Kulakukan yang Terbaik Seturut Kehendak-Nya

0
95

NAMA asliku, Rozaline, gabungan dari nama papi Rozanandes dan Line, nama mamiku. Aku lahir dan besar dalam keluarga Muslim yang taat. Maklum saja, kakekku seorang datuk. Seperti orang Padang pada umumnya, aku sudah diajarkan mengaji sejak kecil. Sholat lima waktu tidak pernah aku tinggalkan, bahkan sholat tengah malam pun aku lakukan. Sekolah pun, papi selalu yang memilihkan untuk anak-anaknya, yakni di sekolah negeri.

Bunda Maria Menunggumu

Saat lulus SMP, papiku sedang dinas di luar kota. Maklum, pekerjaannya sebagai tentara mengharuskannya siap dikirim ke mana saja oleh kesatuan. Aku agak sedikit panik. Bagaimana tidak, selama ini papilah yang selalu mencarikan sekolah bagi kami, anak-anaknya.

“Masak, aku harus menunggu papi pulang,” bisikku di dalam hati. Tak disangka, seorang teman tanpa sepengetahuan kami telah mendaftarkan aku di salah satu SMA. “Muridnya perempuan semua…,” kata temanku itu.

Hari pertama masuk SMA, aku sudah jatuh cinta pada sekolahku, SMA Tarakanita. Rasa senang memenuhi hati ini ketika bertemu dengan teman-teman baruku. Entah mengapa, saat papi mengetahui sekolahku, beliau juga tidak marah. Di sinilah untuk pertama kalinya aku mengetahui bahwa ada agama lain, selain agama yang kuanut selama ini.

 Aku tumbuh menjadi anak yang mampu mengekspresikan diri, sedikit bandel namun masih dalam batas kewajaran. Akibatnya, aku harus sering bertemu dengan Suster Emanuela, kepala sekolah kala itu. Anehnya, suster Belanda itu tidak memarahiku tetapi justru merangkul dan mengundangku untuk datang ke susteran.  “Bunda Maria menunggumu,” katanya lembut.

Aku sering datang ke susteran. Sambil duduk di lantai, kuamati Suster yang sedang merajut atau menggambar. Suatu hari, suster menggambar seorang ibu yang sedang menggendong anaknya. Gambar itu kemudian dijadikan sambul buku dan diberikannya kepadaku. “Lihat, Bunda Maria sedang memelukmu,” kata Suster.

Ketika opa dari mami datang ke Jakarta, beliau membawa sebuah Kitab Suci. Rupanya, opa mampu membaca pikiranku. “Ini berbeda dengan Kitab Sucimu, tetaplah sholat,” kata opa. Sejak saat itulah aku mengetahui bahwa mami berasal dari keluarga Kristen.

Hadiah HUP Papi untuk Mami

Suatu ketika, Suster Emanuela menyuruhku datang ke gereja dekat rumah dan bertemu dengan Pastor Moelder. Aku pun datang dan itulah pertama kalinya aku datang ke gereja.

Aku bertemu dengan Pastur Moelder di Gereja St. Maria, Tangerang. Entah mengapa, saat itu langsung muncul niat yang kuat,  “Saya mau ikut Yesus.”

Sejak saat itu, aku sering pergi ke gereja, demikian juga dengan mami. Namun, karena takut diketahui orang lain dan membuat papi marah, kami sering duduk berjauhan.

Aku tetap rajin menjalankan sholat lima waktu, tetapi setelah itu aku juga “mengobrol” dengan Yesus. “Yesus, aku mau ikut “Kamu”, tetapi aku tidak mau murtad dan melawan orang tua,” kataku suatu kali.

Besok adalah Hari Ulang Tahun Perkawinan (HUP) papi dan mami. Malam itu, aku sholat tahajud pukul 12 malam dan setelahnya aku berdoa: “Yesus, aku mau ikut “Kamu”, tetapi aku mau itu keluar dari mulut papiku sendiri.” Tak lama kemudian, aku mendengar pintu kamarku diketuk. Papiku masuk dengan masih menggunakan kain sarung, tanda baru selesai sholat tahajud juga.

“Meis, besok hari apa?” Papi memanggilku dengan nama kesayangan seraya mengusap lembut kepalaku.

“Hari ulang tahun perkawinan Papi dan Mami,” jawabku.

“Papi mau kasih kado untuk Mami.”

“Kado apa Pi?  Perhiasan?”

Papi hanya mengangguk. Aku terus mendesak. Perhiasan apa, kalung, gelang…?

Papi masih terdiam sambil memandangiku, anak kesayangan yang selama ini paling dekat dengannya.

“Mutiara…,” katanya singkat.

“Mutiara itu adalah kamu. Kamu akan aku serahkan kepada Mami karena Papi tahu, kalian berdua telah beribadah di gereja selama ini.”

Aku tidak mampu berkata-kata, diam, dan terduduk di pangkuan papi. Aku tahu papi telah mengambil konsekuensi sangat besar atas keputusannya. Apalagi aku adalah cucu pertama dari keluarga besar papi yang menganut budaya matrilineal.

Papiku Hadir

Esoknya, aku tidak pergi ke kampus tetapi langsung ke gereja menemui pastor. “Pastor, saya mau dibaptis …,” teriakku kegirangan ketika sudah bertemu Pastor Moelder.

Aku disuruh kembali pada hari Sabtu untuk menjawab suatu pertanyaan. “Kalau kamu bisa menjawab, besoknya aku baptis,” kata Pastor Moelder. Aku langsung ke kampus. Malamnya, aku minta dibuatkan baju putih kepada mami.

“Mami, aku mau dibaptis, tolong buatkan aku baju putih seperti baju pengantin,” pintaku.

Sabtu pun tiba. Aku menemui Pastor Moelder. Aku disuruh masuk ke suatu ruangan kecil dan diminta untuk berlutut. Kelak di kemudian hari, aku tahu bahwa ruangan itu dikhususkan untuk menerima Sakramen Tobat.

“Menurut kamu, Yesus itu di mana?” tanya Pastor ketika aku sudah berlutut.

 “Di sini, Pastor, masak Pastor tidak lihat,” kataku spontan seraya menunjuk ke dada.

Sesampai di rumah, mami telah menyiapkan baju putih lengkap dengan slayer dan mahkota, persis baju pengantin.

Malam itu, aku berdoa agar papi hadir menyaksikan upacara pembaptisanku, meski sulit terlaksana karena keluarga besar papi menentang hal ini.

Aku keluar dari sakristi bak seorang pengantin bersama pastor dan putra altar. Hatiku senang melihat dekorasi yang ditangani langsung oleh Pastor Moelder. Kulihat mami duduk di sisi kanan dan seorang temannya, dialah wali baptisku. Ketika pandanganku menyisir ruang gereja, mataku tertumbuk pada sosok laki-laki berkacamata hitam, mengenakan baju safari. Ia duduk berjauhan dengan mami. Setelah kuamati, ternyata papiku.

Selesai upacara pembaptisan, Pastor menyuruhku datang ke papi. Saat itulah air mataku tak terbendung lagi, tumpah di pelukannya.

Tuhan Selamatkan Papiku

Selain konsekuensi adat, papiku paham benar dengan ajaran agamanya. Tentu ia mengetahui akibat dari pilihan anaknya yang telah berpindah keyakinan. Demikian pula denganku; konsekuensi itu membebaniku, terutama tentang keselamatan jiwa papi saat beliau wafat.

“Aku mau papiku juga Engkau selamatkan, ya Tuhan,” doaku setiap hari.

Hari itu kelahiran Jerry, anakku keempat. Aku memang sudah tinggal di Balikpapan sejak kelahiran anak ketiga, mengikuti suami yang bekerja di Pertamina. Ternyata, kondisi Jerry kurang bagus dan harus masuk inkubator. Bersamaan dengan itu pula, adik bungsuku telpon dari Jakarta, mengabarkan bahwa papi meninggal.

Aku segera menuju Jakarta bersama mami yang saat itu menemaniku melahirkan. Di Bandara Halim Perdanakusumah, adikku telah menjemput. Kami terdiam di dalam mobil yang membawa ke rumah papi di Ciputat. Tak henti-hentinya aku mendaraskan doa sejak dari Balikpapan, “Tuhan selamatkan papiku dan biarlah aku melihat kebesaran-Mu,” doaku di dalam hati.

Ternyata, rumah sudah kosong karena papi telah dibawa ke masjid. Entah mengapa, ada rasa enggan memasuki masjid. Tetapi, aku mau melihat wajah papiku yang terakhir kali. Keinginan yang mustahil karena dalam agama papi, jenazah harus dibungkus kain kafan dari atas ke bawah.

“Meidty, jangan naik…,” teriak tanteku saat kakiku sudah menginjak tangga pertama masjid.

“Papi sudah siap turun…”

Aku terdiam. “Tuhan, aku mau melihat wajah papi,” doaku di dalam hati.

Jenazah papi sudah diserahkan ke Negara dan dalam prosesi menuju pemakaman di Kalibata.

“Tuhan, aku mau melihat wajah papiku,” teriakku di dalam hati.

Tak disangka, prajurit itu menarik separuh badan peti keluar mobil.

“Dalam nama Yesus…,” kembali aku berteriak di dalam hati.

Bendera yang menutup pun ditarik oleh prajuit. Aku melihat papi terbungkus kain kafan.

“Dalam nama Yesus, aku mau melihat papi…,” teriakku.

Ikatan dibuka dan wajah papi terlihat. Aku tidak mempedulikan suara yang berteriak melarangku. Kucium wajah papiku untuk terakhir kali. Sore hari, aku kembali ke Balikpapan dengan hati tenang.

Beberapa waktu setelah kematian papi, aku baru tahu bahwa papiku meninggal bukan di dekat istri keduanya tetapi bersama pembantu tetangga yang sudah lama kami kenal.

Dari mulut ibu lewat paruh baya itu, aku tahu bahwa sesaat sebelum ajal menjemput, papi mengucapkan satu kalimat yang membuatku lega. “Yesus, ya Yesus, aku percaya pada-Mu,” ucap papiku.

Tuhan Yang Mahakuasa telah mengabulkan doaku, papi diselamatkan melalui imannya kepada Yesus yang ia ucapkan di akhir hidupnya.

Kuasa Tuhan Sungguh Dahsyat

Tahun 1995, anak sulungku, Demi, meninggalkan bangku kuliahnya di Jakarta dan melanjutkan kuliah sambil bekerja di AS.

Dari pekerjaannya ini, Demi memperoleh materi yang cukup baik, bahkan membuatnya meninggalkan bangku kuliah dan akhirnya bekerja secara full time. Ia memperoleh materi yang cukup lumayan, sehingga keinginannya untuk membeli motor besar dapat terwujud.

Peraturan di sana mewajibkan pemiliknya memiliki garasi. Hal ini membuat Demi harus pindah dari apartemen dan menyewa kamar kos. Di tempat inilah, Demi mengenal Phei Hu, pemilik kos. Hubungan keduanya lebih dari sekadar anak kos dengan induk semangnya. Mereka tinggal bersama sampai akhirnya Phei Hu hamil.

Aku masih ingat, tahun 2015, melalui video call, Demi memberitahukan kabar gembira itu. “Mama mau dapat cucu,” katanya di samping seorang perempuan yang duduk bersama ibunya.

Namun, kegembiraanku berubah menjadi tanda tanya, manakala Tasya, anakku yang tinggal di New Zealand, memberitahukan bahwa kandungan Phei Hu akan digugurkan.

Tentu saja Tasya yang aktif pelayanan bersama suaminya ini menolak keras. “Itu dosa besar,” katanya. Aku berdoa agar niat anakku tidak terlaksana. Saat menunggu di rumah sakit, Demi kembali melakukan video call ke Tasya. Tapi anehnya, saat itu pula terlihat Phe Hu keluar dari rumah sakit dengan perut masih membuncit.

Tahun 2016, dengan suara panik, Demi menyuruhku datang ke AS melalui telpon. “Cepat Ma, kalau tidak, Mama akan kehilangan cucu.” Naluriku mengatakan bahwa anakku sedang dalam masalah berat. Sebelum berangkat, aku minta dukungan doa dari komunitasku.

Ternyata, sekarang Demi tinggal bersama keluarga Tania dan Reza, adik suamiku. Mereka rela memberikan salah satu kamar anaknya untuk ditempati Demi dan Dom, cucuku. Bahkan rumah sederhana itu dibuat sedemikian rupa sehingga memiliki ruang yang cukup bagi Dom untuk bergerak dan bermain.

Hatiku tersentak saat mengetahui bahwa Demi sedang berhadapan dengan Phe Hu di pengadilan. Bagai disambar petir, mereka yang tadinya saling mencinta, kini bersengketa. Berbagai tuduhan dilayangkan oleh Phei Hu; mulai dari perkosaan, penganiayaan sampai kondisi Dom yang belum tumbuh normal pun dipermasalahkan. Padahal sebelumnya, Dom berada dalam asuhannya. Karena beberapa bukti di persidangan, Dom diserahkan kepada Demi ketika proses pengadilan masih berlangsung.

Tuntutan demi tuntutan terus dilayangkan. Hatiku menjerit saat menyaksikan semuanya itu ditampilkan di layar saat persidangan. Anakku menerima tuduhan yang amat keji; mulai dari memperkosa, menganiaya, dan sebagainya. Padahal Demi pergi hanya membawa baju yang melekat di badan. Semua hasil jerih-payahnya telah habis untuk memenuhi permintaan wanita itu.

Aku terus mohon pertolongan Bunda Maria, mendaraskan berbagai macam doa dan menggunakan karunia bahasa Roh yang aku terima, setiap sidang berlangsung. Saat itulah, aku menghayati bagaimana Bunda Maria saat mendampingi Yesus di jalan salib-Nya.

Sembilan bulan sudah persidangan itu berlangsung. Tidak hanya pikiran dan tenaga, tetapi juga harta terkuras. Gaji Demi otomatis dipotong untuk membiayai persidangan. Berbagai macam tuntutan Phei Hu diikuti oleh hakim dengan mendatangkan beberapa ahli, mulai dari psikolog sampai seorang social worker bagi Dom.

Seperti kita tahu, pengadilan di Amerika sangat membela kaum perempuan sehingga kecil kesempatan bagi pria dapat memenangkan perkara.

Aku terus berdoa setiap menghadiri ruang sidang dengan meminta pertolongan Bunda Maria. Akhirnya, Tuhan memenangkan anakku melalui keputusan majelis hakim. Setelah melalui beberapa interview dan pembuktian, semua tuduhan Phei Hu dapat dimentahkan oleh pengacara anakku.

Hakim memenangkan Demi dan memutuskan hak asuh Dom ada di tangannya. Selain itu, Dom juga tumbuh normal. Kondisinya yang hanya dapat duduk sampai umur satu tahun, akhirnya diketahui penyebabnya yakni kurangnya ruang gerak. Rumah Phei Hu yang telah dibagi-bagi menjadi kamar kos, membuat Dom tidak dapat bergerak sebagaimana mestinya.   

Adik iparku yang dengan tulus membantu kami selama ini, menyarankan agar Demi tetap tinggal dan bekerja di AS. “Mau kerja apa di Jakarta, papi mami sudah pensiun,” katanya.

Namun, Demi bersikeras kembali ke Jakarta. “Menjadi tukang sapu di Pasar Bojong pun aku rela, Mam,” katanya mantap.

Aku mendukung niat anakku. Namun, bagaimana dengan biaya pengacara dan paspor yang tidak ada di tangan? Sejak kasus bom WTC, semua pendatang wajib lapor. Paspor anakku ditahan karena terkait izin kerja. Belum lagi mengenai Dom. Pengadilan memang telah memenangkan hak asuh anak ke Demi, tetapi bagaimana dengan akta lahir dan paspornya?

Sejak di rumah sakit, Phei Hu telah mengatakan bahwa anak ini ditinggal bapaknya sejak sebelum lahir. Alhasil, nama Demi tidak tercantum. Namun, kuasa Tuhan sungguh dahsyat. Diurai-Nya satu per satu masalah anakku. Christina, pengacara Yahudi itu mengatakan, “Anggap saja kita tidak pernah bertemu.” Begitu katanya ketika anakku menyampaikan bahwa saat ini ia belum bisa melunasi jasanya.  

Di kedutaan, anakku bertemu dengan petugas yang sangat baik dan ramah. Beliau mengatakan bahwa selama ini kasus anakku tidak diketahui sehingga tidak mendapat bantuan dari kedutaan. Namun, dengan sigap petugas itu membongkar setumpuk file dan menemukan paspor Demi yang telah digunting ujungnya.

Anakku mengikuti prosedur sebagaimana mestinya. Akhirnya, pihak imigrasi menerbitkan paspor baru. Berdasarkan bukti-bukti putusan pengadilan yang kami berikan, akta kelahiran dan paspor Dom diterbitkan. Tak henti-hentinya aku mengucap syukur kepada Tuhan atas perlindungan-Nya sepanjang perjalanan kami ke Jakarta. 

Tuduhan dan Teror Menimpaku

Tiga bulan sudah Demi dan Dom tinggal di Jakarta. Aku juga kembali melakukan pelayanan seperti sediakala. Demi bekerja di perusahaan yang memberi gaji lebih dari cukup untuk membiayai hidupnya dan menyiapkan masa depan Dom. Puji Tuhan, kekhawatiran bahwa dia akan sulit mendapat pekerjaan tidak terbukti. Tuhan menunjukkan kebesaran-Nya.

Siang itu, aku masuk ke rumah dan mendapati Phei Hu ada di ruang tamu bersama dua laki-laki bersama aparat kepolisian dan pengurus RT. Rupanya Phe Hu berada di Jakarta dan berniat mengambil Dom. Sambil menunjukkan surat-surat, ia mengatakan bahwa anaknya telah diculik.

Kami segera menelpon Demi agar segera pulang. Sementara itu, Dom dibawa masuk ke kamar. Syukurlah, anak itu tenang dan tidak terpengaruh oleh kepanikan orang-orang di sekitarnya.

Di hadapan aparat, kami menunjukkan semua bukti putusan pengadilan Amerika dan menggugurkan tuduhan Phei Hu. Usut punya usut, melalui anak rohaniku, ternyata salah satu pria itu adalah reserse dan yang lainnya adalah pengacara.

Upaya Phei Hu untuk mengusik ketenangan kami terus berlanjut. Beberapa kali rumah kami didatangi orang-orang dari suku tertentu dengan maksud tertentu. Pernah sepulang dari pelayanan, aku mendapati suami dan Demi duduk-duduk di teras bersama laki-laki yang tidak kukenal.

Laki-laki itu berusaha keras untuk menyalamiku, namun hatiku menolak. Aku segera masuk ke rumah. Tetapi, Demi dan suamiku terus mendesak agar aku mau bersalaman dengan pria tersebut.

Saat aku tanya, siapa orang itu, mereka tidak bisa menjawab. “Dia orang baik, Ma, dia mau bunuh Mami,” kata Demi. Tentu saja aku bingung, mengapa suami dan anakku bisa menerima orang yang tidak dikenalnya sama sekali.

Belakangan, aku tahu bahwa mereka kena hipnotis dan penolakanku untuk bersalaman telah menghindarkan aku dari hipnotis yang membahayakan kami.

Suatu siang, kami kedatangan sopir ojek online dengan membawa amplop berisi pemberitahuan bahwa Phei Hu kecelakaan dan saat ini ada di rumah sakit. Agar lebih meyakinkan, ia menunjukkan dua foto seorang wanita yang tubuhnya dipenuhi peralatan medis. Ternyata, Phei Hu mengalami tabrak lari dan ia meminta agar Dom dibawa ke rumah sakit.

Kami tidak percaya begitu saja dan menyelidiki kebenaran berita tersebut. Ternyata benar, Phei Hu kritis dan akhirnya meninggal. Saat itu, terjadi perang batin antara membawa Dom ke rumah sakit atau tidak. Hati kecilku melarang tetapi Vicky, anakku yang aktif di koor KKN dan Legio Maria, berkali-kali mengatakan, “Mam, Yesus mengajarkan cinta kasih dan pengampunan…”

Aku terus bergumul sampai akhirnya aku putuskan tidak membawa Dom ke rumah sakit. Hal ini juga didukung oleh anak rohaniku yang bertugas di kepolisian. Ternyata, jika Dom dan kami datang ke rumah sakit, dapat berbuntut panjang. Aku kembali bersyukur, Tuhan telah menunjukkan jalan yang tepat dan benar.

Kematian Phei Hu menimbulkan masalah baru bagi kami. Aku dituduh sebagai penyebab kematiannya. Rumahku kembali didatangi orang-orang tidak dikenal. Puji Tuhan, Roh Kudus selalu menuntunku untuk tidak mau menerima mereka di rumah. Aku menyuruh mereka datang ke rumah ketua RT dan kami berbicara di hadapan aparat pemerintah.

Suatu siang, ada seorang bapak membawa koper yang katanya berisi baju dan mainan Dom. Aku menolak tetapi orang itu terus mendesak agar koper itu diterima. Kembali aku meminta agar ia datang ke rumah ketua RT dan kami bertemu di sana. Usut punya usut, ternyata koper itu bukan berisi barang-barang milik Dom tetapi penuh dengan aneka jimat.

Aku sudah mendapatkan banyak anugerah dan bimbingan Tuhan. Semoga aku tetap rendah hati dan tidak sombong. Dalam setiap pergumulan hidup, aku selalu belajar pada Bunda Maria yang bersedia dan menjawab “Ya” atas tugas yang diberikan Allah, meski belum tahu apa yang akan terjadi di kemudian hari.

Dukungan doa dari teman-teman komunitas menguatkan hidup dan pelayananku. Aku pun terus memelihara hubungan dengan Tuhan melalui doa dan puasa rutin. Jika dulu aku bisa berdoa lima kali sehari, sudah sepantasnya aku melakukan lebih dari itu setelah mengenal Yesus dan menerima banyak kebaikan-Nya.

Ruang doa adalah tempat di mana aku dapat bertemu secara pribadi dengan Yesus supaya aku mampu melakukan yang baik dan diizinkan Tuhan. Semoga setiap langkahku selalu berada dalam bimbingan Tuhan dan aku tetap rendah hati di hadapan Tuhan.

Meidty, ditulis kembali oleh Anas

 

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY