubah menjadi prinsip rakyat. Bukan pangkat, kedudukan, dan simbol-simbol kebesaran yang dikejar. Namun, harkat, berkat, kebersamaan, dan persaudaraan. Tidak hanya selesai dengan rumusan yang indah untuk menyelesaikan masalah, namun suatu tindakan konkret dari orang tua justru dapat memberikan semangat anak dan anggota keluarga lainnya untuk bangkit. Kemampuan mendengarkan ditularkan oleh Maria dan Yusuf kepada Yesus. Kemampuan mendengarkan ini muncul dari ketaatannya kepada nurani.
  1. Prinsip kesempurnaan diubah menjadi prinsip dialektika (proses). Orang tua sering kali menuntut anaknya mendapat nilai yang paling bagus, sehingga harus mengkursuskan anak pada bimbingan belajar. Bisa jadi karena tuntutan itu, lalu anak menyontek demi mendapat nilai paling tinggi. Proses mendapat nilai sering kali terabaikan. Padahal positif-negatif, kelebihan dan kekurangan yang dimiliki oleh seseorang adalah bernilai bila kita olah dengan dialektika. Proses 30 tahun hidup tersembunyi di Nazaret adalah proses asah, asih, dan asuh yang tidak instan.
  1. Prinsip moral baik-buruk diubah menjadi prinsip perbandingan nilai. Dasar pemilihan bukan berdasarkan baik atau buruk namun memilih yang lebih bernilai di antara kenyataan yang ada. De facto, sekarang orang dihadapkan pada pilihan yang semuanya buruk. Diharapkan, orang memilih yang buruk menjadi lebih baik daripada memilih yang lebih buruk. Misalnya, memukul atau tidak memukul? Mungkin demi keselamatan nyawa harus memukul. Maka tidak heran, kalau Yesus tidak menghukum mereka yang berdosa, namun dosa dipakai sebagai suatu pengalaman yang dijadikan pijakan untuk menggapai hidup ideal sesuai dengan rencana Allah.
  1. Prinsip rendah diri diubah menjadi rendah hati. Tidak mengakui kebaikan dan kelemahan adalah rendah diri. Tidak Percaya Diri (tidak PD). Mengakui kelebihan dan kekurangan adalah rendah hati. Percaya diri tapi tidak sombong.
  1. Dibedakan antara agama dan iman. Iman yang sebenarnya harus menjadi dasar hidup beragama. Tanpa iman, agama justru bisa berbahaya. Misalnya, munculnya kekerasan terhadap orang beragama lain. Berkali-kali kita membaca Yesus mengecam cara hidup orang Farisi yang lebih mengutamakan aspek agama daripada iman.
  1. Prinsip orang tua sebagai wakil Tuhan diubah menjadi orang tua adalah orang kepercayaan Tuhan. Orang tua diberi kuasa oleh Tuhan. Maka, dalam pendidikan anak pun orang tua harus tanya terlebih dahulu kepada Tuhan. Orang tua tidak lagi menentukan segala-galanya. Tugas orang tua lebih memfasilitasi agar kehendak Tuhan terjadi pada si anak sehingga anak diperlakukan sebagai subjek yang berperasaan, yang perlu selalu disapa dan ditanya, dan kalau perlu bisa dijadikan sebagai rekan di masa depan. Maria dan Yusuf sadar benar akan peran yang diberikan Allah kepada diri mereka sehingga mereka tidak menyia-nyiakan kepercayaan Allah dalam mendidik Yesus.
  1. Kebahagiaan yang sering kali diartikan mengumpulkan banyak hal untuk dirinya sendiri diubah menjadi bahagia akan terjadi kalau aku memberi, berbagi dengan yang lain, dan yang lain menjadi bahagia karena kehadiranku. Yusuf, Maria, dan Yesus selalu siap sedia memberikan diri dalam berlomba saling melayani.
  1. Prinsip bahwa harta adalah masa depan diubah menjadi Tuhanlah satu-satunya penentu masa depan. Usaha kita yang terus-menerus adalah usaha untuk melibatkan diri dengan rencana Allah yang mau membahagiakan kita. Maka, kita perlu berdamai dengan diri sendiri dan sesama serta percaya pada penyelenggaraan Ilahi
  1. Prinsip moral perlu dilengkapi dengan prinsip sosial. Baik-buruk dalam diri orang perlu dilihat dengan bingkai baik-buruk dalam kaitan dengan orang lain.
  1. Orang tua biasanya lebih menekankan pada anak untuk selalu belajar dari ilmu di sekolah, dan selanjutnya perlu anak untuk diajak belajar dari ilmu yang berasal dari kehidupan nyata. Karena ilmu tidak didasarkan pada menghafal tetapi dari  memahami sesuatu hal karena anak mengalaminya dalam kehidupan sosial.

 

  1. Wasana Kata

Keluarga jaman sekarang perlu senantiasa mengadakan banyak pertobatan dalam praktik kehidupan mereka. Mereka masih perlu memperlengkapi diri dengan lebih banyak belajar dari keteladanan hidup yang diberikan oleh Keluarga Kudus Nazaret. Lalu, bagaimana dengan keluarga kita? Apakah keluarga kita juga sudah menjadi sekolah yang baik bagi generasi baru kita? Apakah mereka yang kita didik bisa bertumbuh semakin dewasa?

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY