Empat Puluh Tahun Bertahan, Patuh, dan Setia

0
157

DIBESARKAN oleh ayah dan ibu yang keras dan disiplin, membentuk karakter Bambang. Ayahnya adalah seorang guru dan ibunya aktivis gereja. Setamat SD, Bambang sudah menginjak kakinya di seminari Mertoyudan. Ia melihat kondisi seminari dan membandingkannya dengan kehidupannya pada saat itu. Ia gamang.

Saat SMP, Bambang diajak pamannya ke Katedral Jakarta. Di depan patung Pieta, ia menyalakan tiga lilin dan berdoa sebagaimana diajarkan ibunya dengan mengucapkan 3 x Bapa kami, 3 x Salam Maria, 3 x kemuliaan dan mengucapkan tiga permohonan. Salah satu permohonannya, menjadi imam.

Bambang melewati masa pendidikannya sampai SMA. Ia sempat kuliah, pernah juga menjadi sopir keluarga. Pada tahun 1970, pamannya yang menjadi imam projo Keuskupan Agung Semarang meninggal dalam suatu kecelakaan. Saat itu, tekadnya bulat ingin menjadi imam.

Karena sempat tertunda dan tidak diterima di seminari, Bambang putus asa. Ia mengambil tawaran beasiswa di Unika Atma Jaya yang menjadi batu loncatan untuk menapak ke jenjang berikutnya.

Tahun 1972, saat sudah menjadi frater, Fr. Bambang kuliah di STF Driyarkara dan tinggal di Kolese Kanisius. Hingga melanjutkan kuliah di Seminari Kentungan Yogyakarta, Frater Bambang lebih menyukai dan menekuni KS, memperdalam filsafat dan teologi.

Keyakinannya bahwa “aku bukan orang terbaik, tetapi aku dipilih” membuatnya tetap bertahan. Awalnya, kehidupan di seminari dijalaninya terpaksa, namun gemblengan hidup di tempat ini membuatnya menghargai dan meyakini bahwa hidupnya akan menjadi lebih baik dan berarti.

Tahun Orientasi Pastoralnya berlangsung di PA Lenteng Agung, dilanjutkan di Penjara Wirogunan Yogyakarta. Ia melihat sendiri bagaimana napi eks ABRI diperlakukan, bahkan oleh teman-teman sekorps. Kondisi ini membuat mereka terpanggil menjadi pengikut Kristus, karena pelajaran hidup dan situasi yang dialami pada waktu itu.

Dari pengalaman inilah, Frater Bambang merasa dibentuk, menjadi semakin dewasa dan hingga menjadikannya sebagai pastor yang berdedikasi dan bertanggungjawab dalam pelayanan menjaga kebun anggur Tuhan.

Pengalaman menarik lainnnya, saat ia mengajar di SMP Stella Duce, Yogyakarta, selama empat tahun. Semua muridnya wanita. Hal ini membuat imannya semakin diperteguh. Saat itu, Romo Sunaryo SJ kepadanya, ”Bambang jangan takut dan cemas digoda putri-putri cantik. Yang paling berbahaya adalah harta kekayaan, kamu harus hati-hati.”

Pada 25 Januari 1978, akhirnya tahbisan sebagai romo pun berlangsung. Mulai hari itu, nama yang disandangnya adalah Romo Bambang Wiryowardoyo Pr.
Penempatan tugas Romo Wiryo yang pertama setelah tahbisan di Paroki Slipi Gereja Kristus Salvator pada tahun 1978-1979. Selanjutnya berturut-turut Romo Wiryo bertugas:
1979 – 1986 : pastor rekan paroki Katedral
1980 – 1984 : pengajar di STKAT
1982 – 1983 : pastor di Civita Youth Camp
1982 – 1986 : Ketua Komisi panggilan KAJ
1986 – 1994 : Kepala Paroki Bojong Indah Gereja St. Thomas Rasul
1994 – 1999 : Kepala Paroki Cijantung Gereja St. Aloysius Gonzaga
1999 – 2004 : Kepala Paroki Pulogebang Gereja St. Gabriel
2004 – 2007 : pastor rekan Paroki Pasar Minggu Gereja Keluarga Kudus
2007 – 2010 : pastor rekan Paroki Jl. Malang Gereja St. Ignatius
2010 – 2011 : pastor rekan Paroki Citra Raya Gereja St. Odilia
2011 – 2015 : pastor rekan Paroki Kosambi Gereja St. Matias Rasul
2015 – sekarang : pastor rekan Paroki Alam Sutera Gereja St. Laurentius

Peringatan 25 tahun imamatnya berlangsung meriah. Riwayat ¼ abad perjalanan imamnya ditulisnya sendiri, dengan judul “1/4 Abad Imamatku”. Saat itu, Romo Bambang Wiryo bertugas menjadi Kepala Paroki Pulogebang, Jakarta Timur.

Saat bertugas di paroki Bojong Indah Gereja St. Thomas Rasul, Romo Wiryo bekerja keras membangun, mulai dari bangunan bedeng hingga gedung gereja yang berdiri sampai saat ini.

Berselang 24 tahun sejak ditinggalkan Romo Wiryo, bangunan Gereja St. Thomas Rasul telah direnovasi, yakni bangunan gereja induk dan gedung serbaguna. Nama Gedung Serbaguna, berganti menjadi Gedung Karya Pastoral (GKP). Gedung berlantai empat ini diresmikan oleh Bapa Uskup Mgr. Ignatius Suharyo pada tanggal 11/11/2011.

Dalam kurun waktu 40 tahun, banyak godaan dan gejolak hidup yang dialaminya. Dalam menjalankan imamatnya, Romo Wiryo memegang prinsip falsafah Jawa yang penuh makna, sebagaimana ditulis di dalam buku “Panca Windu Tahbisan Imamat 40 Tahun RD. L.B.S Wiryowardoyo”.

Prinsip Titis, yakni tahu persis arah dan tujuan, tepat sasaran yang dituju di depan, mengetahui tugas pokok yang diberikan dan dilaksanakan dengan penuh tanggungjawab.

Tatas, yakni disiplin, tegas dan tertib dalam menjalankan tugas pelayanan, tidak ragu-ragu, ada kontinuitas dan konsisten dalam bersikap.

Tatag, yakni teguh, berani, mantap, mandiri dalam menimba kekuatan dari kegiatan doa, rutin setiap hari dengan teratur dan membina kebersamaan dalam persekutuan kasih.

Teteg, yakni setia, konsekuen, Ya tetap Ya dan tetap sadar penuh tanggung jawab menghadapi tantangan zaman dengan segala perubahannya, tidak kaku, jujur dan terbuka untuk mengakui kesalahan dan menerima pandangan hidup dan cara berpikir baru, tidak menjadi fanatik.

Tutug, yakni sampai selesai, sampai akhir, bertanggung jawab tanpa menyalahkan orang lain dalam berkarya hingga tuntas.

Memasuki paruh kedua masa imamatnya , 25 – 40 tahun imamat, ia mulai bertugas di Paroki Pulogebang. Di paroki ini, Romo Wiryo mengalami pergumulan dalam menjalankan tugas karena tanggung jawabnya sebagai pastor kepala. Sempat muncul niat mengundurkan diri sebagai pastor kepala. Karena pergumulan yang dihadapinya ini, membuatnya sempat berpikir untuk melepaskan imamatnya. Namun, niat ini diurungkannya. Romo Wiryo masih mengingat janji imamatnya dan tetap setia menjalankan tugasnya sebagai pastor rekan hingga September 2004.

Perjalanan berpindah dari satu paroki ke paroki lain, hingga paroki di mana saat ini Romo Wiryo bertugas, yaitu Paroki Alam Sutera. Ia sudah menggenapi perjalanan imamatnya, hingga ia sendiri yang membaginya menjadi dua paruh waktu.

Selama 25 tahun awal imamat sebagai paruh pertamanya, Romo Wiryo menyebutnya sebagai “tahun-tahun penuh rahmat dan semangat”. Sedang paruh kedua dari 25 hingga 40 tahun, adalah perjalanan yang agak berat, penurunan jabatan, gossip yang tidak enak didengar, sikap kurang dihargai oleh sesama rekan imam, hingga membuat perjalanan imamat di paruh keduanya penuh dengan gejolak emosi : marah, sedih, kecewa. Pada saat seperti ini, Romo Wiryo berusaha mengosongkan diri di tempat yang paling rendah di hadapan Allah. Ia selalu bertahan, patuh dan taat.

Dalam banyak peristiwa yang melelahkan, Romo Wiryo mengambil waktu untuk hening dan melakukan retret pribadi, menimba kembali kekuatan. Ia menanggapi dan menjawab panggilan Tuhan melalui imamat yang dijalaninya, agar ia tetap menjadi hamba yang setia. “Saya hanya berusaha bertahan, patuh dan setia”, tegasnya.

Judul yang tertulis dalam buku panduan 40 tahun imamat, “Romo Wiryo, di mata rekan imam” adalah bentuk ungkapan kecintaan para imam kepada Romo Wiryo, yang ditulis sebagai bentuk ketulusan dan penghargaan akan imamat dan pelayanan selama 40 tahun tak henti-hentinya berkarya bagi perkembangan Gereja, khususnya KAJ.

Salah satunya, pengakuan Romo Y. Hadi Suryono Pr tentang Romo Wiryo. Romo Hadi pernah bersama-sama berkarya dengan Romo Wiryo di Paroki Bojong Indah selama lima tahun dan di Paroki Alam Sutera. Menurutnya, membicarakan Romo Wiryo, mengingatkan pada kata-kata lucu; tekek, batu akik, burung, cukiok, jalan-jalan, fot selfie, ziarah, makan-makan, kadang marah-marah dan “guoblok”.

Kata inilah yang melekat di benak umat dan rekan-rekan romo, yang mengikuti perjalanan imamat Romo Wiryo, di manapun bertugas. Namun, sisi lain yang perlu highlight bahwa Romo Wiryo adalah Imam Diosesan yang ikut membangun dasar kehidupan menggereja dan Imam Diosesan pada awal tahun 1980-an, bersama Romo Wiyanto (alm) sahabat dekatnya di Keuskupan Agung Jakarta.

Ia menjadi imam yang taat, sekalipun kadang tidak sepaham atau sejalan dalam pemikirannya. Semangat ketaatan inilah yang mengantarkan Romo Wiryo bergembira menjadi imam.

Jawaban dari sebuah pertanyaan, apa yang membuat Romo Wiryo berjalan hingga 40 tahun imamat; bukan karena hebatnya dia, bukan karena kekayaan pengalaman hidupnya dalam tugas perutusan, melainkan karena ada Yesus di dalam hidupnya.
Berto, sumber tulisan diambil dari buku panduan “Panca Windu Tahbisan Imamat 40 Tahun RD. LBS Wiryowardoyo”.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY