Kerangka Acuan Gerakan Tahun Syukur KAJ 2015

PENGANTAR

Tahun 2015 adalah tahun terakhir periode implementasi Arah Dasar Pastoral (ArDasPas) KAJ 2011-2015. Setelah sosialisasi ArDasPas KAJ pada tahun 2011, di tahun-tahun berikutnya umat KAJ telah diajak untuk memusatkan gerakan berpastoral pada ketiga pilar utama cita-cita Gereja KAJ, yakni “… semakin memperdalam IMANnya akan Yesus Kristus, membangun PERSAUDARAAN sejati dan terlibat dalam PELAYANAN kasih di tengah masyarakat.” Tema-tema pastoral di KAJ tiap tahun adalah:

Tahun 2011    : Tahun Sosialisasi ArDasPas KAJ
Tahun 2012    : Tahun Iman (sekaligus Tahun Ekaristi)
Tahun 2013    : Tahun Persaudaraan
Tahun 2014    : Tahun Pelayanan
Tahun 2015       : Tahun Syukur

Pada tahun 2015 sebagai tahun terakhir periode implementasi ArDasPas, Gereja KAJ hendak BERSYUKUR melalui EVALUASI-REFLEKSI ArDasPas KAJ 2011-2015, PENGEMBANGAN KERASULAN AWAM dan HIDUP BAKTI , dan KADERISASI RASUL AWAM.

2015 SEBAGAI TAHUN SYUKUR

Bersyukur adalah sikap dasar penting bagi umat beriman. Dalam sejarah keselamatan kita menimba pengalaman bahwa kurangnya rasa syukur kepada Allah sebagai Penyelenggara Ilahi telah menyebabkan bangsa pilihan menyeleweng dengan berpihak dan membawa persembahan mereka kepada illah-illah lain (bdk. Ul 10:12-22). Yesus bergembira dalam Roh Kudus dan berkata “Aku bersyukur kepadaMu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, …” (Luk 10:21). Kepada para murid-Nya Yesus mengajarkan doa Bapa Kami yang diawali dengan bersyukur, memuji dan memuliakan Allah. Mengucap syukur juga adalah sikap dasar dari Jemaat Perdana yang membuat mereka menjadi Gereja yang disukai oleh banyak orang (Kis. 2:41-47). Rasul Paulus kepada jemaat di Filipi berkata “Aku mengucap syukur kepada Allahku setiap kali aku mengingat kamu.” (Fil 1:3)
Mgr. Vrancken, Vikaris Apostolik kedua dari Batavia tahun 1856 mengundang para suster Ursulin untukmembuka karya misi pendidikan. Selanjutnya datang pula Bruder-bruder Aloysius (1862) yang menjalankan misi pendidikan bagi para pemuda, dan para suster Fransiskanes dari Heythuysen yang melayani rumah yatim piatu, rumah sakit, dan sekolah (1870 di Semarang; 1879 di Larantuka). Sejak saat itu semakin banyak tarekat hidup bakti yang berkarya di Jakarta. Perjuangan mereka membangun umat Allah telah terwujud sampai saat ini, didukung oleh PARTISIPASI KAUM AWAM, yakni umat pada umumnya, dalam semangat KOLEGIALITAS dengan para imam, biarawan, dan biarawati. Namun tentunya disadari pula bahwa besarnya partisipasi kaum awam dalam rupa-rupa pelayanan Gereja KAJ perlu dipelihara dan ditingkatkan dengan pelbagai upaya, salah satunya melalui KADERISASI AWAM di segala bidang, yang memungkinkan Gereja untuk terus-menerus melaksanakan panggilannya membangun Kerajaan Allah melalui penginjilan, pengudusan, dan pembaruan tata dunia (Apostolicam Actuositatem 6-7).
Perjalanan Gereja KAJ selanjutnya akan ditentukan oleh gerakan-gerakan umat saat ini, apakah masih akan melanjutkan pola keberhasilan yang sudah dicapai oleh para pendahulu atau menemukan bentuk-bentuk kerasulan baru yang lebih menjawab tantangan jaman.

SASARAN PRIORITAS PROGRAM KARYA 2015

Gerakan Tahun Syukur 2015 di KAJ akan mencakup:

A.    Gerakan Evaluasi dan Refleksi.
Pada tahun 2015, umat KAJ diharapkan melakukan evaluasi dan refleksi sejauh mana 5 prioritas cara (pastoral berbasis data, pemberdayaan umat basis Lingkungan dan komunitas kategorial, pastoral kontekstual, kerasulan awam, dan kaderisasi pelayan pastoral) mampu mencapai sasaran kemudian mensyukurinya; seraya terus mengupayakan hal tersebut (beriman, bersaudara, berbela-rasa) sebagai cara hidup setiap orang beriman. Evaluasi dan refleksi ArDasPas KAJ untuk kurun waktu 2011-2014 dapat dilakukan dengan cara memberi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tentang:

1.    Gereja KAJ yang dicita-citakan:
a.    Peristiwa, pengalaman, siapa yang membuat aku semakin kuat dalam beriman?
b.    Bagaimana suasana persaudaraan dalam Gerejaku (paroki, lingkungan, komunitas)? Hal-hal apa yang merekatkan persaudaraan atau menyebabkan perpecahan?
c.    Apa saja yang sudah dilakukan secara nyata oleh Gerejaku terkait pelayanan kepada masyarakat?
2.    Pelayanan pastoral berbasis data:
a.    Sejauh mana Paroki/Komunitas memiliki data umat/anggota? Berapa persen umat/lingkungan/wilayah sudah melengkapinya? Kendala apa saja yang dihadapi?
b.    Apakah program-program Paroki/Komunitas direncanakan berdasarkan data umat? Sebutkanlah contoh konkretnya.
3.    Pemberdayaan Lingkungan dan komunitas:
a.    Apa saja program kerja konkret yang terkait dengan pemberdayaan Lingkungan/komunitas? Program apa yang sudah dilaksanakan? Program apa yang paling berhasil? Mengapa program tersebut berhasil?
b.    Apakah kegiatan selama berlangsungnya ArDasPas mampu mendorong Lingkungan/komunitas untuk terlibat lebih aktif dalam kegiatan menggereja?
c.    Apakah program kerja tersebut dirasakan manfaatnya oleh masyarakat sekitar?
4.    Karya-karya pastoral kontekstual:
a.    Sebutkan program kerja unggulan di Paroki/Komunitas Anda yang sesuai dengan kebutuhan umat dan masyarakat sekitar. Apakah program itu berhasil? (Indikator keberhasilan: keterlibatan umat dan besarnya manfaat.)
b.    Apakah program kerja unggulan tersebut berlangsung secara berkelanjutan?
5.    Pengembangan kerasulan awam (dalam Gereja maupun masyarakat) :
Apakah ada program yang berhubungan dengan kerasulan awam? Apa bentuk programnya? Apa dampak dari program tsb.?
6.    Kaderisasi pelayan pastoral :
Apakah ada program kaderisasi pelayan pastoral? Apa bentuk programnya? Apa dampak programnya?

B.    Menyelenggarakan program berkelanjutan untuk mengembangkan pelayanan/kerasulan awam dalam bidang politik, ekonomi, pendidikan, dan kesehatan (sesuai rekomendasi Temu Pastoral KAJ tahun 2014), misalnya:
1.    pembekalan untuk umat yang terlibat dalam kegiatan masyarakat sekitar tempat tinggal (pengurus RT/RW, pengurus Posyandu, dll.)
2.    pembekalan bagi umat berprofesi tertentu (paramedis, guru, dsb.) dalam meningkatkan kualitas pelayanannya.
3.    pembekalan kepada umat agar mereka mampu terlibat dalam kegiatan-kegiatan melestarikan lingkungan hidup bersama warga masyarakat sekitar.

C.    Menyatakan kaderisasi awam sebagai kebijakan paroki, terwadahi dalam struktur kegiatan Paroki, terutama bagi Orang Muda Katolik (OMK) dan pemimpin komunitas tingkat basis (pengurus Lingkungan) misalnya:
1.    Memilih orang yang tepat untuk menjadi pendamping orang muda (pengurus Seksi Kepemudaan yang berjiwa muda).
2.    Menyelenggarakan kaderisasi kaum muda agar mampu melibatkan diri dalam bidang-bidang sosial kemasyarakatan, baik pada tingkat Paroki, Dekenat maupun Keuskupan.
3.    Mendorong agar setiap kegiatan bersama menyertakan OMK sebagai upaya menghidupkan gerakan OMK.
4.    Menyelenggarakan kegiatan pelatihan dan kaderisasi pengurus Lingkungan untuk menjamin kualitas pelayanan Pastoral pada tingkat basis.

LANGKAH-LANGKAH IMPLEMENTASI TAHUN SYUKUR 2015

Untuk mencapai Sasaran-sasaran Prioritas tersebut, perlu dilakukan langkah-langkah berikut:
1.    Dewan Karya Pastoral (DKP) menerbitkan, menyosialisasikan, dan memonitor Kerangka Acuan “Gerakan Tahun Syukur 2015” kepada paroki-paroki dan komunitas-komunitas.
2.    DKP merencanakan puncak perayaan Tahun Syukur 2015 tingkat Keuskupan.
3.    Paroki dan Komunitas merencanakan program kerja tahun 2015 dengan menggunakan Kerangka Acuan “Gerakan Tahun Syukur 2015”.
4.    Paroki dan Komunitas menyerahkan program kerja tahun 2015 kepada DKP paling lambat 31 Desember 2014.
5.    Paroki dan komunitas menyerahkan hasil evaluasi dan refleksi atas perjalanan ArDasPas 2011-2015 kepada DKP paling lambat 31 Mei 2015. Bila diperlukan, Dewan Paroki Harian dapat membentuk Tim Penggerak Tahun Syukur 2015.