Paskah Mengalir dan Merangkul dalam Kebhinnekaan

0
56

PARA Pembaca MeRasul yang budiman, ketika redaktur meminta kepada saya untuk menuliskan tema Kebhinnekaan, pertama, judul di atas yang muncul, menggeliat di benak saya. Pada hari yang penuh rahmat ini saya mengucapkan “Selamat Paskah 2018” , semoga rahmat kebangkitan Kristus memampukan kita untuk merajut Kebhinnekaan dan memperteguh Jati Diri Bangsa Indonesia.

Ya, Kristus telah rela menanggung penderitaan dan wafat di atas kayu salib. Tidak hanya untuk bangsa Yahudi saja, melainkan untuk seluruh bangsa tanpa kecuali.

Allah kita sungguh amat kreatif. Dari pada-Nya muara dan tujuan seluruh umat manusia yang beraneka ragam yang pernah hidup di bumi ini. Semua manusia diciptakan dalam kebebasan dan dicintai-Nya tanpa syarat. Hal ini hendaknya membangun kesadaran kita untuk mencintai semua manusia tanpa kecuali sebagaimana Allah mencintai mereka.

Memang tidak gampang, apalagi kalau kita sudah punya rasa antipati, tidak suka pada orang tertentu. Tapi, saya yakin rahmat Tuhan akan memampukan kita untuk mencintai, mengampuni, memaafkan jika kita memintanya dengan penuh kesadaran dan ketekunan.

Kita yang hidup di Indonesia sudah terbiasa hidup dalam kebhinnekaan baik dalam hal suku, agama, budaya, dll. Perbedaan bukannya membatasi kita namun semakin memperkaya warna kehidupan kita. Kebhinnekaan adalah kekayaan bagi bangsa Indonesia. Hal ini patut kita rajut, jaga, dan lestarikan. Karena ada pihak-pihak tertentu yang ingin merusak NKRI dengan mengadu domba dalam kebhinnekaan kita.

Bayangkan, ada 274 suku. Betapa banyaknya bahasa dan budaya yang dilahirkan di setiap desa, kecamatan, kabupaten di Indonesia. Kadang satu desa saja orang tidak bisa memahami bahasanya karena begitu berbeda. Indonesia merupakan percontohan kehidupan bangsa yang berbhinneka, yang menjadi perhatian dunia. Bagaimana kalau kebhinnekaan tidak kita jaga dan lestarikan? Apa jadinya?

Contohnya, negara lain yang terdiri tujuh suku saja hancur lebur karena tidak bisa bersatu. Bahkan negara tetangga kita yang warna kulit, bahasa, dan sukunya sama saja tidak bisa hidup bersatu karena diadu domba oleh negara Adi Kuasa.

Presiden kita, Joko Widodo, sadar bahwa Indonesia merupakan negara yang berbhinneka. Bila mental dan pengetahuan masyarakat kita tidak disadarkan maka akan mudah diadu domba. Hal ini membahayakan keutuhan NKRI. Maka, beliau mengumpulkan 450 pemuka agama untuk berdiskusi, sharing, dan membuat kesepakatan bersama dalam Musyawarah Besar Pemuka Agama Untuk Kerukunan Bangsa (MUBES-UKB) yang diadakan di Hotel Sahid pada 8-10 Februari 2018. Tema besar yang diusung adalah “Rukun dan Bersatu Kita Maju“.

Kesepakatan yang telah dihasilkan oleh para pemuka agama diserahkan kepada Bapak Presiden di Istana Bogor dalam acara silaturahmi dan ramah tamah.

Pada 11 Februari dilanjutkan dengan “World Interfaith Harmony Week” yang merupakan Puncak Agenda PBB. Acara diselenggarakan di Plenary Hall Jakarta Convention Centre, dimeriahkan oleh para artis lintas agama antara lain Judika, Citra Scholastika, Fildan D’ Academy, Ivan Nestorman, Balawan, Matthew Sayaersz, Rafly Kande, dan Dwiky Dharmawan.

Acara ini merupakan ide Raja Yordania, yang sudah diselenggarakan oleh pelbagai negara sejak sembilan tahun lampau. Duta Besar Yordania untuk Indonesia, Bapak Ali Sihab, dan para pembesar negeri ini hadir dalam acara tersebut.

Mari kita rajut bersama kebhinnekaan, kita tumbuhkan dan perteguh jati diri bangsa dengan penuh semangat sukacita Injili. Kita bersyukur mempunyai pemimpin yang arif, sederhana, dan rendah hati.

Saya ingin mengutip kata-kata inspiratif Presiden Joko Widodo yang bisa menjadi pendorong dan semangat untuk menciptakan kebhinnekaan dan memperteguh NKRI.

“Saat orang berkata buruk tentang kita, padahal kita tidak pernah mengusik kehidupan mereka, itu tandanya kehidupan kita lebih indah.”

“Kehidupan adalah kerja dan cinta,.. Itu harus kita jalani dengan sederhana saja.”

“Bangsa Indonesia tidak ingin menjadi macan,.. melainkan menaklukkan macan. Karena bangsa Indonesia tidak ingin ditakuti, melainkan harus jadi bangsa yang disegani.”

“Dalam memimpin,.. saya jadikan rakyat sebagai konsumen. Konsumen itu raja!”

“Saat seseorang tidak menemukan celah untuk mencari kesalahan kita, cara yang digunakan adalah fitnah.”

“Jika ingin lebih maju maka rakyat juga harus bekerja sama…. Bukan hanya mengulurkan tangan kepada pemimpin ini… itu.”

“Dibutuhkan kepemimpinan yang mampu memecah keheningan,.. menerobos dengan gebrakan. Bukan yang monoton dan rutin sehingga membosankan.”

“Memang baik menjadi orang penting, tapi lebih penting menjadi orang baik, dan yang terpenting lagi,.. jadilah orang penting yang baik.”

“Melihat dengan mata kita. Mendengar dengan telinga kita. Berbicara dengan suara kita.”

“Pemimpin rakyat lahir dari rakyat.”

“Pemimpin adalah ketegasan tanpa ragu.”

“Pemimpin harus bisa melihat hal kecil yang perlu diperbaiki.”

“Kalau perkampungan membaik maka secara otomatis perkotaan akan membaik juga.”

“Masa kecil saya adalah pembelajaran pertama tentang bagaimana memahami kehidupan sebagai rakyat kecil.”

“Kehormatan hidup itu ada ketika namamu melekat di hati orang-orang di sekitarmu dan kerjamu bermanfaat bagi mereka dan rakyat banyak.”

“Jangan takut mendobrak kebiasaan lama dengan cara dan pemikiran yang keluar dari pakem.”

“Perubahan tidak akan pernah ada tanpa kemauan dan keberanian yang harus diiringi dengan kebersamaan.”

“Bukan kesulitan yang membuat kita takut, tapi sering kali ketakutan kitalah yang membuat jadi sulit… Jadi, janganlah mudah menyerah.”

“Ibadah yang berkualitas itu tampak dari perilaku. Rendah hati dan tidak emosional.”

“Kalau kita ingin maju, ya harus berubah. Kalau mau berubah tapi diam saja, ya namanya mengkhayal…!”

Semoga dengan contoh Bapak Presiden, kita semakin dimampukan dan dikuatkan untuk menjalin Kebhinekaan untuk Persatuan NKRI.

Oleh Sr. Maria Monika SND (Provinsial SND)

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY