Paskah dalam Kebhinnekaan

0
134

DALAM ucapan Paskahnya, Uskup Agung Jakarta. Mgr. Ignatius Suharyo, menyampaikan, “Kita bersyukur karena wafat dan kebangkitan Kristus, kita dibebaskan dari perbudakan dosa, diangkat untuk hidup merdeka sebagai anak-anak Allah. Dan sebagai bangsa Indonesia kitapun diajak bersyukur karena karya agung Allah telah membawa kita menuju pada kemerdekaan yang sejati. Kita dipimpin, kita dipersiapkan, kita ditumbuhkan rasa kebangsaan kita, kita diberi bahasa yang sama, bahasa Indonesia, kita dituntun menuju kemerdekaan dengan dasar Pancasila. Itulah karya keselamatan Allah yang sangat nyata bagi bangsa Indonesia ini. Marilah kita rawat sejarah karya penyelamatan Allah itu di dalam hidup kita, dan semoga dengan iman akan karya agung Allah yang nyata di dalam bangsa ini, iman kita itu mendorong kita untuk membangun persaudaraan yang sejati. Dan semoga persaudaraan sejati yang kita terus pupuk dan rawat, bertumbuh, berkembang, mendorong kita untuk semakin berbela rasa dengan sesama kita. Kita Bhinneka Kita Indonesia.”
Melalui Paskah , kita dihantar menjadi anak-anak Allah yang hidup merdeka, yang mampu bersyukur, hingga mampu mengajak umat lainnya untuk membangun persaudaraan sejati, menjadi manusia yang mampu berbela rasa bagi kemajuan bangsa walau dalam situasi kehidupan berbangsa yang berbeda. Kita Bhinneka Kita Indonesia.

Valentine dan Rabu Abu

SEBENARNYA, 14 Februari adalah tanggal yang paling indah dan romantis karena dikenal sebagai Hari Valentine. Tradisi umat di seluruh dunia untuk saling mengekspresikan rasa kasih sayangnya kepada orang-orang yang dicintai.

Namun, khusus pada tahun 2018, tanggal istimewa yang bernuansakan merah jambu ini bertepatan dengan Rabu Abu. Hari bagi umat Katolik untuk memulai Masa Puasa dan mengingatkan kita semua bahwa kita ini hanyalah debu yang akan kembali menjadi debu.

Misa Rabu Abu diselenggarakan sebanyak enam kali di Gereja Sathora, mulai dari pukul 05.45 hingga pukul 19.00 WIB. Sedangkan di Notre Dame, Misa diadakan dua kali, yaitu pukul 18.00 dan 20.30.

Berdasarkan data dari panitia dan pengamatan MeRasul, Misa yang paling banyak dihadiri oleh umat adalah Misa terakhir di Bojong, yaitu 1.167 orang.

Sesuai dengan suasana Rabu Abu nan khidmat, tampak umat yang hendak menghadiri Misa, datang dengan mengenakan pakaian berwarna gelap, bukan warna pink.

Makna Valentine tahun ini jadi lebih mendalam dan religius, karena dirayakan di dalam gereja bersama orang-orang tercinta. Mereka saling menguatkan agar mempersiapkan hati untuk bertobat dan pulang ke rumah masing-masing dengan tanda salib abu di dahi.

 

Setiap Peran Memiliki Tujuan

BACAAN Injil pada Minggu Palma selalu menjadi bacaan yang paling kontradiktif dalam bacaan liturgi Gereja Katolik. Bagaimana sebelum perarakan palma mengisahkan Yesus yang disambut sebagai seorang raja di kota Yerusalem, kemudian berbalik menjadi Yesus yang disalibkan setelah perarakan palma.

Namun, RD Josep Susanto menyampaikan dua hal kunci untuk memasuki Pekan Suci: mendengar Firman Tuhan dan bersaksi tentang Firman itu. Firman yang mana? Firman dalam permenungan kisah sengsara Yesus.

Ada beberapa tokoh yang bisa menjadi role model karakter kita saat mempersiapkan diri menyambut Paskah tahun ini. Entah kita sebagai seorang prajurit, seorang imam kepala, seorang Yudas, seorang Petrus, seorang Pilatus, para rakyat, seorang Simon dari Kirene, bahkan hingga seorang Yusuf dari Arimatea.

Masing-masing tokoh ini memiliki karakternya sendiri-sendiri. Mulai dari yang plin plan hingga yang setia. RD Paulus Dwi Hardianto menambahkan bahwa setiap peran ini memiliki tujuannya masing-masing, sesuai kehendak Bapa.

Mungkin peran yang sedang dijalani saat ini bukanlah peran sebagai orang yang baik, melainkan sebagai orang jahat. Namun, Allah Bapa membutuhkan peran penjahat untuk menggenapi rencana keselamatan-Nya atas diri kita semua. Sebagaimana seorang pahlawan selalu membutuhkan peran penjahat untuk menunjukkan bahwa dirinya adalah pahlawan, demikianlah Yesus membutuhkan peran kita semua untuk menyatakan bahwa diri-Nya adalah Tuhan dan Guru bagi kita.

 

Tri Hari Suci

TIGA hari setelah Minggu Palma,  tibalah Tri Hari Suci. Tri Hari Suci adalah serangkaian upacara memperingati pengorbanan dan kemenangan Yesus Kristus yang sangat besar maknanya bagi umat Katolik.

Dalam pengamatan MeRasul, jumlah umat yang hadir pada misa pertama selalu yang paling banyak. Bisa dikatakan membludak memenuhi lapangan parkir, bahkan hingga  di GKP Lantai 4.  Sedangkan pada Misa yang paling malam, umat cukup tertampung di dalam gereja.

Satu hal lagi yang cukup menarik untuk diamati, yaitu  mulai banyak kaum hawa yang menghadiri Misa dengan mengenakan Mantila (kerudung).

Kamis Putih

“Apa yang menarik pada Kamis Putih?”   tanya Romo Steve pada permulaan homilinya.  RD Steve Winarto  dari KAJ mendapat gilliran tugas memimpin Misa Kamis Putih yang terakhir, pukul 21.30 WIB, di Gereja Santo Thomas Rasul.

Bagi Romo  Steve, Upacara Pembasuhan Kaki  adalah hal yang paling menarik. Mengapa…?

Karena Yesus menanggalkan jubah-Nya sebelum membasuh kaki para murid-Nya.  Jubah adalah lambang kebesaran atau kemegahan.  Berarti, Yesus telah melepaskan segala lambang kemegahan-Nya.  Kemudian Ia  merendahkan diri-Nya untuk berlutut, menundukkan kepala-Nya guna  membasuh kaki ke-12 pengikut-Nya.

Apabila kita ingin terjun melayani masyarakat, hendaknya kita bersedia melepaskan segala kemegahan ego yang ada di dalam diri kita. Bekerja dalam pelayanan harus memiliki kerendahan hati. Sifat keras kepala, mudah marah dan tersinggung, tidak mau mendengarkan masukan dari orang lain hendaknya ditinggalkan jauh-jauh.  “Nilai pelayanan menjadi  sirna bila kita tetap membawa keangkuhan hati.”   Begitulah intisari pesan yang disampaikan oleh Romo Steve.  

Setelah selesai menyampaikan makna Kamis Putih, Romo Steve pun mengikuti teladan Yesus. Ia melepaskan jubahnya dan bersiap-siap membasuh kaki 12 umat Sathora yang melambangkan murid-murid Yesus.

 

Ibu, Sumber Kekuatan

“SAYA melihat ibu saya….” Raymundus A. Setiawan menghentikan kata sambutannya dan berusaha menahan tangis di depan seluruh umat yang hadir usai pementasan drama Kisah Sengsara Yesus tahun ini. Segera, riuh rendah tepuk tangan terdengar di seluruh sudut gereja, sebagai bentuk apresiasi sekaligus dukungan untuknya.

Ya, drama Kisah Sengsara Yesus tahun ini mengangkat sudut pandang Maria dalam melihat dan mendampingi Yesus hingga wafat-Nya di kayu salib.

Maria menjadi sosok yang luar biasa dalam mendampingi Yesus hingga akhir. Ketaatan dan kesetiaannya membuahkan ketegaran yang luar biasa sebagai seorang ibu. “Lihat, Ibu. Aku akan membuat sebuah perubahan,” kata Yesus kepada Maria.

Kehadiran Maria di samping Yesus sanggup menjadi salah satu sumber kekuatan Yesus untuk menjalani semua kengerian itu. Ikatan inilah yang menjadi kunci utama tergenapinya rencana Allah akan hidup kita masing-masing. Bagaimana seorang ibu menjadi sumber kekuatan dan inspirasi bagi anak-anaknya untuk membuat sebuah perubahan positif dan lebih baik di sekitar mereka.

 

Jumat Agung

Kesengsaraan Yesus yang sangat mengerikan harus terus-menerus diingatkan agar kita selalu ingat untuk tidak memperberat penderitaan-Nya dengan perbuatan dosa.  Oleh karena itu, setiap tahun umat Katolik selalu menyiapkan drama Kisah Sengsara Yesus  di gereja masing-masing.

Drama Kisah Sengsara Yesus di Gereja Santo Thomas Rasul dimulai pada pukul 08.30, dimainkan oleh OMK.   

Misa pertama, pukul 13.30,   dipimpin oleh Romo Herman.  Menurut laporan pandangan mata dari rekan Ekatanaya, umat benar-benar memadati gereja.  Ada pula pengalaman Venda Tanoloe.  Akibat salah memilih tempat duduk, maka ia mengikuti Misa dalam keadaan terjemur.  Lumayan!

Misa Jumat Agung kedua, pukul 17.00,  dipimpin oleh Romo  Anto.   Lagu-lagu tanpa iringan alat musik dikumandangkan oleh Koor Bintang Timur.  Kebanyakan anggota koor ini  adalah guru-guru Sekolah Lamaholot.

Misa terakhir pada pukul 20.00 dipersembahkan oleh Romo  Steve Winarto.  Paduan suara oleh Lingkungan Petrus Kanisius  dari Wilayah Matius. Mereka mengenakan  seragam putih hitam dan berkalung ulos.

Intisari homili Jumat Agung, bahwa    kita sudah tidak perlu lagi menghabiskan waktu hanya untuk bertanya, Mengapa Dia Wafat? Yang lebih penting, kita bertanya, Bagaimana Dia Hidup Hingga Sekarang? 

Yesus telah mengorbankan diri-Nya demi keselamatan orang lain. Hendaknya kitapun bersedia mengorbankan kepentingan dan kehidupan nyaman kita untuk kebahagiaan orang-orang yang kita cintai di sekitar kita.   Kematian Yesus adalah  kebangkitan bagi  orang lain.

Misa selesai pada pukul 21.45 WIB.

 

Keniscayaan dalam Kehidupan

MISA I Malam Paskah 2018, Sabtu, 31 Maret 2018, yang dipimpin Romo F.X. Suherman mengingatkan kita pada tema “Kita Bhinneka Kita Indonesia”. Dalam ilustrasi homilinya, Romo bercerita tentang perumpamaan gembala yang memiliki domba putih dan hitam.

Ilustrasi ini pernah disampaikan Uskup pada kesempatan sebelumnya, yakni tentang bagaimana sang gembala menjawab pertanyaan mengenai domba miliknya; domba yang putih atau yang hitam. Walau pada akhirnya, jawaban yang disampaikan memiliki maksud dan arti yang sama untuk keduanya.

Beginilah cara berpikir manusia, selalu membeda-bedakan satu dengan yang lain yang sebenarnya sama saja. Tuhan memberikan perintah “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri”, dengan tanpa ada pembedaan. Pada saat seseorang yang menderita perlu bantuan, tidak perlu lagi bantuan akan diberikan kepada yang mana.  

“Sebagai orang beriman, kita percaya bahwa Allah adalah Sang Pemilik Kehidupan. Kita berasal dari Allah yang satu dalam hidup yang beragam. Fakta kehidupan yang tidak bisa diingkari, bahwa Allah tidak membedakan-bedakan. Meskipun berbeda fisik, kita mempunyai hati yang sama untuk dicintai, untuk dihargai. Orang yang berjiwa besar adalah yang menghargai yang kecil. Kebhinnekaan adalah keniscayaan, fakta dalam kehidupan kita. Kita tidak harus membeda-bedakan,” demikian cukilan homili Romo Herman.

Perlu toleransi dalam menerima kebhinnekaan, tidak perlu mencari persamaan dalam perbedaan. Semoga Inspirasi Paskah meneguhkan kita untuk membangun refleksi baru tentang arti hidup beriman yang sesungguhnya.

Misa  pada pukul  21.30   dipimpin oleh Romo Anto.

Untuk keperluan Upacara Cahaya, Panitia Paskah telah menyiapkan lilin yang ditampung dalam gelas.

Tujuannya pasti; supaya lelehan lilin tidak mengotori bangku tempat berlutut dan lantai gereja sebagaimana terjadi pada tahun-tahun sebelumnya. Ide yang cukup inovatif.

Namun sayang,  beberapa kali terdengar suara gelas terjatuh dan pecah.  Selain itu, setelah lilin dinyalakan,  suara  dentingan logam penampung lilin yang  dijatuhkan ke dalam gelas  menimbulkan suara gaduh. Semoga tahun depan akan ada cara yang  lebih baik lagi.

Romo Anto mengatakan, dalam keadaan yang kelihatannya sangat sulit untuk dijalani, cukup kuatkan saja kepercayaan kita  kepada Tuhan. “Pasti Tuhan akan buka jalan. Janganlah kita sampai tergoda untuk  mengambil jalan pintas.” 

 

Misa Paskah Anak 2018

PAGI hari, 1 April 2018, dengan disemangati oleh Kebangkitan Yesus, Gereja St. Thomas Rasul dibanjiri oleh kehadiran anak-anak dan keluarganya. Tujuan mereka adalah merayakan Paskah dalam Ekaristi yang dipimpin oleh Romo Anto.

Pada awal Misa, anak anak dari Asrama Tunagrahita,  Graha Murni Luhur, menyajikan sebuah tarian pembuka  yang indah dan menarik.

Pada saat homili,  semua anak-anak maju, duduk di lantai  depan altar  untuk mendengarkan khotbah.

Romo Anto mengubah gaya  khotbahnya, berbeda dari biasanya. Ia memberikan kuis dan atraksi sulap sehingga menambah kegembiraan anak anak.

Misa Anak kali ini berbeda dari Misa Anak sebelumnya. Pada saat Persembahan, anak anak pembawa Persembahan yang mengenakan baju daerah  juga mempersembahkan gambar kelima sila Pancasila.

Keseluruhan Misa Paskah 2018 ini bernuansa “Kita Bhinneka, Kita Indonesia”.

 

Paskah Bersama Lansia

SERANGKAIAN kegiatan dalam rangka Paskah 2018,  berakhir tepat pada Minggu Paskah, 1 April 2018. Masih ada satu  acara untuk para lansia. Komunitas Lansia Maria – Yusuf Sathora bersama Panitia Paskah menyelenggarakan Paskah Bersama Lansia. Sebelumnya, diselenggarakan Misa Paskah Lansia di gereja pada pukul 16.00.

Sambutan secara berurutan dilakukan oleh Ketua Lansia Sathora, Hendra Sidarta, disusul sambutan Ketua Panitia diwakili oleh Sudewo, dan sambutan pamungkas Romo Suherman. 

Tidak perlu berlama-lama, hiburan pertama yang sudah dipersiapkan adalah Line Dance oleh Komunitas Lansia Permata Buana.  Sepuluh ibu  lansia yang mengaku masih cantik, dengan energik menari.  Setelah tarian usai, dipandu Felly sebagai leader, dilanjutkan dengan goyang Gemufamire.

Suasana GKP Lantai 4 semakin panas karena banyak orang yang bergoyang bersama, menambah serunya tarian massa Gemufamire.

Acara Paskah Lansia ini dihadiri oleh bintang tamu, Maria Christy, seorang penyanyi pop rohani/presenter, mantan bintang cilik Mamma Mia, salah satu acara TV swasta untuk ajang pencarian bakat.

Dengan pengalamannya sebagai MC dalam acara-acara off air,  performance Maria Christy dengan vokalnya yang merdu tampak mempesona. Maria membawa suasana menjadi santai. Tiga lagu yang dibawakannya dan satu game balon bersama pasutri lansia, menghibur sebagian besar lansia yang hadir.

Permainan berakhir dan semuanya mendapat hadiah. Di akhir  acara, semakin banyak hadiah yang dibagi-bagikan dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan kuis spontan. Waktu 1,5 jam terasa singkat. Acara Paskah Bersama Lansia Sathora yang dihadiri sekitar 200 orang lansia itu pun berakhir.

 

Panggung Gembira Paskah 2018

Kegembiraan anak-anak belumlah cukup hanya dengan kemeriahan di dalam Misa. Maka, Panitia Paskah 2018 dari Wilayah Dominikus bekerja sama dengan Sie Bina Iman Anak mengambil inisiatif untuk mengadakan Panggung Gembira. Acara utamanya adalah Lomba Busana Adat bagi anak anak. Jumlah peserta lomba mencapai 42 anak dari umur 5 s/d 11 tahun.

Penampilan anak anak dalam berbagai ragam busana dari bermacam-macam daerah di Indonesia sangat indah dan menarik.  Patutlah kita sebagai bangsa Indonesia merasa bangga.  

Sebagai selingan dalam menanti perhitungan nilai oleh para juri , diisi dengan acara Flash Mob,  diiringi lagu “Kita Bhinneka, Kita Indonesia” ciptaan Romo Aldo yang pernah berkarya di  Gereja St. Thomas Rasul.  Anak anak, orang tua, dan  orang muda ikut bergoyang  mengikuti irama lagu, sesuai dengan contoh gerakan dari Pembina BIA.

Panggung gembira diakhiri dengan penentuan pemenang Lomba Busana  dengan hadiah sepeda bagi pemenang 1 , 2, dan 3. Proficiat kepada Panitia Paskah 2018 dan Sie BIA Sathora  yang telah menyelenggarakan acara Paskah 2018  sedemikian meriah, dengan semangat Kebangkitan Yesus dalam mewujudkan semboyan  “Kita Bhinneka, Kita Indonesia”.

Berto, Sinta, Ovlicht

SHARE
Previous articleJOB FAIR SATHORA
Next articleSatu Hati Aneka Wajah

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY