Berdamai dengan Diri Sendiri

0
41

KETIKA lulus dari Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia (STPI), Curug, Tangerang, tahun 1978, Sergius Manalu langsung diberi tugas sebagai teknisi peralatan telekomunikasi dan navigasi penerbangan di Bandara Sultan Mahmud Badarudin II, Talang Betutu, Palembang. Selama di Palembang, ia berdomisili di Talang Betutu dan menjadi umat Stasi St. Stefanus, Paroki St Yosef.

Putra ketiga dari sembilan bersaudara ini lahir di Humbang Hasundutan, Sumatra Utara, 66 tahun lalu. “Kakek saya dapat mengobati orang sakit dan menjadi guru ilmu pengobatan sehingga digelari Guru Mangajar. Bakat ini diturunkan kepada ayah saya, sehingga ayah dapat menyembuhkan patah tulang,” ujar cucu seorang ‘dukun’ yang sangat dihormati oleh penduduk di kampungnya.

Leluhur Sergius menganut paham animisme.

“Ketika menikah secara adat dengan ibu saya, seorang Kristiani dari Gereja HKBP, ayah saya meninggalkan paham animisme. Saya tidak ingat prosesnya bagaimana, namun akhirnya ayah dan ibu saya dibaptis secara Katolik.  Mereka menjadi salah satu perintis Gereja Katolik di kampung,”  ungkap Sergius saat dijumpai di kediamannya di Bambu Apus, Bojong Indah, Sabtu pagi, 15 September 2018.

Kesembilan anak mereka dibaptis Katolik ketika bayi. “Didikan Katolik yang kuat membuat saya tertarik melayani paduan suara. Sejak lulus SMP, saya sudah belajar menjadi pelatih padus. Bahkan salah seorang kakak (Alm.) kami menjadi biarawati,” lanjut Sergius mengenang kehidupan di kampung halamannya.

Drg. Melani Aarjati Sugiarto, 66 tahun, adalah sosok istri yang tangguh dengan latar belakang militer (Letkol. Purn). Sebagai dokter gigi, hingga kini Melani masih membuka praktik di rumah setelah pensiun dari TNI Angkatan Udara. Ia juga aktif sebagai tenaga medis di Balai Pengobatan Paroki Bojong Indah.

Sejak kecil, putri ketiga dari tujuh bersaudara ini dididik secara Katolik di kota kelahirannya Semarang.  Melani mengenyam pendidikan di SD Regina Pacis, SMP Maria Goreti, dan SMA Kebon Dalam. Kemudian ia hijrah ke Jakarta untuk melanjutkan pendidikan tinggi.

Setelah lulus dari FKG Universitas Trisakti pada tahun 1978, ia bergabung dengan Wanita Angkatan Udara (WARA). Kemudian ia ditempatkan di Talang Betutu, Palembang. Selama di Palembang, Melani menjadi umat Stasi St. Stefanus, Paroki St. Yosef; sama dengan Sergius.

 

Pertama Bersemi

Pada tahun 1979, berlangsung Festival Paduan Suara Gereja Kristen se-Palembang.  Seorang teman mengajak keduanya untuk membantu padus dari GKI yang kebetulan letak gerejanya berdekatan. Setelah festival berakhir, mereka lanjut berlatih untuk lomba Padus Gereja Katolik se-Palembang. Sergius menjadi  pelatihnya. Karena rajin mengikuti latihan koor, keduanya bertambah akrab.  Di sinilah cinta pertama kali bersemi.

Namun, peraturan Mabes TNI tidak memperkenankan anggotanya menikah sebelum mereka menjalankan masa ikatan dinas selama dua tahun setelah lulus Pelatihan Militer. Masa pacaran mereka selama dua tahun diakhiri dengan pernikahan pada April 1981. Tidak menunggu lama, pada Agustus 1982, lahirlah putri pertama mereka, Veronika Manalu. Kini, ia sudah menikah dan mempunyai tiga anak. Berjarak dua tahun, lahir putri kedua, Roswita Manalu pada Maret 1985. Ia juga sudah menikah.

Jakarta, Kami Datang

Januari 1986, Sergius dipindahtugaskan ke Jakarta, dalam rangka operasional Bandara Soetta. Melani dan kedua putrinya menyusul pada Juni tahun yang sama. Melani ditugaskan di Lembaga Kesehatan Gigi dan Mulut (Lakesgilut) TNI AU Halim Perdana Kusuma.  

Putri ketiga mereka, Rufina Florens, lahir pada Oktober 1987. Saat ini, ia sudah menikah dan dikaruniai dua anak. Pertama kali tiba di Jakarta, keluarga Manalu tinggal di Kompleks Angkasa Pura, Tangerang, di Paroki Tangerang Gereja St. Maria.

Januari 1988, keluarga Manalu pindah ke Bojong, rumah yang ditempati hingga hari ini. Waktu itu, Paroki Bojong masih menggunakan bedeng. Romo L.B.S. Wiryo Wardoyo Pr menjadi Pastor Kepala. 

Semangat melayani di padus tetap ia wujudkan. Ia bergabung dengan Koor Gregorius Agung,  yang sudah ada sejak di Lamaholot dan dipimpin oleh Martono. Tempat latihannya di rumah keluarga Eddy Wangsa Kencana/Lies (tante Melani). Kemudian kelompok koor itu berubah nama menjadi Exultet (Bersoraklah), dengan tempat latihan di rumah keluarga Johan Gunawan. Anak-anak keluarga Manalu aktif di padus sebagai vokalis dan organis.

Sergius pensiun dari Angkasa Pura II pada tahun 2010. Pada tahun 2012, berkat kebaikan seorang anggota padus, Ir. Bambang Dwi Setiono, Sergius bergabung dengan salah satu perusahaan konsultan konstruksi. Ia ditempatkan di Proyek Pengembangan Bandara Sepinggan Balik Papan hingga 2014. Selanjutnya, ia  ditempatkan di Proyek Stasiun Kereta Api Soekarno-Hatta sampai akhir 2017.

Baru tiga bulan terakhir, Sergius total pensiun.  Ia berencana aktif lagi di padus yang sempat vakum karena kesibukannya mencari nafkah.  Sebagai penggiat padus, Sergius berpesan, “Bila anak-anak Sekolah Minggu menyanyi di altar, kiranya pembina Sekolah Minggu dapat menyerahkan lagu yang akan dibawakan kepada organis untuk diiringi, sehingga tercipta suasana yang semarak. Pembina dapat berkoordinasi dengan organis sebelum Misa.”

 

Hidup Perkawinan

Pasutri ini sudah menjalani perkawinan selama 37 tahun. Banyak yang sudah mereka lalui. “Kami sangat menyadari kasih Tuhan dan betapa Tuhan sangat baik.  Boleh dibilang kami tidak mempunyai simpanan, tetapi bila ada kebutuhan besar, selalu ada saja. Tuhan mencukupkan,” kata Sergius.

Salah satu contoh, tiga anak mereka berturut-turut melangsungkan pernikahan, pada tahun 2012, 2013, dan 2015. Sudah pasti pernikahan itu membutuhkan biaya besar. “Berkat kebaikan Tuhan, semua dicukupkan. Anak-anak urus sendiri semuanya, kami hanya memberi support.” 

Saat ini, Sergius dan Melani sudah punya lima cucu; dua putri dan tiga putra.  “Cucu paling besar SMP kelas 2 sedang yang paling kecil baru lahir satu minggu yang lalu,” kata kakek yang pernah menjabat sebagai ketua RW selama dua periode itu.

Perjalanan perkawinan mereka sangat menarik. Intinya, mereka selalu beradaptasi satu sama lain.  Sebagai pribadi dengan latar belakang, sifat, dan hobi yang berbeda dibutuhkan kata ‘saling’ dalam hidup bersama. Bila ada hal-hal yang tidak sesuai dengan harapan, ungkap Sergius, yang harus dilakukan pertama kali adalah berdamai dengan diri sendiri. Dengan demikian, akan lebih mudah berdamai dengan sekeliling.

“Jika sudah melakukan itu, maka kejadian segetir apa pun dapat kita terima dari sudut pandang berbeda. Jangan mengharapkan orang lain berubah, kalau kita belum mengubah diri sendiri. Ampunilah kesalahan kami seperti kamipun mengampuni yang bersalah kepada kami,” pesan Sergius agar tercipta perkawinan yang selalu hangat. 

Lily Pratikno

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY