Pelangi Keren, Ciptaan Tuhan

0
28

 

SEBUAH ambulan merapat ke rumah Ibu Fatmah.

Opa Ben-lah yang menelpon ambulan tersebut.  Opa Ben juga memberitahukan kepada suami Ibu Fatmah di kantornya bahwa ibu yang berasal dari Aceh itu masih pingsan, sedangkan putri sulungnya histeris.

 

Ketua lingkungan serta beberapa anggota WKRI ikut menolong. Keluarga Asiong walaupun baru datang dari vihara bergegas memberikan pertolongan pertama.

 

Seorang pemuda tegap menghampiri Opa dan Philo. “Opa Ben, saya dan seorang teman kos akan ikut mengurus di rumah sakit,” kata mahasiswa dari Manado tersebut.

 

 “Bagus, Hans! Terima kasih banyak,” balas Opa Ben.

 

Para ibu dari pengajian keluar membawa perlengkapan untuk mereka bawa ke rumah sakit dengan mobil milik tetangga, Pak Nyoman dan Pak Sadoso Mulyo.  

 Setelah ambulan menjauh, Opa Ben tersenyum lega.  “Ah, indahnya kebersamaan dalam keberagaman. Coba kalau mereka tak mau bertoleransi, entah bagaimana nasib Ibu Fatmah.”

 

Ketua lingkungan, Pak Situmorang, menimpali. “Benar,  Oom. Keberagaman itu suatu keniscayaan. Sejak semula Allah sudah menciptakan beragam makhluk di alam semesta ini untuk menyemarakkan bumi. Manusia juga diciptakan dalam dua jenis yang berlainan. Ini menunjukkan bahwa mereka harus hidup dalam kebersamaan dengan yang berbeda.” 

 

Opa Ben melanjutkan, “Aneh ya,  kalau ada orang yang tidak senang keberagaman atau kebhinnekaan. Malah mereka memusuhi orang yang bukan dari golongannya.  Nah Philo, kamu dengarkan baik- baik supaya kamu tidak salah didikan.”  

 

Pak Situmorang bertanya,”Philo, di dalam keluargamu, apa saja hobi papa, mama, adik, dan kamu sendiri?” 

 

Philo menjawab sambil berpikir, “Papa senang mengutak- atik mesin mobil. Mama senang memasak, Polly suka menari, dan aku sendiri…hihihi…!  Aku hobi makan.”

 

“Hahaha…!  Tuhan menciptakan setiap orang dengan keunikannya masing-masing.Tidak boleh kita memaksa orang lain supaya seperti kita. Tidak boleh menghakimi atau membeda-bedakan.Coba kalau papamu disuruh memasak, padahal dia tidak bisa. Kita seharusnya mengisi kelebihan kita pada kekurangan orang lain, demikian juga sebaliknya. Saling membutuhkan dan melengkapi seperti Marta dan Maria. Maka, perbedaan itu indah, hidup menjadi penuh warna.”

 

Kayak pelangi, ya Oom?” sela Philo.  

“Tepat Philo, Tuhan menciptakan baris-baris warna  yang berbeda tapi justru membuatnya indah.  Coba bayangkan kalau warna pelangi Cuma merah atau kuning semua, bagaimana perasaanmu, Philo?” Tanya Pak Situmorang. 

“Wah, pusing Oom, lama-lama bosan dan bisa sakit mata,” jawab Philo polos.

 

Sambung Opa Ben, “Lalu, umpamanya di dunia ini hanya ada satu jenis makanan saja, misalnya nasi tim doang, nggak ada nasi Padang , soto Kudus atau lainnya. Biarpun Opa gandrung sama nasi tim, tapi kalau seumur hidup harus makan itu melulu, wah, lama-lama muak nggak bisa makan, lalu stress berat.” 

 

“Semua manusia diciptakan oleh Allah yang sama secitra dengan-Nya atau disebut Imago Dei,” tutur si ketua lingkungan.  “Jadi, Allah adalah Bapa kita bersama dan kita ini bersaudara, karena tampilan Allah melekat dalam diri kita masing-masing. Ada tanda keilahian dalam diri tiap orang. Menghancurkan orang lain berarti menghancurkan gambaran Allah dari orang tersebut. Cakrawala si perusak menyempit dan terbatas, kenyataan sebenarnya jadi memudar karena kehilangan sudut pandang positif.”

 

“Kristus menyebut kita sebagai sahabat-Nya, ” sahut Opa lagi.  “Kasih-Nya yang tulus ikhlas, heroic dan sejati melalui sengsara, wafat, dan kebangkitan-Nya, dibagikan kepada kebhinnekaan bangsa di seluruh dunia tanpa memandang siapa dan dalam kondisi apa, termasuk kepada domba-domba yang bukan dari kandang-Nya sendiri.

 

Demikian pula dengan Roh Kudus yang diutus-Nya. Nah Philo, ingat ya, kamu harus menjalin persaudaraan dari kebhinnekaan, tidak dalam keseragaman tapi dalam keharmonisan….  Waah sudah siang nih, Pak Situmorang. Ayo kita makan siang di gudeg Bu Miyem. ” 

 

Cepat Philo protes, “Opa, Philo kurang suka yang manis, lebih suka makan ramen pedas.”

 

Pak Situmorang terbahak.”Hahaha… ini namanya kebhinnekaan selera dalam keluarga. Ayo gelar musyawarah demi kerukunan keluarga!”

 Akhirnya, diputuskan untuk makan siang di Pujasera.

 Opa Ben dan cucunya serta pak ketua lingkungan duduk satu meja menikmati makanan pilihannya masing- masing.

 

Ekatanaya

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY