Pastor yang Pernah Berkarya di Paroki Sathora

Alm. Pastor Gilbert Keirsbilck, CICM.

Lahir : Oostkamp, Belgia, 10 Mei 1941

Tahbisan : Kessel-lo, Belgia, 8 September 1961

Tepatnya pada 24 Agustus 1968, Romo Gilbert tiba di Indonesia. Mengapa Indonesia? Itulah salah satu konsekuensi dari Kaul Ketaatan, pimpinan tarekat mengutus Romo Gilbert ke Indonesia. Romo Gilbert berangkat tanpa mengetahui apa tugasnya, semua serba baru saat itu: iklim, bahasa, makanan dan adat istiadat.

Saat itu Romo Gilbert tidak mengalami apa yang disebut culture shock. Semua berjalan dengan mulus karena Romo yakin bahwa driver-nya adalah Yesus yang memegang kemudi dan mendorong untuk maju tanpa ragu-ragu.

Selama di Indonesia Romo Gilbert pernah ditugaskan di Makasar dan Jakarta. Tidak terasa sekarang sudah lebih dari empat puluh tahun Romo Gilbert menjalankan karya misionarisnya, dan sejak tahun 2007 Romo Gilbert bertugas menjadi Pastor Kepala di Paroki Santo Thomas Rasul.

Pada tanggal 16 Juli 2015 Romo Gilbert meninggal dunia dalam usia 74 tahun.

Tugas di Indonesia :

10 Oktober – 31 Desember 1968 :
Menjalani kursus Bahasa Indonesia di Makale, Tana Toraja

Januari 1969 – Juni 1973 :
Menjadi Staff Pengajar di Seminari Menengah St. Petrus Claver Makassar

Maret 1974 – Juli 1982 :
Menjadi Pastor Paroki di Katedral Makassar

Desember 1982 – Agustus 1986 :
Menjadi Rektor Seminari Menengah St. Petrus Claver Makassar

Oktober 1986 – April 1987 :
Menjalani Studi “Spirituality as Transformation” di Poona, India

1987 – 1995 : Menjadi Magister Novis di Novisiat CICM Sang Tunas, Makassar

1995 – 2000 : Kepala Paroki St.Bernadet Ciledug, Tangerang

2001 – 2006 : Menjadi Provinsial CICM Indonesia

2007 – 2015 : Kepala Paroki St. Thomas Rasul Bojong Indah, Jakarta Barat

16 Juli 2015 : Romo Gilbert meninggal pada usia 74 tahun.

 

Romo Bernardus Yosef Riki Maulana Baruwarsa, Pr.

Lahir : Jakarta, 8 Januari 1982

Tahbisan : Jakarta, 22 Agustus 2012

Karya di Paroki Sathora : 2012 – 2014

Namanya memang panjang tapi cukup panggil Romo Riki saja. Beliau baru saja di tahbiskan menjadi Imam pada tanggal 22 Agustus 2012 yang lalu di Gereja Santo Mikael – Paroki Kranji.

Untuk tugas pertama Romo Riki ditempatkan di Paroki kita, Paroki Santo Thomas Rasul.

 

 

Romo Silvester Hari Pamungkas, Pr.

Lahir : Jakarta, 31 Desember 1980

Tahbisan : Jakarta, 18 Agustus 2009

Karya di Paroki Sathora : 2009 – 2012

Panggilan beken romo ini adalah Romo Syl. Sampai kelas II SMU Kolse Gonzaga, Syl belum tertarik menjadi Imam walau letak sekolahnya bersebelahan dengan Seminari Menengah Wacana Bhakti. Baru ketika kelas III, Syl mulai intensif berkenalan dengan para seminaris. Hal itu karena ia selalu datang terlalu pagi dan kemudian rutin masuk ke kapel seminari sambil menunggu bel masuk.

Pengalamannya yang paling mengesan adalah ketika menjalani masa diakonat di Paroki Rasul Barnabas, Pamulang, tahun 2009. Frater Syl merasakan sungguh-sungguh bagaimana perjuangan para imam Hati Kudus dan umat dalam membangun gereja, baik dalam arti fisik ataupun dalam arti tubuh mistik Kristus. Ia melihat bagaimana umat paroki Barnabas bekerja sama secara tulus dengan masyarakat sekitar yang beragama lain. Dari pengalaman itu, ia kemudian mendapatkan sebuah pedoman hidup, yaitu bahwa “Allah tetap berkarya dan menemaninya dalam segala situasi”.

Romo Rofinus Romanus Rasa, CICM.

Lahir : Lembata, NTT, 1 Maret 1971
Tahbisan : Jakarta, 13 Agustus 2002
Karya di Paroki Sathora : 2009 – 2011

Awalnya sebagai anak kecil, sulung dari lima bersaudara itu, sangat ingin bisa naik sepeda motor. Kebetulan, ia sering melihat pastor parokinya, yang selalu naik motor bila berkeliling di Pulau Lembata. Demikianlah, Romanus, yang akrab disapa “Ipong” itu, kemudian masuk ke tarekat CICM. Tak dinyana, Ipong dikirim untuk menjalanipendidikan imamatnya di Filipina Selatan. Lima belas tahun ia hidup di negara itu. Baru pada Mei 2009, Fr. Ipong pulang ke Indonesia untuk kemudian ditahbiskan pada 13 Agustus 2009 di Jakarta.

Pengalaman paling menarik bagi Romo Ipong adalah berbagai tantangan saat berada di pedalaman Filipina. Ia harus mempelajari bahasa dan adat istiadat baru. Namun disinilah Romo Ipong kemudian merasakan bahwa kita semuaperlu mengerti dan memahami orang lain. “Satu-satunya cara untuk bisa berbaur dengan orang lain adalah mengerti bahasa dan adat istiadatnya,” ujarnya.

Romo Johan Ferdinand Wijshijer, Pr.

Lahir : Jakarta, 13 September 1973
Tahbisan : Jakarta, 27 November 2002
Karya di Paroki Sathora : 2002 – 2004

PASTOR FE adalah panggilan akrabnya. Nama aslinya agak aneh di telinga orang Indonesia. Johan Ferdinand Wijshijer memang dilahirkan dari seorang ayah bernama Frederik Wijshijer dan seorang ibu bernama Caeciia Sudiyanti.

Masa kecilnya dilalui di Jakarta. la menyelesaikan studi filsafat di STF Driyarkara (1997) dan teologi di Fakultas Teologi Wedhabhakti, Kentungan, Yogyakarta (2002). Sejak masih menjadi frater, Fr. Fe aktif dalam berbagai kegiatan sosial. la pernah menjadi peneliti di Pusat Studi Hak Asasi Manusia, Tebet, dan ikut dalam Pertemuan Regional Peneliti Hak Asasi Manusia Asia-Pasific, di Osaka, Jepang. Ketika belajar teologi di Yogyakarta, Fr. Fe juga aktif dalam Forum Sosial Yogya, memimpin Jurnal Forsos, dan ikut merintis sebuah bimbingan belajar bagi anak-anak miskin dan tukang becak di Kentungan.

Keragaman aktivitasnya ini membuat Fr. Fe, setelah ditahbiskan, mendapat berbagai pengalaman kerja yang unik, yaitu menjadi ‘misionaris’ local dari KAJ ke Papua.

Romo Ludo Reekmans, CICM.

Lahir : Leuven, Belgia, 13 Agustus 1943
Tahbisan : Scheut, 4 Agustus 1968
Karya di Paroki Sathora : 2001 – 2007

WAKTU MUDA, LUDO yang lahir di Leuven, Belgia, ini adalah jago bola voli. Bersama klub sekolahnya, SIPICO, ia pernah ikut dalam kompetisi nasional Belgia.

Setelah menyelesaikan novisiat, filsafat di Nijmegen, Belanda, dan teologi di Leuven, Belgia (1969), dan ditahbiskan menjadi imam (1968), Pastor Ludo kemudian bekerja di Belgia. Baru pada 17 Maret 1970, ia berangkat ke Indonesia dan langsung bertugas Tana Toraja, Sulawesi Selatan.

Salah satu tugas yang sering diemban oleh Pastor Ludo adalah membangun sebuah paroki. Oleh karena itu, Pastor Ludo sangat memahami bagaimana karakter
umat, karena dari dasar karakter itulah sebuah Gereja mendapatkan kekuatannya. Hal itu pulalah yan selalu menjadi concern-nya hingga kini.

Romo Christoforus Joseph Harry Liong, Pr.

Lahir : Jakarta, 14 Januari 1969
Tahbisan : Jakarta, 16 Agustus 1999
Karya di Paroki Sathora : 1999 – 2002

PASTOR HARRY bukan berasal dari keluarga Katolik. Namun benih-benih panggilannya mulai tumbuh waktu duduk di kelas IV SD Strada, Taman Sari, Jakarta.

Setelah tahun 1988, Harry menyelesaikan SMA Don Bosco, Mangga Besar, ia lalu masuk ke KPA Seminari Wacana Bhakti, Pasar Minggu. Kemudian, ia ke STFDriyarkara, Jakarta (lulus 1994) dan melanjutkan ke Fakultas Teologi, Wedhabhakti, Yogyakarta (lulus tahun 1997).

Romo Sylvester Nong, Pr.

Lahir : Sikka, Flores, 4 Agustus 1948
Tahbisan : Wamena, Papua, 7 Juni 1981
Karya di Paroki Sathora : 1998 – 2001

PERJALANAN HIDUP Pastor Nong sebelum maupun sesudah menjadi imam sangatlah beragam. Tidak heran, kalau kemudian ia memiliki moto: “hidup adalah perjuangan, usaha terus menerus untuk memuliakan Tuhan dan menjadi berkat bagi sesama”.

Setelah tamat seminari menengah, tahun 1969, Nong masuk ke seminari tinggi St. Paulus Ledalero, Flores. Setelah tamat tahun 1977, Fr. Nong ditugaskan ke Kokono (Mimika) untuk Tahun Orientasi dan kemudian menggantikan tempat pelayanan Pastor Michael Angkur, OFM (sekarang Uskup Bogor) di Hepuba, Wamena, Lembah Baliem di Pedataman Papua. Setelah 2 tahun di Papua, Fr. Nong meneruskan studi teologi di seminari tinggi St. Paulus, Pineleng, Manado.

Setelah menjadi imam (1981), Pastor Nong bertugas di berbagai wilayah Nusantara. Itulah mengapa, Pastor Nong selalu karyanya sebagai tugas yang terus menerus untuk memuliakan Tuhan, di mana saja.

Romo Martinus Hadiwijoyo, Pr.

Lahir : Yogyakarta, 26 Februari 1947
Tahbisan : Jakarta, 4 Juli 1984
Karya di Paroki Sathora : 1998 – 2001

PERJALANAN PANGGILAN imamat Pastor Hadi unik. Setelah lulus dari Seminari Menengah Mertoyudan tahun 1966, ia masuk ke biara MSF. Namun, pada tahun 1974, ia keluar dari biara MSF untuk bekerja membantu orang tua. Baru tahun 1981, Hadi melanjutkan pendidikannya pada STFT Kentungan, Yogyakarta, hingga selesai tahun 1984.

la memiliki motto imamat, yaitu “supaya kamu pergi dan menghasil-kan buah (Yoh 15: 16b)”. kekhusuan Pastor Hadi adalah kemampuan-nya untuk ‘menjaring’ anak-anak muda untuk menjadi imam atau suster melalui organisasi anak muda Tunggal Hati Seminari (untuk panggilan imamat), dan organisasi anak muda Tunggal Hati Maria (untuk panggilan suster).

Romo Thomas Aquino Murdjanto Rochadi Widagdo, Pr.

Lahir : Ganjuran, Yogyakarta, 15 Mei 1958
Tahbisan : Jakarta, 15 Agustus 1986
Karya di Paroki Sathora : 1994 – 1999

NAMA PASTOR ROCHADI panjang. Namun, dalam nama itu terkandung arti sebuah cita-cita, yaitu menjadi “anak yang selalu meluhurkan Tuhan (berdoa) sehingga Roh Terang menjadi bijaksana.” Sejak kecil sudah berangan-angan menjadi pastor karena Pastor itu sesuci malaikat, simpatik dan disayang umat.

Masuk STF Driyarkara, Jakarta, tahun 1979 dan lulus dari Fakultas Teologi Wedabhakti, Yogyakarta, tahun 1986. “Waktu mulai di Sathora, umatnya masih ‘muda’ dan belum memiliki suatu tradisi liturgi. Dewan Paroki juga belum kuat. Saat itu, kondisi umat Sathora belum mandiri, misioner, berdaya pikat dan berdaya tahan, serta belum mantap. Saatnya kini umat Sathora menjadi umat yang sungguh hidup rukun,” begitu ungkapya.

Romo Yoseph Wiyanto Harjopranoto, Pr. (Alm.)

Lahir : Semarang, 7 April 1942
Tahbisan : Jakarta, 25 Januari 1978
Karya di Paroki Sathora : 1994 – 2003
Wafat : Jakarta, 15 Maret 2003

SETELAH LULUS SMA Warga di Solo pada tahun 1963, Wiyanto bekerja di Bank Perkembangan Ekonomi Indonesia (BPEI) Semarang. Kemudian tahun 1967 pindah ke BPEI Jakarta. Ketika BPEI bangkrut, Wiyanto kemudian kerja di Kompas Gramedia. Sambil bekerja, ia mengikuti pendidikan teologi di STF Driyarkara dan ber-sahabat erat dengan Romo LBS Bambang Wiryowardoyo, Pr. Berkat dukungan kakaknya Romo Abbas Frans Harjowiyoto, OCSO, Mgr. V. Kartosiswoyo, Pr, Romo Magnis Suseno, Sj. Romo Kersten SJ (alm), serta Romo Verhaak, SJ, Wiyanto akhirnya ditahbiskan imam di Paroki Katedral, Jakarta, pada tanggal 25 Januari 1978.

Selama hidupnya Romo Wi memiliki perencanaan dan program-program yang cukup tajam serta visi yang jauh ke depan. la berani mengambil keputusan besar dan menanggung segala konsekuensinya. Itu tampak ketika membangun gereja Pulomas, Kelapa Gading dan Wisma Unio Indonesia serta berusaha membangun proyek pusat pembuatan Orgel Pipa di Indonesia. Banyak karya besar yang dihasilkannya.

Ketika stroke menimpanya, maka ketabahan dalam penderitaan adalah kekuatannya. Itu dijalaninya selama bertahun-tahun. Sebelum Tuhan memanggilnya pulang,
Romo Wi masih berkesempatan untuk merayakan Pesta Perak Imamatnya yang diselenggarakan pada tanggal 25 Januari 2003. Perayaan Ekaristi pada saat itu langsung dipimpin oleh Bapak Uskup Julius Kardinal Darmaatmaja, SJ, dengan sangat meriah. Romo Wi merasa sangat bahagia seperti halnya yang pernah dirasakan oleh Santo Petrus ketika Yesus dipermuliakan di Gunung Tabor yang merupakan tema misa minggu itu.

Romo Yohanes Hadi Suryono, Pr.

Lahir : Jakarta, 21 Mei 1963
Tahbisan : Jakarta, 18 Agustus 1992
Karya di Paroki Sathora : 1992 – 1997

PANGGILAN AKRABNYA, Pastor Hadi. Tapi sesungguhnya, nama Hadi Suryono memiliki arti “ada surya atau sinar (suryono) yang suci (adi)”. Hobinya adalah berolah raga sepakbola dan bulutangkis, membaca buku, serta mendengarkan musik jazz.

Kesan mengenai umat Sathora: “Mereka adalah umat yang aktif dan dinamis. Semoga mereka dapat ‘menjala’ umat agar menjadi teladan bagi paroki-paroki lain. Kekuatan umat Sathora adalah keakrabannya. Itu harus tetap dipelihara.

Romo Lodewijk Bambang Santosa Wiryowardoyo, Pr.

Lahir : Yogyakarta, 26 Agustus 1946
Tahbisan : Jakarta, 25 Januari 1978
Karya di Paroki Sathora : 1985 – 1994

PASTOR WIRYO adalah panggilan akrabnya. la adalah alumnus dari STF Driyarkara, Jakarta (1974) dan STFT Santo Paulus, Yogyakarta (1978). Motto imamatnya adalah “aku hanya pekerja di kebun anggur Tuhan”.

Pastor Wiryo sangat dikenal sangat setia dengan rekan-rekan imamatnya, para imam diosesan. Pengalamannya yang banyak dalam kehidupan kerja yang ‘keras’ sebelum masuk seminari, telah membuat Pastor Wiryo sangat akrab dengan mereka yang membutuhkan banyak pertolongan.

Romo John O’Doherty, OMI.

Lahir : Brisbane, Australia, 27 April 1934
Tahbisan : Melbourne, Australia, 22 Juli 1967
Karya di Paroki Sathora : 1984 – 1985

PASTOR JOHN O’DOHERTY ini sangat suka berlayar. Waktu di Australia, ia sering melaksanakan tugas pelayanannya dengan mengarungi laut dan selat.

Sejak di universitas, Pastor John sudah belajar Bahasa Indonesia dan sangat ingin bekerja di Indonesia. Tahun 1982, ia datang ke Indonesia dan bekerja di Cilacap, Jawa Tengah. Dari situ, ia pindah ke Cengkareng dan lalu ke Paroki Sathora.

Perhatiannya pada pendidikan Imam sangat besar sehingga ia ditunjuk menjadi pendidik para imam OMI di Yokyakarta. Pastor John ini sangat menaruh perhatian pada kemajuan Liturgi dan Prodiakon.

Romo Peter John McLauglin, OMI.

Lahir : Perth, Australia, 6 Desember 1939
Tahbisan : Roma, Italia, 18 Desember 1965
Karya di Paroki Sathora : 1981 – 1984

PASTOR JOHN MCLAUGHLIN ini dikenal halus tutur katanya. Bersama dengan para anggota Badan Pengurus Gereja dan Dana Papa (PGDP) Roma Katolik, yang dibentuk oleh Uskup Agung Jakarta, Mgr. Leo Soekoto, SY (alm.) pada 27 Agustus 1981, Pater John mengawali lahirnya Paroki St. Thomas Rasul. Waktu itu, para anggota PGDP terdiri dari Pastor John (Ketua), Bapak B. Prasadja (Wakil Ketua), Bapak Andreas Luzar SH (Sekretaris), Bapak Andi Suwandi (Bendahara), Bapak Lummy (Anggota) dan Bapak F.V.Datubara (Anggota). Merekalah para pejuang awal paroki.

Pastor John sendiri memiliki ciri khusus. Di beberapa tempat, ia dijuluki “Romo Peternak Ayam” karena mengusahakan peternakan ayam potong sebagai salah satu sarana pengumpulan dana penunjang kegiatan Gereja.