AI di Depan Mata

0
81

PARA pengguna iPhone mungkin sudah terbiasa menggunakan fitur Siri yang bisa mendengarkan perintah, menunjukkan jalan, mencari arti kata, dan banyak lagi lainnya yang membuat kita serasa memiliki asisten pribadi.

Di balik kecanggihan itu, ada teknologi yang sangat advanced yang meniru panca indera, mengirimkannya ke “otak palsu”, dan kemudian merespons secara menakjubkan.

Bila ucapan kita tidak jelas, maka ia mengatakan: “I do not get what you are saying.” Bila kita mengulang permintaan tertentu beberapa kali, ia akan menegur dengan mengatakan bahwa ia sudah menjawab sebelumnya. Inilah mesin otak, yang sering kita kenal sebagai artificial Intelligence (AI).

Siri dikembangkan ketika Apple mengakuisisi perusahaan artificial intelligence bernama Vocal IQ, yang mengkhususkan perhatian pada penangkapan dan analisa suara. Ada pemakai ponsel yang dengan cepat dapat terampil menggunakan fitur ini, ada juga yang masa bodoh dan tidak melihat manfaatnya.

Bagaimanapun sikap kita, mesin ini akan terus dipercanggih sehingga bisa semakin memudahkan penggunanya. Perusahaan telekomunikasi terbesar di Indonesia pun, di samping menggantikan para frontliner di helpdesk dengan mesin, juga sedang mengembangkan aplikasi pengenal wajah yang nantinya akan dipergunakan sebagai akses keamanan identitas para pengguna jasanya.

Tidak lama lagi, kita akan dengan mudah berdiskusi dengan komputer untuk mencari solusi, bahkan mungkin diperintah komputer yang lebih pandai daripada otak manusia.

Artificial intelligence sudah ada di dalam benak setiap orang. Semakin lama, semakin nyata apa yang akan terjadi dengan berkembangnya pembuatan otak palsu ini. Tetapi, sebagian besar dari kita masih tetap menyikapinya sebagai sebuah science fiction semata.

Dalam waktu dekat, automasi akan mengambil alih banyak sekali peran manusia dalam masyarakat. Inilah yang dikhawatirkan banyak sekali pihak. Bahkan diperkirakan, 35 persen dari kebutuhan tenaga kerja akan berkurang dalam kurun waktu lima tahun ini.

Beberapa pekerjaan memang pasti akan terhapus. Penjaga jalan tol yang digantikan oleh mesin harus mulai bersiap untuk memberikan kontribusinya dalam bidang lain. Namun, beberapa pekerjaan baru juga akan terbentuk.

Sebelum maraknya media sosial, siapa yang mengira ada pekerjaan seperti food dan beauty blogger, social media specialist, apps developer, dan lainnya. Revolusi automasi ini pasti terjadi. Pertanyaannya, seberapa siapkah kita menghadapinya?

 

Mengarungi Logical Tech Evolution

Memusuhi dan menganggap bahwa otak palsu adalah ancaman, sebenarnya merupakan tindakan sia-sia. Bukankah semua kemutakhiran teknologi dibuat untuk memudahkan dan menguntungkan manusia? Kitalah yang menentukan apakah kemajuan ini bisa membawa hasil positif untuk umat manusia.

Semakin kita menganggap otak palsu ini sebagai benda asing, semakin kita membentuk mekanisme pertahanan diri yang tidak ada gunanya. Automasi jelas akan mengambil alih beberapa tugas manusia. Tetapi, dampaknya adalah manusia akan mempunyai lebih banyak waktu untuk mengerjakan hal-hal lain dan terutama menciptakan hal-hal baru.

Justru inilah saatnya kita menciptakan lapangan kerja dan produk baru yang sebelumnya tidak terpikir oleh kita. Ingat pengalaman pertama kita dengan internet? Kita bisa merasakan betapa internet memudahkan hidup kita semua. Hal ini pula yang akan terjadi pada AI, semesta akan bergerak menyesuaikan pertemanan kita dengan AI.

Ini adalah saatnya untuk berhenti dari sekadar mengagumi kecanggihan teknologi dan segera terjun menerobos, menunggangi teknologi tersebut dengan cara mengubah mindset dan cara kerja kita.

AI harus menjadi pelengkap atau perpanjangan tangan dari kerja kita. AI bukan menggantikan otak kita.  

 

Pintar Saja Tidak Cukup

Kenyataan ungkapan data sangat penting dalam kehidupan, memang benar. Tetapi, kita tidak pernah lupa bahwa humanitas tidak akan terkalahkan oleh mesin apa pun.

Jack Ma, pemimpin Alibaba, yang begitu maju dalam mengembangkan teknologi dan bisnis, malahan mengatakan bahwa yang dibutuhkan manusia pada masa depan justru LQ, love quotient. Hanya dengan kemampuan menunjukkan perasaan dan melibatkan perasaan dalam hubungan dengan orang lain, kita bisa memperoleh rasa percaya yang mendalam.

Kita masih harus mengembangkan wisdom, penguasaan mood dalam hubungan kita dengan manusia lain. Seberapapun pintarnya sebuah mesin, ia tidak memiliki kebijaksanaan untuk menyelesaikan masalah-masalah terbesar manusia, seperti kemiskinan dan epidemi penyakit. Mesin hanyalah alat tunggangan manusia untuk melakukan proses dengan lebih cepat. Namun, mesin tidak memiliki motivasi yang dapat menciptakan kemajuan.

Manusialah dengan hati, jiwa, dan belief-nya akan tetap memiliki kreativitas dan kemampuan untuk mengontrol teknologi agar berguna dan mempermudah hidupnya.

Eileen Rachman & Emilia Jakob

*Artikel ini dimuat atas izin penulis. Artikel yang sama pernah dimuat dalam KOMPAS, 28 Oktober 2017.

SHARE
Previous articleTips Berolahraga
Next articleSeputar Hypnoslimming

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY