Total Calories: 90 drastic weight loss Capsiplex Reviews-Quickly Weightloss Recommendations weight loss remedies The next supplement is CLA (Conjugated Linoleic Acid). CLA is a naturally sourced found in animal and dairy fats such as beef, dairy products, poultry, eggs and corn oil. The human intestine produces CLA naturally from linoleic acid. It doesn t make a big fat cell little, what it does is prevent a little fat cell from getting big. There have already been studies that have shown that to truly obtain the desired effect of CLA on the body fat you need to take around 4,000mg, or 4g of CLA daily. Since CLA is a fatty acid, you should take it regularly for about 2-3 weeks and let for it to accumulate within your body before you start to see results. It s been suggested to take some kind of fiber supplement or raise the amount of fiber in your daily diet to help you aid in the “Extraction” of the metabolized fat from your body. Honestly though, that is something that should be done regardless of form of weight loss supplement. It truly plays a key role in the losing unwanted weight. ultrasound for fat loss · Nausea is a common problem. Taking the medication with food helps and this side effect. It usually passes in time. healthy weight loss supplements advancements, and most importantly Financial Freedom in a time where the economy has most peopleout of work. garcinia cambogia extract safety weight loss Paroki Santo Thomas Rasul |  Sejarah Paroki

Sejarah Paroki



A. Mulai Berdirinya

Pada tanggal 27 Agustus 1981 dibentuklah Paroki Santo Thomas Rasul berdasarkan surat keputusan Uskup Agung Jakarta Mgr. Leo Soekoto SJ dengan No.: 874/3.27.35/81. Beliau pulalah yang memberikan nama pelindung bagi Paroki ini. Pada saat yang sama, secara resmi dibentuk Pengurus Gereja dan Dana Papa Roma Katolik (PGDP) Paroki Santo Thomas Rasul dengan ketua Pastor John McLaughlin OMI dan wakil ketua adalah Bapak B. Prasadja.

Paroki Santo Thomas Rasul merupakan pemekaran dari Paroki Trinitas,Cengkareng. Saat itu, Wilayah Bojong lndah terdiri dari tujuh Lingkungan dengan jumlah umat kurang dari 1.000 orang. Atas prakarsa Bapak Petrus Mudjio dan kawan-kawan, diusulkan agar Wilayah Bojong lndah dikembangkan menjadi Paroki. Kegiatan Misa dilakukan di sekolah Trinitas yang mampu menampung 150 sampai 200 orang umat. Karena kekurangan tempat, maka diadakan Misa tambahan pada hari Sabtu sore di Jalan Tarnan Jeruk 11/21, di rumah keluarga Bapak Hendra Susanto. Kegiatan ini berjalan selama dua tahun.

Pada tahun 1983 dibentuk Panitia Pembangunan Gereja (PPG), dengan ketuanya Bapak Theodorus Wirawan. Masa bakti PPG pertama ini berakhir pada tahun 1984. PPG yang pertama ini mendapat sumbangan sebidang tanah dari Bapak Agustinus Mangkuorahardjo seluas lebih kurang 5.800 meter persegi di daerah Klingkit, Bojong Indah. Pada tahun yang sama (1984) dibentuk PPG yang kedua dengan susunan pengurus sebagai berikut:

  • Ketua : Bapak Andi Suwandi
  • Sekretaris : Bapak Ignatius Aryana
  • Bendahara 1 : Bapak Kurniawan Lasmono
  • Bendahara 2 : Bapak Eko Lesmana
  • Seksi Dana : Ibu Agus Setiawan

Bapak Uskup mendorong supaya Paroki Santo Thomas Rasul mempunyai pastoran, karena akan ditugaskan seorang pastor tetap di paroki ini. Atas usaha PPG II dibelilah rumah seluas 370 meter persegi di Jalan Kacang Panjang Raya nomor 2 seharga Rp. 23.000 000,-. Untuk membangun pastoran yang juga berfungsi sebagai sekretariat, Keuskupan Agung Jakarta membantu dana sebesar Rp. 15.000.000,- dan sisanya diusahakan sendiri oleh PPG II.

Pada bulan Februari 1985 dilakukan serah terima pelayanan penggembalaan umat dari Pastor John O’Doherty OMI kepada Pastor LBS Wiryowardoyo Pr sebagai Pastor Kepala baru dengan wakilnya Bapak FA Soeripto. Pada awalnya Paroki Santo Thomas Rasul terdiri dari tiga Wilayah dengan jumlah umat 2.050 orang. Perayaan Ekaristi dilaksanakan di tiga tempat yang berbeda dengan jadwal sebagai berikut:

  • Misa hari Sabtu di Sekolah Trinitas pada pukul 18.00
  • Misa hari Minggu di Sekolah Lamaholot pada pukul 08.00 dan di Taman Kota pada pukul 18.00

Dalam masa bakti ini berlangsung pemekaran Wilayah sebagai berikut:

  • Wilayah I : Bojong Indah dimekarkan menjadi Wilayah I dan IV
  • Wilayah II : Bojong Indah dimekarkan menjadi Wilayah II dan V
  • Wilayah III : Taman Kota (tidak berubah)
  • Wilayah IV : Kosambi Baru (meskipun baru mempunyai 10 KK)

B. Pembangunan Fisik Gereja Santo Thomas Rasul

Pada tahun 1985, Pengurus Dewan Parok dan Panitia Pembangunan Gereja merencanakan pembangunan gedung gereja. Tanah di Klingkit tidak mungkin untuk dibangun gereja, karena surat tanah yang belum tuntas, faktor lingkungan yang kurang mendukung dan sosialisasi yang sulit. Maka ditempuh usaha baru. Bapak Mangkuorahardjo mengantar Romo LBS Wiryowardoyo Pr menjumpai Bapak Budi Brasali dari PT Metropolitan Development. Sebagai hasilnya didapat sebidang tanah seluas 5.680 meter persegi yang terletak di Jalan Pakis Raya G5/20 (lokasi gereja sekarang) seharga Rp. 100.000.000,-. Untuk membayar tanah tersebut diadakan penjualan kupon berhadiah seharga Rp 5.000,- per kupon yang dijual di seluruh gereja di Keuskupan Agung Jakarta, bahkan sampai ke Bandung dan ke Cirebon. Dari penjualan kupon tersebut terkumpul dana Rp. 90.000.000,- dan sisa Rp. 10.000.000,- mendapat bantuan dan Keuskupan Agung Jakarta.

Untuk menyatukan umat, agar dapat merayakan Ekaristi secara bersama-sama maka pada tahun 1987 di atas tanah yang sudah dibeli, dibangunlah bedeng. Bedeng itu mulanya berukuran 18 meter kali 18 meter dan berkembang menjadi 18 meter kali 30 meter. Bangunan ini didirikan dengan biaya yang sangat minim, kayunya diambil dari bongkaran Universitas Tarumanegara, dengan bantuan Dr. Arry Ramba. Lokasi bekas bedeng tersebut kini menjadi tempat parkir. Tahun 1988 dilakukan peletakan batu pertama oleh Bapak Uskup Agung Jakarta Mgr. Leo Soekoto SJ. Tetapi pembangunan tidak langsung dilaksanakan karena menunggu pembangunan Gereja Trinitas selesai. Supaya pembangunan bisa tetap berjalan, dibangunlah Goa Maria terlebih dahulu, yang terletak di belakang gereja.

Bapak Djohan Gunawan, seorang arsitek, menerima tugas untuk merancang gedung gereja Santo Thomas Rasul. Penyelesaian dan persetujuan desain gambar fisik gereja membutuhkan waktu setahun dengan terus-menerus berkomunikasi dengan pihak Keuskupan. Pada tahun 1990 dimulailah pembangunan gereja dengan menggunakan Bapak Djohan Gunawan dan Ibu Irene Gunawan sebagai arsitek. Perhitungan struktur dilakukan oleh Ibu Santi dan bertindak sebagai pengawas adalah Bapak Budiono Subekti. Pembangunan konstruksi dan pondasi dipercayakan kepada kontraktor PT Dimensi. Setelah pembangunan fisik selesai. maka dilanjutkan ke tahap akhir yang dikerjakan oleh Bapak Busman. Bapak Uskup Agung Mgr. Leo Soekoto SJ sendiri pernah datang untuk meninjau serta memberikan pengarahan selama dua jam. Akhirnya pada bulan April 1992 selesailah bangunan fisik gereja ini.

Selama masa pembangunan gereja, PPG banyak mengalami kendala, baik dalam segi dana maupun sosialisasi. Tetapi berkat rahmat Tuhan, khususnya melalui novena Hati Kudus Yesus, selama sembilan Jumat pertama berturut-turut, maka semua kendala dapat diatasi. Dan akhirnya berdirilah sebuah gedung gereja yang megah dengan luas bangunan 1.200 meter persegi yang dapat menampung seribu orang.
Perayaan Ekaristi pertama kali diadakan di dalam gereja baru ini pada hah Minggu Palma (April 1992). Dan pada tanggal 23 Agustus 1992 gereja Santo Thomas Rasul — Bojong Indah diresmikan dan diberkati oleh Bapak Uskup Agung Jakarta, Mgr. Leo Soekoto SJ

C. Perkembangan Umat Paroki Santo Thomas Rasul

Pada tahun 1989, jumlah umat Paroki Santo Thomas Rasul mencapai 3.707 orang, yang tersebar dalam enam Wilayah. Pada tahun 1990 diadakan
penambahan dua Wilayah, yaitu: Wilayah VII (meliputi: Kembangan dan sebagian Puri Indah) dan Wilayah VIII (meliputi: sebagian Puri Indah dan Puri Kencana). Kedua Wilayah ini sebelumnya adalah bagian dari Paroki Maria Bunda Karmel (MBK), Tomang. Penambahan kedua Wilayah ini dilangsungkan dalam perayaan Ekaristi di aula SLB Pangudi Luhur yang dipimpin Pastor Kutzruiter O.Carm dari Paroki Maria Bunda Karmel. Kemudian Paroki Santo Thomas Rasul bertambah lagi satu Wilayah, yakni: Wilayah IX, yang meliputi Taman Permata Buana dan Puri Media. Untuk mempermudah umat Wilayah VII, VIII dan IX ke gereja, Pengurus Dewan Paroki kemudian membeli tanah seharga Rp. 13.000.000,- untuk membangun jalan penghubung dari tanggul menuju perumahan Carina Sayang.

Setelah itu, diadakan pemekaran Wilayah Kosambi Baw menjadi dua Wilayah, yaitu Wilayah VI dan X. Dengan demikian terdapatlah 10 Wilayah yang terdiri dari 45 Lingkungan dengan jumlah umat terus meningkat dari 5.272 orang umat pada tahun 1991, menjadi 5.753 orang umat pada tahun 1992.

Pada tanggal 6 September 1992, Romo Hadi Suryono Pr yang baru ditahbiskan menjadi imam diperbantukan di paroki ini, dan berkonsentrasi pada pengembangan iman anak-anak serta kaum muda, sedangkan Romo LBS Wiryowardoyo Pr berkonsentrasi pada Misa Lingkungan.

Pada tanggal 15 Agustus 1994, berdasarkan surat keputusan Bapak Uskup Agung Jakarta, Mgr. Leo Soekoto SJ bernomor 1257/41/94, ada pergantian Pastor Kepala yang merangkap Ketua Pengurus Dewan Paroki dari Romo LBS Wiryowardoyo Pr kepada Romo Th. Aq. M. Rochadi Pr dengan Wakil Ketua Pengurus Dewan Paroki adalah Bapak FX M. Sumardjo. Jumlah umat saat itu sebanyak 6.685 orang. Romo LBS Wiryowardoyo Pr mendapat tugas bam di Paroki Cijantung. Pada tahun ini pula, Romo Yoseph Wiyanto Hardjopranoto Pr bergabung di Paroki Bojong Indah. Pada bulan Agustus 1994 jumlah umat tercatat sebanyak 6.685 orang.

Bulan Agustus 1997 diadakan pemekaran Wilayah VIII menjadi Wilayah VIII dan XI, sehingga pada saat itu terdapat 11 Wilayah dengan 64 Lingkungan. Pada September 1997 Romo Hadi Suryono Pr mendapat tugas baru di Paroki Jati Bening. Sebagai penggantinya ditempatkan Romo Eko Susanto Pr. Pada bulan Oktober 1998 Romo Eko Susanto Pr digantikan Romo M. Hadiwijoyo Pr. Jumlah umat pada saat itu adalah 8.113 orang. Namun gedung gereja hanya dapat menampung 1.000 orang setiap kali Misa. Oleh karena itu dicari jalan keluar dengan cara mengadakan pemekaran Paroki Santo Thomas Rasul.

Maka pada tanggal 24 Desember 1996 dibentuklah Panitia Pembangunan Gereja diketuai oleh Bapak Benny Tani. Panitia Pembangunan Gereja yang dirintis oleh Bapak Yoppy dengan teman-temannya, bertugas melakukan pemekaran Paroki Santo Thomas Rasul. Rencananya paroki baru itu akan meliputi Wilayah IV (Semanan dan Kresek), Wilayah VI dan X (kedua Wilayah ini terletak di Kosambi) serta mencakup sebagian umat dari Paroki Tangerang dan Paroki Ciledug.

Pada tanggal 1 September 1999 Romo M. Hadiwijoyo Pr menjadi Ketua Pengurus Dewan Paroki, sekaligus sebagai Pastor Kepala, rnenggantikan Romo Th. Aq. M. Rochadi Pr yang mendapat tugas baru di Paroki Santo Aloysius Gonzaga — Cijantung. Wakil Ketua PDP pada waktu itu dipegang oleh Bapak Budiono Subekti. Pada tanggal yang sama ditempatkan pula Romo CJ Harry Liong Pr untuk membantu di Paroki Santo Thomas Rasul. Pada tahun ini juga diadakan pemekaran Wilayah IX, yaitu menjadi Wilayah IX dan Wilayah XII. Karena Bapak Benny Tani diangkat menjadi anggota Pengurus Dewan Paroki, maka pada bulan Februari 2001, maka dibentuklah PPG baru yang diketuai Bapak FT Rudy Suhartono.

Pada tanggal 19 Januari 2001, Romo Ludo Reekrnans CICM mulai berkarya di Paroki Santo Thomas Rasul. Kemudian ia diangkat menjadi Ketua Pengurus Dewan Paroki sekaligus Pastor Kepala pada tanggal 1 September 2001 menggantikan Romo Hadiwijoyo Pr yang pindah tugas ke Paroki Keluarga Kudus — Pasar Minggu. Wakil Ketua Pengurus Dewan Paroki tetap dijabat oleh Bapak Budiono Subekti. Pada saat yang sama ditempatkan Romo Sylvester Nong Pr untuk berkarya di paroki ini.

Dari data statistik Paroki Santo Thomas Rasul tahun 1998 tercatat ada 8.601 orang, dan pada tahun 1999 jumlah umat bertambah menjadi 9.221 orang. Pada akhir tahun 2000 umat berjumlah 9.682 orang, tahun 2001 berjumlah 12.657 orang dan pada akhir tahun 2002 sudah mencapai 13.196 orang. Maka pada kepengurusan Dewan Paroki tahun 2001 — 2004 diadakan pemekaran Wilayah dari 16 Wilayah menjadi 22 Wilayah, yang terdiri dari 103 Lingkungan. Atau dengan kata lain, ada 13 Wilayah dengan 66 Lingkungan di Bojong Indah dan 9 Wilayah dengan 37 Lingkungan di calon paroki Dun Kosambi.

Untuk mempermudah mengingatnya, tiap Wilayah mendapat nama Santo atau Santa pelindung. Untuk Paroki Santo Thomas Rasul:

  • Wilayah I menjadi Wilayah Santo Yohanes (6 Lingkungan)
  • Wilayah II menjadi Wilayah Santa Lucia (6 Lingkungan) dan Wilayah Santa Elisabeth (7 Lingkungan)
  • Wilayah III menjadi Wilayah Santo Yosef (4 Lingkungan)
  • Wilayah V menjadi Wilayah Santo Paulus (3 Lingkungan) dan Wilayah Santo Stefanus (4 Lingkungan)
  • Wilayah VII menjadi Wilayah Santo Ignatius (4 Lingkungan)
  • Wilayah VIII menjadi Wilayah Santo Timotius (5 Lingkungan)
  • Wilayah IX menjadi Wilayah Santo Dominikus (8 Lingkungan)
  • Wilayah XI menjadi Wilayah Santa Klara (6 Lingkungan)
  • Wilayah XII menjadi Wilayah Santo Petrus (5 Lingkungan)
  • Wilayah XV menjadi Wilayah Santo Antonius (4 Lingkungan)
  • Wilayah XVI menjadi Wilayah Santa Theresia (4 Lingkungan)

Untuk Stasi (calon Paroki saat itu) Santo Matias Rasul:

  • Wilayah IV menjadi Wilayah Santa Maria (3 Lingkungan) dan Wilayah Santo Filipus (4 Lingkungan) dan Wilayah Santo Petrus (4 Lingkungan)
  • Wilayah VI menjadi Wilayah Santa Angela (4 Lingkungan)
  • Wilayah X menjadi Wilayah Santo Mateus (6 Lingkungan) dan Wilayah Santo Lukas (4 Lingkungan)
  • Wilayah XIII menjadi Wilayah Santa Bernadette (4 Lingkungan) dan Wilayah Santo Antonius P. (4 Lingkungan)
  • Wilayah XIV menjadi Wilayah Santo Albertus (4 Lingkungan)

Sejak November tahun 2005, dimana setelah stasi Santo Matias Rasul diresmikan menjadi paroki, maka beberapa Lingkungan dalam lingkup paroki Santo Thomas Rasul terus dimekarkan. Pemekaran beberapa Lingkungan ini selanjutnya juga diikuti dengan pemekaran Wilayah. Dengan demikian, sejak tanggal 1 Januari 2008, ada 16 Wilayah dengan 76 Lingkungan di paroki Santo Thomas Rasul, yaitu:

  • Wilayah Santo Yohanes : 6 lingkungan
  • Wilayah Santa Lucia : 6 lingkungan
  • Wilayah Santa Elisabeth : 7 lingkungan
  • Wilayah Santo Yosef : 4 lingkungan
  • Wilayah Santo Paulus : 3 lingkungan
  • Wilayah Santo Stefanus : 4 lingkungan
  • Wilayah Santo Ignatius : 5 lingkungan
  • Wilayah Santo Timotius : 5 lingkungan
  • Wilayah Santo Dominikus : 6 lingkungan
  • Wilayah Santa Katarina : 5 lingkungan
  • Wilayah Santa Klara : 4 lingkungan
  • Wilayah Santo Benediktus : 4 lingkungan
  • Wilayah Santo Petrus : 5 lingkungan
  • Wilayah Santo Lukas : 4 lingkungan
  • Wilayah Santo Antonius : 4 lingkungan
  • Wilayah Santa Theresia : 4 lingkungan

Umat dapat mengikuti Perayaan Ekaristi di Gereja Santo Thomas Rasul dengan jadwal sebagai berikut :

  • Hari Sabtu : Pukul 16.00 dan pukul 18.00
  • Hari Minggu : Pukul 06.00, pukul 08.00 dan pukul 18.00
  • Hari Senin : Pukul 19.00
  • Hari Selasa : Pukul 05.45
  • Hari Rabu : Pukul 05.45
  • Hari Kamis : Pukul 05.45
  • Hari Jumat : Pukul 19.00

Sejak tanggal 1 Januari 2008, Perayaan Ekaristi pada hari Minggu ditambah satu kali, yaitu pada pukul 16.00. Dengan demikian, total Perayaan Ekaristi pada hari Sabtu/Minggu menjadi 6 kali.

D. Arah Selanjutnya

Secara fisik, umat Paroki Bojong Indah mampu membangun sebuah gedung gereja yang megah. Namun perlu diingat bahwa pembangunan umat tidak berhenti di sini saja, tidak sekedar membangun fisik, tetapi lebih dari itu,
yaitu pembangunan persaudaraan Kristiani sejati. Karena Gereja adalah Umat Pilihan Allah yang percaya pada Yesus Kristus dan yang terus-menerus dijiwai oleh Roh Kudus. Didalam persekutuan inilah, Gereja — kita semua — hendaknya mampu memberikan kasih persaudaraan kepada sesamanya. Gereja seharusnya secara nyata mewujudkan pribadi Kristus yang menyelamatkan dunia berkat kesaksian hidup dan karya seluruh umatNya.

Gereja Santo Thomas Rasul masih relatif muda yang terus-menerus mengembangkan diri untuk memiliki tradisi hidup menggereja yang kuat. Maka pembenahan tata kerja paroki menjadi sangat penting. Potensi umat pada umumnya, dan khususnya kaum muda serta keluarga-keluarga muda sangat besar, maka perlu cara hidup dan irama langkah disesuaikan secara berkesinambungan.