Sebelum Seribu Hari

0
41

ADA batu besar di ujung pantai sebelah sana. Rustina berlari secepat mungkin karena suaminya menunggu di batu itu. Mereka berpelukan erat sekali….   Sudah dua tahun lebih mereka terpisah.

Sambil berlari, Rustina merasa ada sesuatu yang salah. Tapi, ia tepis. Pokoknya hari ini berjumpa!

Rusman mengusap kepala istrinya.

Senyuman Rusman mengalirkan air mata rindu Rustina.   Ditatapnya lekat-lekat wajah istrinya.

“Tina…. Mengapa kau kasari Rara? Tidakkah kau lihat betapa besar pengorbanannya merawat kita. Tapi, kau selalu memarahinya. Kau tidak menghargainya!”

Rustina diam. Sifatnya yang keras kepala menolak untuk mengaku.   “Dia melukai kulitku. Perihnya bukan main!”

“Tina… ia tidak sengaja. Sadarlah. Sekarang kamulah yang membutuhkan dia. Walaupun dia anakmu, tapi kau tak boleh membentak-bentak seenakmu.”

Rusman berkata serius. “Bayangkan kalau ia tak mau lagi mengurusmu. Bisakah kau bergerak tanpa bantuannya?”

Rustina masih berusaha menyangkal. Rusman melepaskan pelukannya seraya mundur.

“Kau tak boleh kasar padanya. Ingat! Rara adalah anak kita.”

Sedetik kemudian, Rusman lenyap. Rustina tersentak bangun.

Roh Rusman masih ada di rumah tua itu. Ia memandangi tubuh istrinya yang baru saja terjaga. Belahan jiwanya kini telah menjadi seorang perempuan jompo.

Sifat Rustina agak kurang enak. Segala urusan dituntutnya harus sempurna. Matanya sangat jeli menangkap hal sekecil apa pun yang kurang beres. Entah letak barang yang tak lurus, ceceran sebutir nasi di meja, kerak jejak aliran air di wastafel kamar mandi, dan segala macam.   Apalagi urusan uang. Serupiahpun tak boleh terbuang untuk membayar yang tidak berguna. Semua orang jadi tak nyaman berada di dekatnya.

Kesehatan Rustina merosot drastis begitu Rusman tiada. Ia sering uring-uringan, kesepian, dan frustrasi karena tak leluasa beraktivitas lagi.

Rusman masuk ke kamar Rara. Kasihan anak yang satu ini. Sepertinya ia ditakdirkan menjadi perawat orang tuanya. Tak ada teman bergaul, apalagi kesempatan berkarir.

Rara sedang menulis buku hariannya. “Hari ini mama marah-marah lagi. Aku tak sengaja menggosok punggungnya terlalu keras hingga lecet. Ia keperihan kena air sabun. Aku dibentaknya, kerja asal-asalan….” Air mata deras di pipinya membasahi halaman yang sedang ditulisnya.

Rusman membelai kepala anak nomor tiganya itu. “Sabar, Anakku. Papa sudah menegurnya. Kuminta, tetaplah kau menyayangi dia. Biar bagaimanapun mama sebenarnya sangat mencintai kalian.”

Rusman memandangi Rara yang tertidur dengan hati nelangsa. “Tabahlah, Ra. Aku akan memohon agar Tuhan Yesus memberkatimu.” Lalu, ia melayang menembus dinginnya langit hitam.

***

   Rusman pindah ke rumah Rani.

   “Pa, mengapa kau tak datang lagi dalam mimpiku?” tanya Rani sambil duduk di tepian jendela yang lebar di ruang kerja suaminya. Matanya menatap langit yang masih kelam. Pukul dua dini hari.

     Rusman memeluk pundak putrinya. Tapi, Rani tak merasakan sentuhan itu. Hanya terasa semilir angin bertiup.

***

Rara telaten merawat Rusman semasa sakit-sakitan hingga hembusan napas terakhirnya. Ia paham betapa beratnya Rara bertahun-tahun melayaninya. Maka, Rusman berusaha tidak mengeluh meski tubuhnya tak pernah terasa nyaman.

Biarpun memiliki empat anak — Randy, Rani, Rara, dan Radit– akhirnya tinggal satu anak saja yang bisa mengurus orang tua.

Randy sudah menikah. Ia mendapat pekerjaan di luar negeri. Jadi, ia jarang pulang.

Rani juga sudah menikah dengan seorang pengusaha kelas menengah. Dialah yang menanggung hidup kedua orang tuanya plus Rara yang terpaksa berhenti bekerja agar bisa berbakti kepada orang tua. Beruntung, suami Rani tidak keberatan. Tuhan telah memberkati usahanya. Rezeki selalu mengalir meskipun memang ia harus bekerja keras.

Radit, si bungsu. Sejak tiga tahun lalu, ia sudah menyelesaikan studi. Tapi, hingga kini, ia masih berjuang mencari pekerjaan yang cocok. Kerja di perusahaan A, tak sampai tiga bulan sudah berhenti. Cari lagi via internet, wawancara lagi. Tapi, selalu ada saja keluhan ini itu.

Keadaan Rara dan Radit mengganjal batin Rusman ketika ia berhenti napas. Kegalauan ini menghambat perjalanan rohnya menghadap Tuhan.

Setiap mendekati Gerbang Kerajaan itu… Rusman langsung berpaling karena ia mendengar isakan anak perempuannya atau suara istrinya yang mengajak bicara fotonya. Jadi, ia kembali lagi ke bumi. Seperti sekarang yang sedang ia lakukan.

***

Rustina berteriak parau. “Raraaaa… kamu di manaa…!”

Rara terkantuk-kantuk menghampiri ibunya. Rustina mengomel karena Rara tak langsung datang. “Lama sekali sih! Aku sudah tak tahan ingin buang air kecil !”

Rara langsung meledak. “Aku capai! Siang malam mengurus Mama, tapi Mama perlakukan aku bagaikan budak!” jawab Rara jengkel.

“Waktu kau bayi, akupun siang malam mengurusmu!” Rustina tak terima. Ia lupa pada pesan Rusman dalam mimpinya tadi.

“Cepat, bantu aku! Atau aku keburu ngompol di kasur!”

Rara menahan gusar mengangkat lengan ibunya dan memapahnya ke toilet.

Setelah Rustina duduk di toilet, Rara ke luar kamar, bersandar di dinding.  

“Hhh… punya tiga saudara. Tapi, cuma aku sendiri yang mengurus orang tua. Mereka tak pernah tahu apa yang kualami ini.”

“Raraaa…!!! Sudah selesai!! Haiii…!! Kau di manaa…?! Cepat dataaang!!” Rustina menjerit.

Rara masih enggan bergerak. Teriakan sember nenek itu merobek udara pukul empat subuh.

“Raraaa!! Aku tahu sudah jompo, lalu kau tinggalkan aku terus?! Aku ini ibumu! Raraaaa…!!”

Akhirnya, Rara datang. Dia bersihkan bagian tubuh ibunya itu dan membantunya mengenakan pakaian lagi.

“Papa tak pernah kasar begini padaku!” Rara geram, menahan tangis. Kesal, marah, dan tersinggung. Semua campur aduk!

Rustina menatap Rara. Mulutnya siap mendamprat, namun tiba-tiba ia teringat pada mimpinya tadi. Dampratan tak jadi keluar.

Setelah membaringkan ibunya, Rara langsung balik ke kamarnya.

***

“Mbak, Mama sudah tiga hari tidak mau makan. Dia ngamuk melulu. Perasaanku sudah babak-belur dimakinya terus.” Rara melapor.

“Sudah kau kasih vitamin nafsu makan?”

“Sudah. Tapi, dia tak mau. Katanya, buat apa umur panjang bila anak-anak tak ada yang sayang padanya.” Rara menahan air mata yang menggenang.

Rani duduk di tepi ranjang Rustina. “Ma, jangan marahi Rara terus. Dia capai sekali mengurus Mama. Kok Mama tega memaki-maki dia begitu?”

Rustina cemberut. “Aku sudah tak berguna. Kau pikir aku senang sakit-sakitan begini? Aku ingin menyusul papamu.”  

Dialog panjang berlangsung. Tak ada yang merasakan kehadiran Rusman di belakang Rani.

Hari demi hari. Kondisi Rustina semakin menurun. Kesadarannya kerap sirna.

Rani bergantian dengan Rara berjaga di rumah sakit.   Sementara Radit baru mendapat pekerjaan di Kalimantan. Ia tak berani minta ijin karena belum tiga bulan bekerja. Sedangkan Randy masih mencari waktu dan tiket pulang ke Indonesia.

Rustina menatap tak berkedip ke langit-langit kamar. Lamaaa sekali.

“Ma… ada apa?” tanya Rani.

“Papamu datang!” Rustina menunjuk. “Itu! Dia melambai padaku!”

Rani menahan napas. Papa telah menjemputnyakah? Rara memencet bel memanggil perawat.

Rustina menyeracau. Napasnya tersengal-sengal. Ia berusaha memanggil Rusman.

“Tungguuu ! Aku ganti baju dulu! Aku malu pakai baju jelek ini!” Suaranya tak jelas karena terhalang masker oksigen. Rustina berontak menarik segala selang yang melilit tubuhnya supaya ia bisa meraih tangan Rusman.

Rani dan Rara mengamati alat monitor yang mulai kesulitan mendeteksi denyut nadinya.

Napas Rustina semakin berat. Ia membuka mata, menoleh sekeliling. Ada suami dan anak-anak Rani.   Seorang pria berbaju putih mengusap dahi dan kedua telapak tangannya.  

“Terima kasih, Romo,” ucap Rani.

“Aku pergi… dengan papamu…. Rara maafkan kekasaranku…. Tuhan… ampuni…”   Bicaranya tak selesai, mata Rustina sudah menutup. Hirupan napasnya menyangkut di dada dan tak keluar lagi.

Rusman merentangkan tangan menyambut roh Rustina yang lepas meninggalkan tubuhnya. Kini, mereka pergi bersama… menghadap dan menelungkup di telapak kaki Sang Mahamulia, memohon ampun kepada-Nya atas segala perbuatan tercela semasa hidup di dunia. Semoga Ia sudi memberkati keempat anak mereka.

Suara orang-orang menggema di samping Rustina, “Salam Maria, penuh rahmat, Tuhan sertamu…”

Cipanas, 04-06-2017

Xu Li Jia

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY