Dari Syantikara, Kasih Bersemi

0
151

“Asam di gunung, garam di lautan, bertemu dalam belanga.”     

 

PERIBAHASA ini bagai melukiskan kisah  pasangan Yohanes Rudy Anwar dengan Maria Enie S. kira-kira 41 tahun lalu.

Rudy lahir pada tahun 1956  di Padang, Sumatra Barat.  Ia lahir di tengah keluarga Katolik, sebagai anak bungsu dari lima bersaudara. Rudy menjalani masa kanak-kanak dan remaja,  dari SD, SMP, hingga SMA di Padang.  Ia  aktif menjadi anggota misdinar di gereja Paroki Padang dan mengikuti kegiatan-kegiatan rohani lainnya.

Setelah lulus SMA, Rudy menyusul kakaknya ke Yogyakarta. Ia belajar  Sastra Inggris Program D3 di Universitas Sanata Dharma.

Dua bulan kurang tiga hari sesudah Rudy lahir,   tepatnya  di kota Tulungagung – Jawa Timur,  lahirlah seorang bayi perempuan.  Bayi nan cantik ini diberi nama Enie S.

Berbeda dengan keluarga Rudy, Enie lahir di tengah keluarga penganut Kong Hu Cu.  Setelah memasuki usia sekolah, orang tua Enie mempercayakan pendidikan anaknya di SD dan SMP Santa Maria Tulungagung.  Kemudian Eni  melanjutkan di SMA St. Yusup, Malang.  Hingga akhirnya, Enie berangkat ke Yogyakarta guna mengejar ilmu di Fakultas Teknik Sipil Universitas Atma Jaya di Kota Gudeg itu.

Asrama Syantikara  dipilih Tuhan sebagai  “belanga”   tempat bertemunya  kedua anak manusia  yang lahir pada tahun yang sama, namun di pulau yang berbeda.

Syantikara  adalah  asrama putri  di mana kakak Rudy tinggal di situ guna menuntut ilmu.  Letaknya di Jalan Kolombo 19, Yogyakarta.  

 Enie yang  tinggal satu asrama dengan kakak Rudy berpembawaan kalem dan pendiam.  Justru sifat ini yang  membuat Rudy jatuh hati pada Enie. Rudy pun  meminta kakaknya untuk menjembatani  dirinya dengan Enie. Sejak itu, terjalinlah masa pendekatan  yang penuh kenangan indah.

“Cinta kami diuji dengan berat di ongkos.  Namanya juga mahasiswa,”  cerita Rudy sambil tergelak.  “Waktu itu, Enie  masih di Yogyakarta.  Sesudah selesai  D3 Sastra Inggris di Sanata Dharma, saya harus melanjutkan studi ke Universitas Indonesia, di Jakarta, mengambil jurusan ekonomi. “

Selama   berpisah beberapa tahun itulah, mereka berhubungan jarak jauh dengan menuliskan diary  berbentuk surat. Setelah terkumpul  surat  harian  itu dari Senin sampai Jumat,  mereka mengirimkannya melalui Surat Kilat Khusus. “Jadi, acara malam minggu kami adalah saling membaca surat yang isinya cerita pengalaman harian,”  lanjut Enie.  “Kami hanya bisa bertemu dua kali dalam setahun,” kenangnya.

Enie berasal dari keluarga beragama Kong Hu Cu. Namun, karena sejak kecil bersekolah di sekolah Katolik, Enie terbiasa dan hafal sekali doa-doa Katolik.  Pada tahun 1980, ada seorang suster di asrama yang memperhatikan Enie. Ia bertanya, “Kamu begitu menguasai berdoa secara Katolik, tetapi kenapa kamu tidak terima Komuni?”

Enie menjelaskan keadaan dirinya. Suster itu  berkata kepada Enie, “Cobalah minta izin  kepada ibumu, bolehkah kamu dibaptis menjadi pengikut Kristus?”      

Ternyata, sang ibunda tidak keberatan sama sekali.  Enie langsung menerima pembaptisan secara pribadi. Kemudian, setelah dibaptis,  ia mempelajari agama Katolik lebih mendalam.

Kurun waktu tujuh tahun masa penjajakan terasa cukup bagi Rudy dan Enie.  Dengan  mantap, mereka menetapkan hati untuk menikah pada  17 Maret 1984.

Tuhan menganugerahkan dua anak bagi pasangan ini, yaitu Christine yang sekarang telah menikah, dan Christofer kini bekerja sebagai dosen di Monash University, Melbourne , Australia.

 

Pernah Menolak Amanah

Pasutri Rudy dan Enie adalah pasangan yang saling menjaga kesetiaan.  Mereka mengisi kehidupan rumah tangga dengan mengikuti berbagai  komunitas rohani yang diselenggarakan di Paroki Bojong.

Tahun 2001, Rudy pernah diminta untuk menjadi ketua lingkungan. Karena merasa belum mampu sama sekali untuk mengemban amanah tersebut, ia menolak.

“Bagaimana ya! Saya memang Katolik sejak lahir. Tetapi ya cuma sekadar Katolik begitu saja. Membaca Kitab Suci saja baru mulai pada usia  48 tahun. Mana bisa saya menjadi ketua lingkungan yang baik?”  katanya.

Namun belakangan, ia merasa bersalah.

“Kami sudah dilimpahi  berkat yang bagus sekali oleh Tuhan, mengapa saya menolak-Nya untuk melayani umat-Nya?”  sesalnya.  

Syukurlah!  Ternyata, Tuhan memberinya  kesempatan yang lain. Tahun 2003, Rudy bersedia menjadi Prodiakon, bahkan ia  mengabdi  selama tujuh tahun.

Tahun 2005, Rudy  diajak ikut aktif di PDKK Sathora.  Ia sungguh  menikmati suasana di komunitas ini. Setahun kemudian, Enie pun ikut bergabung pula.

 

Percaya Penuh

Sebagai manusia biasa, Rudy  pernah dilanda rasa takut pada saat-saat tertentu. Ia pernah mendapat pengalaman yang menakutkan, yaitu cuaca yang sangat  buruk ketika ia sedang berada di dalam pesawat terbang. Ketakutan itu begitu membekas sehingga membuatnya tidak berani naik pesawat terbang untuk kurun waktu yang cukup lama.

Pada suatu hari,  ia dan istri menghadiri Seminar Hidup Dalam Roh (SHDR). Ternyata, SHDR berhasil menumbuhkan rasa pasrah yang total. Hatinya berubah menjadi percaya penuh kepada Tuhan.

Keberaniannya pulih, hilanglah  trauma naik pesawat. Kini, tak ada lagi keraguan untuk menghadapi apa saja yang harus dilakukannya.

Kemantapan hatinya terhadap Tuhan dibuktikan pada waktu Enie jatuh sakit pada tahun 2000. Hari itu, ada acara kumpul-kumpul di rumah mereka. Tiba-tiba, kondisi Enie drop seketika. Ia jatuh pingsan. Bukan main paniknya semua orang yang hadir di situ. Banyak yang menyuruhnya untuk segera memanggil ambulans.

Tetapi, Rudy tak menggubris. Ia diam dan  berdoa dengan segenap kesungguhan hati memohon agar Tuhan menyembuhkan istrinya.

Benarlah… Tuhan berkenan atas permintaannya. Tiga jam Rudy berdoa, istri tercinta siuman. Sembuh seperti sediakala!

 

Selagi Masih Kuat

Walaupun kedua anaknya sudah mandiri,  Rudy masih aktif bekerja. Sedangkan sehari-hari  Enie  memberikan les privat matematika untuk anak-anak SD dan SMP. Di samping itu, Enie rajin mengikuti komunitas tim Persekutuan Doa Sekar Kasih, Mother’s Prayer, dan Pendalaman Alkitab khusus untuk lansia.

Masih ada banyak lagi kegiatan rohani yang mereka ikuti. Baik Rudy maupun Enie mempunyai harapan yang sama,  yaitu selama badan masih sehat, mereka meminta kepada Tuhan agar diberi kesempatan untuk melayani-Nya.  Mereka bersungguh hati menyerahkan diri agar Tuhan sudi  memakainya sebagai alat-Nya.

Dari Asrama Syantikara, mereka menanam bibit cinta kasih.  Mereka pupuk dan rawat bersama dengan penuh kesetiaan,   hingga bersemilah kasih Kristus di hati Rudy dan Enie.       

Sinta

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY