Kasih Sejati

0
30

LIBURAN kenaikan kelas sudah tiba. Tahun ini, bertepatan dengan libur Hari Raya Idul Fitri. Semua anak, terutama yang naik kelas maupun yang lulus ujian, menyambutnya dengan gembira, tak terkecuali Andini.

Dini, nama panggilan gadis kecil yang periang ini, naik kelas lima Sekolah Dasar Hati Suci. Papa, mama maupun kakek dan nenek Andini sangat gembira dengan hasil yang diperoleh di sekolahnya. Juara pertama di kelasnya selalu diraih Andini sejak ia duduk di kelas satu.

Walaupun putri tunggal dari keluarga berada, Andini tidak sombong. Semua temannya senang berkawan dengan Andini yang periang. Begitu pula dengan semua sepupu Andini. Mereka sangat menyayanginya. Setiap liburan, mereka selalu berkumpul bersama di rumah kakek dan nenek. Rumah besar yang asri terletak di kaki pegunungan itu, merupakan tempat yang sangat menyenangkan untuk berlibur. 

Kakek dan nenek Andini mempunyai lima anak dan sepuluh cucu, termasuk Andini. Mereka tinggal di tempat yang berjauhan. Namun, setiap tahun pada hari raya Natal, Idul Fitri maupun liburan kenaikan kelas, semua berkumpul di rumah kakek dan nenek. Andini sangat senang berjumpa dengan semua paman, bibi maupun sepupunya, bermain dan bergembira bersama-sama.

Memancing ikan di kolam, berenang, berjalan kaki mendaki bukit maupun berkemah merupakan acara yang sangat disukai Andini.

Kadang acara memasak bersama juga mereka lakukan dengan bimbingan kakek dan nenek. Semuanya sangat menyenangkan hati Andini. Namun, … ada sesuatu hal yang sangat mengusik hati Andini setahun belakangan ini. Ia ingin menanyakannya kepada papa dan mama tapi selalu tidak jadi dilakukannya.

Andini berpikir, ” Apakah aku dapat bertanya kepada kakek dan nenek tentang hal ini?” Ia selalu ragu dan tidak berani bertanya kepada siapapun.

Sampai pada hari ini… ketika papa dan mama sedang melakukan persiapan untuk berlibur ke rumah kakek dan nenek, perlahan-lahan Andini mendekati mereka. Ia berbisik,

“Papa… Mama… bolehkah Andini bertanya sesuatu?”

Dengan sedikit terkejut, sambil membelai rambut Andini, Papanya menjawab , “Tentu saja Sayang, jangan takut. Engkau boleh bertanya apa pun juga kepada Papa dan Mama. Pasti Papa dan Mama akan memberikan penjelasan kepadamu. Apa yang ingin kamu tanyakan kepada kami, Nak? Ayolah jangan ragu-ragu, Papa siap menjawab.”

Papa berpura-pura memberi hormat kepada Andini layaknya seorang serdadu, membuat Andini tertawa terkekeh-kekeh.

“Baiklah, Papa dan Mama. Dini hanya ingin penjelasan saja mengapa hanya Papa, Mama, dan Dini saja yang merayakan Natal sedangkan semua paman, bibi, Oki, Rani, Rika, dan lainnya tidak? Kenapa kita berbeda, Papa?”

Papa maupun mama tidak terkejut mendengar pertanyaan putri tunggal kesayangan ini. Mereka sudah menyiapkan jawabannya sejak lama karena mereka tahu suatu hari kelak, Andini akan menanyakan hal ini.

Seraya tersenyum, papa memberikan penjelasan kepada Andini.

” Sayangku, setiap orang mempunyai pilihan sendiri-sendiri untuk memilih agama yang akan mereka anut. Papa dan Mama memilih Yesus karena kami yakin bahwa Yesus adalah satu-satunya Jalan, Kebenaran, dan Hidup seperti yang tertulis dalam Kitab Suci. Kamu sudah mempelajarinya bukan? Papa serta Mama juga sangat bahagia karena kakek dan nenek tidak menghalangi keyakinan kami. Mereka menerimanya dengan lapang hati. Karena itu, pertemuan keluarga besar kakek dan nenek selalu diadakan pada hari Natal juga, di samping hari-hari raya lainnya. Setiap kali berkumpul hanya kegembiraan saja yang kita semua rasakan, bukankah begitu, Sayang? ”

Andini begitu gembira mendapat penjelasan dari papa dan mama. Ia mengangguk-angguk sambil tertawa.Sekarang, dia mengerti semuanya. Walaupun berbeda keyakinan tapi tidak ada rasa benci yang diperlihatkan oleh keluarga besar kakek dan nenek. Mereka semua sangat menyayangi papa, mama, dan dirinya.

Kasih sejati dari kakek dan nenek telah menjadi panutan bagi semua keluarga besarnya.

“Terima kasih, Yesus, ” bisik Andini di dalam hatinya. Liburan tahun ini merupakan liburan terindah bagi Andini. Tidak ada lagi hal yang mengganggu hati dan pikirannya. Kasih sejati yang diperlihatkan kakek dan nenek tumbuh subur di dalam hati Andini.  Penny Susilo

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY