Rukun itu Indah

0
123

DALAM kata pembuka di bukunya yang baru ”Indahnya Pelangi di Langit Nusantara”, Romo Felix menuliskan bahwa pelangi adalah keindahan. Pelangi menampilkan diri di langit dengan perpaduan tujuh warna, yaitu merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu. Siapapun yang memandangnya akan mengagumi keagungan Sang Pencipta.

Kebhinnekaan di bumi Indonesia adalah fakta yang tidak dapat disangkal. Suku, agama, dan budaya dapat berpadu. Kesatuan dalam keberagaman bisa menjadi indah dan menghasilkan buah kekaguman karena nilai-nilai yang ada di dalamnya. Ada kasih sayang, kesejahteraan bersama, kebahagiaan, pengharapan, kedamaian, dan kesederhanaan. Nilai-nilai itu didambakan manusia. Indahnya kerukunan dapat terwujud dan dapat dibangun dengan cara silaturahmi.

Silaturahmi yang terus-menerus akan mempererat kasih sayang dan kesatuan. Kesatuan melahirkan kesejahteraan sebagai cita-cita bersama. Pentahapan dalam silaturahmi, antara lain dengan kehadiran, keteladanan, pelayanan, dan kepeloporan. Membiasakan hadir dan menjadi teladan, menjadi pribadi yang siap membantu sesama dan mampu secara terus-menerus menyampaikan gagasan. Hal tersebut merupakan aktualisasi cara-cara bersilaturahmi dalam mencapai kerukunan.

Dalam satu kesempatan, Romo Felix sebagai Romo Paroki Citra Raya Tangerang St. Odilia membawa misi Gereja Katolik yang bersahabat tentang kebersamaan dalam keberagaman dengan umat beragama lain. Dengan terlibat dan membaur, sebagai seorang pimpinan paroki, Romo Felix diterima oleh kalangan umat Muslim di dalam sebuah acara Istighosah dan Zikir Akbar dalam rangka Isra Mi’rad dan ulang tahun GP Ansor di Tangerang. Penyelenggara acara, GP Ansor Tigaraksa, menanggapi kunjungan Romo ini sebagai kunjungan yang memiliki nilai toleransi dalam kebhinnekaan.  

Tindakan tanggap akan situasi yang mampu membangun kebersamaan dalam keberagaman ini, ternyata ditanggapi balik dengan positif oleh komunitas Muslim ini, organisasi yang sama yang pernah dikunjungi oleh Romo Felix sebelumnya. Muncul respons positif dalam waktu yang sangat singkat, hanya beberapa hari berselang. Mereka melakukan kunjungan balasan ke pastoran Paroki Citra Raya, di mana Romo Felix tinggal.

Kunjungan yang terjadi secara alami tanpa direncanakan ini, timbul dari hati yang penuh kasih.  “Romo sudah sering berkunjung ke tempat kami, sekarang kami mengunjungi Romo,” ungkap mereka.

Romo Felix menanggapi,”Saya bersyukur, sebagai pastor Katolik, saya sudah dianggap orang tua oleh para anggota Ansor dan Banser ini.”

Tiada seremonial resmi, perjumpaan hanya dilakukan dengan sekadar minum kopi bersama, namun berbuah banyak dalam kehidupan yang rukun dan damai.

Kegiatan saling berkunjung adalah bentuk tindakan nyata dari pepatah, “Rukun agawe santosa, crah agawe bubrah”,  yang artinya rukun membuat sentosa atau kuat/kokoh, tetapi bertengkar membuat bubar/rusak atau menghancurkan. 

Hal tersebut merupakan dambaan hidup yang membuat ayem tentrem. Hidup yang ayem tentrem adalah rukun, damai sejahtera, aman, dan bahagia. Konflik tidak berguna, bahkan merusak. Ketika kita rukun, semua masalah dapat dibicarakan sambil duduk bersama. Semua masalah dapat diselesaikan dengan kepala dingin dan dengan cara bermusyawarah.

Pengalaman Romo Felix, tentang “keintiman”-nya dengan para pemuka agama, pimpinan pondok pesantren, pemuka masyarakat, jajaran kepolisian, dan pejabat pemerintahan dalam merajut keberagaman dalam kebhinnekaan tersebut terus dilakukannya.

Bagi kita, apa yang sudah dimulai ini akan lebih indah jika terus berlanjut. Bahkan akan semakin indah jika semakin banyak yang terlibat; baik dari kalangan Gereja Katolik lainnya baik umat, rohaniwan/rohaniwati, dan para romo lainnya, juga romo-romo yang ada di KAJ bahkan di seluruh keuskupan di Indonesia. Selalu mengupayakan kerukunan sebagai suatu keindahan. Kita Bhinneka, Kita Indonesia.

Salam Persatuan, begitu Romo Felix menulis di setiap akhir tulisannya.

Berto 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY